Awal 2026 diwarnai ketegangan geopolitik ketika Presiden Donald Trump melontarkan ancaman terbuka yang dibalas serupa oleh pemimpin Iran. Situasi ini nyaris menyeret dunia ke ambang perang besar setelah perselisihan diplomatik cepat berubah menjadi adu kekuatan militer yang mematikan. Tragisnya, krisis ini dipicu oleh hal yang sangat manusiawi: kedua pihak enggan menurunkan ego dan gengsi politik. Pertanyaannya, bagaimana para pemimpin negara adidaya bisa terjerumus ke konflik sedestruktif ini?

Baca lebih lanjut

Setiap tahun ajaran baru, lingkungan kampus akan dipenuhi wajah-wajah baru. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang berhasil masuk ke kampus idaman. Tantangannya, banyak dari mahasiswa ini tidak berasal dari daerah sekitar kampus. Sering kali, mereka adalah perantau dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau. Maka, tidak mengherankan jika muncul berbagai situasi tak terduga yang menuntut kesiapan mental, terutama bagi mahasiswa itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Hujan datang lagi. Seolah ada tombol putar ulang yang macet, ditekan berkali-kali tanpa niat memperbaiki. Awal 2026 dibuka bukan dengan harapan baru, tetapi dengan suara air yang sama, genangan yang sama, dan rasa jengah yang semakin matang. Di kota-kota sekitar Jakarta, hujan tak lagi identik dengan udara sejuk atau aroma tanah basah. Ia lebih mirip alarm panjang yang berbunyi terlalu lama, membuat siapa pun ingin mematikannya, tapi tak tahu di mana letak saklarnya.

Baca lebih lanjut

Di jagat media sosial, istilah Chindo semakin sering terdengar. Sebutan ini merujuk pada warga keturunan Tionghoa yang lahir dan hidup di Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari bangsa ini. Secara harfiah, Chindo berasal dari gabungan kata China dan Indonesia. Penyebutannya terasa lebih segar dan kekinian, mirip dengan istilah Afro-American di Amerika Serikat. Yang membedakan, istilah ini juga membawa nuansa yang lebih halus, terutama bila dibandingkan dengan kata “Cina” yang lekat dengan sejarah kebijakan diskriminatif sejak era 1960-an.

Baca lebih lanjut

Di era ketika karier dan kebebasan pribadi sering menjadi prioritas, semakin banyak anak muda memilih hubungan tanpa status (HTS) – sebuah bentuk relasi romantis tanpa label komitmen, maupun tujuan jangka panjang. Data BPS menunjukkan penurunan angka pernikahan di Indonesia sebesar 7,5% pada 2022, yang mencerminkan perubahan nilai sosial yang signifikan. Apa sebenarnya yang membuat hubungan tanpa ikatan ini begitu menarik, sekaligus berpotensi menyakitkan?

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda merasa gelisah saat tidak memegang ponsel, khawatir ketinggalan berita atau tren terbaru? Atau mungkin, Anda pernah melakukan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya? Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—ketakutan akan kehilangan momen berharga yang dialami orang lain. Tapi, apa sebenarnya yang membuat kita begitu takut tertinggal? Apakah ini sekadar keinginan untuk mengikuti tren, atau ada ketakutan yang lebih mendalam tentang makna hidup kita?

Baca lebih lanjut