Dalam ruang publik yang bergerak cepat, respons terhadap suatu isu sering kali dituntut hadir dengan segera. Pernyataan dari pemangku kebijakan pun kerap menjadi bagian dari dinamika tersebut, sebagai cerminan kepedulian, sekaligus upaya merespons kebutuhan masyarakat. Namun, di tengah kecepatan ini, muncul pertanyaan reflektif: sejauh mana respons tersebut lahir dari pemahaman yang utuh terhadap realitas di lapangan?

Baca lebih lanjut

Sering kali kita tidak menyadari bahwa kata-kata penyemangat yang kita terima dari orang terdekat bisa menjadi pedang bermata dua. Kalimat yang meyakinkan bahwa kita pasti akan berhasil atau pengingat tentang betapa cemerlangnya rekam jejak kita di masa lalu sering kali diniatkan untuk membangun rasa percaya diri. Namun, dalam banyak kasus, dukungan semacam ini justru bertransformasi menjadi beban tak kasat mata yang menghimpit.

Baca lebih lanjut

Citra sebuah perusahaan sebagai tempat kerja kini tidak lagi cukup dibangun lewat laman resmi atau brosur perekrutan. Justru karyawanlah yang sering menjadi “wajah” paling nyata bagi publik. Melalui media sosial pribadi, mereka membagikan pengalaman sehari-hari di kantor—mulai dari cerita kerja, pencapaian, hingga rekomendasi produk. Fenomena ini dikenal sebagai Employee-Generated Content (EGC), yaitu konten yang dibuat dan dibagikan karyawan secara sukarela di akun pribadinya.

Baca lebih lanjut

Pengetahuan matematis dan penalaran matematis adalah kunci yang digunakan ketika kita ingin memikirkan bagaimana dunia kita tersusun. Individu yang percaya diri dalam penggunaan matematika bisa menjawab pertanyaan mengenai kuantitas, hubungan spasial dan strktural, serta pengukuran dan waktu. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa pemikiran matematis merupakan dasar baik dalam ilmu pengetahuan sains ataupun humaniora. Sebegitu pentingnya pemahaman matematika dalam kehidupan ini, tetapi mengapa sebagian dari kita merasa matematika itu begitu menakutkan?

Baca lebih lanjut

Kontak mata adalah perilaku komunikasi nonverbal yang penting yang sebagian besar dari kita menggunakannya dalam interaksi sosial. Kita tahu bahwa kontak mata membantu orang untuk mengkomunikasikan minat dan ketertarikan mereka terhadap pasangan berkomunikasi. Kontak mata juga penting untuk mengkomunikasikan ketertarikan dalam berinteraksi sosial dengan seseorang. Seringkali, kita harus menjaga kontak mata untuk memahami dan merespon terhadap petunjuk sosial dari orang lain. Kegagalan dalam melakukan kontak mata juga bisa disalah artikan oleh orang lain sebagai tidak tertarik ataupun tidak memperhatikan. Bagaimana dengan mereka yang hidup dengan autisme?

Baca lebih lanjut

Trigger Warning: Harap diperhatikan: artikel ini mungkin berisi pembahasan tentang bunuh diri, dan/atau referensi gangguan kesehatan mental lain yang mungkin menjadi pemicunya. Silakan lanjut membaca sesuai dengan pertimbangan Anda sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi kasus bunuh diri di Indonesia adalah 2,6 kejadian per 100 ribu penduduk, yang mana temasuk kategori rendah. Hasil riset mengenai bunuh diri di Indonesia mengemukakan bahwa keluarga pelaku bunuh diri cenderung enggan mengungkapkan fakta bahwa telah terjadi kasus bunuh diri dalam keluarganya karena merasa malu terhadap stigma negatif yang mungkin akan disematkan ke mereka. Fenomena ini memicu munculnya dugaan banyak kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan secara resmi sehingga mengesankan prevalensi bunuh diri di Indonesia berada dalam kategori rendah. 

Baca lebih lanjut

Pembahasan mengenai multikulturalisme di Indonesia mengundang keasyikan tersendiri, terutama jika kita menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda. Tulisan Johanes Yotam dan Eko Meinarno di edisi psyence.id sebelumnya mengenai multikulturalisme dapat dikategorikan sebagai buah pikir optimistis atas multikulturalisme itu sendiri. Multikulturalisme dijelaskan dapat dibangun dan dibentuk, memiliki banyak keuntungan psikologis, dan lain-lain. Bahkan pada tataran pembentukan rasa kebangsaan, tampaknya multikulturalisme adalah jawaban yang paling tepat saat ini. Namun, apakah membangun cara pikir multikulturalisme itu tidak mempunyai hambatan?

Baca lebih lanjut

Perspektif psikologi agak jarang dijadikan sarana untuk berkontribusi terhadap isu multikulturalisme. Padahal multikulturalisme diawali dari bagaimana individu melihat, merasakan, memahami, dan akhirnya bertindak terhadap keberagaman sosial yang ada. Secara khusus di Indonesia, tiap orang akan selalu beradaptasi dengan orang lain. Dimulai dari harus mengenali, memahami, dan menganalisis teman barunya.

Baca lebih lanjut

Pernahkah kalian merasa senang atau sedih ketika mendapat kabar dari idola kalian? Lalu, pernah juga terpikir kenapa kadang kita bisa merasa sangat dekat dan memiliki ikatan khusus dengan sosok idola? Kalau kata RAN, jauh di mata dekat di hati gitu, deh! Padahal kita tidak kenal dengan mereka dan, apalagi, mereka juga tidak kenal dengan kita sama sekali. Kenapa bisa begitu ya? Nah, istilah tepat untuk menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah parasocial relationship!

Baca lebih lanjut