Perkembangan teknologi memudahkan pertukaran informasi dalam dunia sekarang ini. Dampaknya, individu lebih mudah dalam mengakses gaya hidup, mempelajari banyak hal baru dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat mengenai kehidupan seseorang secara intens—misalnya tokoh idola, membuat kita akhirnya memiliki keinginan untuk memiliki hal yang serupa, misalnya memiliki baju yang indah, prestasi yang cemerlang serta tubuh yang ideal. Namun, “tubuh yang ideal” ini kadang memicu masalah psikologis yang problematik, terutama bagi remaja.
Masa remaja merupakan masa mengeksplorasi hal yang akan dijadikan identitas, termasuk keinginan untuk memiliki tubuh yang ideal seperti idola. Dalam istilah yang digunakan oleh Carl Rogers, kita akan menciptakan ideal self, yaitu segala sesuatu yang kita inginkan dan kita dambakan terjadi dalam kehidupan kita. Namun pada kenyataannya, segala sesuatu yang ideal tidak bisa serta merta menjadi kenyataan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita hidup dengan konsep diri yang mencakup aspek keberadaan seseorang dan pengalaman seseorang yang dialami dalam kesadaran meskipun tidak semuanya dipersepsikan secara akurat. Konsep diri terbentuk dari lingkungan dan diri sendiri, bisa berupa pernyataan “Saya terlihat gemuk” atau “Saya payah.” Konsep diri berupa pandangan terhadap diri ini begitu memengaruhi perilaku dan emosi kita. Jika konsep diri mendekati ideal self, maka congruence terjadi; tetapi, jika konsep diri yang dimiliki dan ideal self berjarak, maka kita akan menjadi incongruence.
Mengacu pada kenyataan, mungkin saja tubuh yang kita miliki tidak sekurus gambaran ideal di media, karena ada sedikit kelebihan berat badan dan terlihat lebih berisi. Kesenjangan ini coba didekatkan dengan membuat diri semakin mendekati ideal self yang dicita-citakan misalnya bertubuh kurus/skinny, tanpa lemak dan terlihat bagus mengenakan outfit tertentu. Upaya untuk mendekatkan kesenjangan yang dilakukan misalnya mengurangi porsi makan, menghitung kalori yang masuk, hingga menjalankan diet ekstrim dengan hanya makan makanan tertentu saja. Pada beberapa orang, hal ini berakhir dengan gangguan makan berupa anoreksia.
Pada kasus anoreksia, umumnya individu mengalami gangguan makan yang disertai dengan ketakutan berlebih terhadap pertambahan berat badan, memiliki berat badan yang sangat rendah dan memiliki persepsi yang keliru terhadap pertambahan berat badan. Ketakutan untuk makan dan membatasi kalori merupakan upaya untuk lebih mendekatkan diri pada ideal self. Perilaku yang ditampilkan pun menjadi mengarah pada hal ekstrim, misalnya mengurangi minum, melakukan olahraga dengan berat, meminum minuman pencahar yang bertujuan untuk mengurangi berat badan dengan cepat hingga makan dengan porsi sangat sedikit agar tidak menambah kalori yang masuk.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Dengan kondisi gangguan makan seperti itu, penanganan lebih lanjut amat diperlukan, baik dari sisi medis maupun psikologis. Sisi medis bisa dilakukan oleh nutritionist/ahli gizi yang memberikan arahan pola makan dan diet yang tepat. Dari sisi psikologis, intervensi untuk mengatasi dimulai dari sesi konseling, terapi kognitif perilaku dan dukungan yang diberikan oleh orang terdekat. Dengan intervensi yang diberikan, semoga bisa membuat ideal self dan konsep diri menjadi lebih dekat dan congruence.
Anorexia taught me to love life and to realize that starving yourself to death is bloody waste of time. It’s awful and it hurts so many people around you. It’s a terribly selfish thing to do
Celia Imrie
aktris & penulis, penyintas anoreksia
