Dalam ruang publik yang bergerak cepat, respons terhadap suatu isu sering kali dituntut hadir dengan segera. Pernyataan dari pemangku kebijakan pun kerap menjadi bagian dari dinamika tersebut, sebagai cerminan kepedulian, sekaligus upaya merespons kebutuhan masyarakat. Namun, di tengah kecepatan ini, muncul pertanyaan reflektif: sejauh mana respons tersebut lahir dari pemahaman yang utuh terhadap realitas di lapangan?
Category: Kognisi Sosial
Konflik adalah tamu tak diundang yang pasti hadir dalam setiap kehidupan berkelompok. Pertanyaannya bukan lagi tentang “apakah” perbedaan pendapat itu akan muncul, melainkan “bagaimana” sebuah kelompok mengelolanya agar tidak berakhir menjadi perpecahan. Kasus nyata yang menggambarkan dinamika ini adalah gejolak yang melanda Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan pada tahun 2025. Forum Musyawarah Nasional (Munas) yang seharusnya menjadi wadah persatuan justru berakhir dengan keluarnya 10 BEM dari berbagai perguruan tinggi. Fenomena ini bukan sekadar drama sesaat, melainkan puncak dari konflik intrakelompok yang kompleks dan berakar dalam.
Kasus pembunuhan di Palembang oleh empat remaja beberapa waktu lalu menjadi alarm mengerikan tentang bagaimana paparan konten kekerasan dan pornografi bisa berpotensi memicu perilaku kriminal. Meski tidak semua konsumsi pornografi berujung kekerasan, kombinasi faktor seperti tekanan teman sebaya, minimnya pengawasan, dan ketidakstabilan emosional dapat menjadi “bom waktu” bagi remaja yang otaknya masih berkembang. Lalu, bagaimana pornografi mengubah cara otak bekerja, hingga memicu risiko kekerasan seksual?
Dalam era digital saat ini, kehadiran smartphone sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua orang memiliki smartphone dan menggunakannya untuk berbagai keperluan, mulai dari berkomunikasi dengan teman dan keluarga, mencari informasi, hingga hiburan. Namun, meski memberikan banyak manfaat, penggunaan smartphone juga menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kemampuan kognitif manusia. Benarkah ponsel cerdas justru membuat kita lebih tidak cerdas?
Kasus pertemanan yang toxic atau tidak sehat sudah cukup banyak kita amati baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar kita. Sebut saja seorang mahasiswa N yang dulu berteman lama dengan rekannya ternyata kandas karena gossip yang dilansirkan dari rekannya sendiri membuatnya hilang kepercayaan dan putusnya hubungan pertemanan. Kondisi lain juga nampak, misalnya, seseorang yang justru terus berteman dengan seseorang yang nyata malahan seringkali menjelekkannya dan ia tetap saja berteman padahal sudah jelas membuatnya tidak nyaman bahkan menderita. Menarik untuk dibahas mengapa hal ini bisa terjadi.
Cepatnya pertukaran informasi di media sosial selain menyuburkan demokrasi, juga menimbulkan tantangan, yaitu masifnya penyebaran fake news. Fake news dianggap sebagai salah satu dari sepuluh bahaya teratas bagi masyarakat di seluruh dunia. Intervensi untuk mengurangi bahaya fake news ini telah dilakukan oleh para ahli dari berbagai bidang, baik teknologi informasi, komunikasi maupun psikologi. Intervensi dari teknologi informasi umumnya dilakukan melalui algoritma komputer, misalnya dengan mengurangi fitur filter bubble yang terdapat di media sosial. Filter bubble adalah aktivitas media sosial dengan menggunakan algoritma untuk memilihkan konten berdasarkan keterhubungan dengan konten yang sebelumnya dikonsumsi oleh pengguna media sosial. Intervensi untuk mengurangi fake news umumnya dilakukan dengan mengekspos pengguna media sosial dengan konten yang lebih bervariasi, sehingga memungkinkan pengguna mengakses informasi dari sudut pandang yang lebih beragam.
Pernahkan Anda menyadari bahwa aroma atau wewangian tertentu memiliki pengaruh terhadap pikiran dan tindakan kita? Sebagian dari kita pasti pernah melihat seseorang (atau bahkan mungkin kita sendiri) mencoba mencium aroma makanan yang dihidangkan sebelum memutuskan untuk memakannya atau tidak. Atau, wewangian tertentu bisa membuat kita merasa lebih rileks, sedangkan wewangian lainnya membuat kita lebih terjaga. Kadang kita juga teringat akan peristiwa dan emosi yang kita rasakan di masa lalu ketika tiba-tiba mencium aroma tertentu, kemudian membuat kita mengalami emosi itu kembali. Mengapa bebauan tertentu bisa berperan dan kadang menentukan perilaku kita sehari-hari, meskipun kita tidak menyadarinya?
