Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?
Pendidikan merupakan hal mendasar yang penting bagi semua anak, tidak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD). Dengan berbagai tantangannya, anak dengan ASD tetap mampu belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan kondisi dan keadaan yang mereka alami. Siswa dengan ASD tentu masih dapat belajar dan bermain seperti anak pada umumnya. Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan lingkungan pembelajaran bagi anak dengan ASD?
“Chasing rainbows”, sebuah ungkapan yang terkesan positif, tetapi ternyata memiliki makna yang sama sekali berbeda. Mengapa demikian? Mengejar ujung pelangi adalah hal yang hampir mustahil dilakukan. Di ranah psikologi, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja (school-to-work) yang dialami oleh genarasi muda saat ini. Lalu, bagaimana gambaran generasi muda saat ini dalam “mengejar ujung pelangi” dalam pekerjaan mereka?
Marah merupakan salah satu bentuk emosi manusia. Ekspresi seseorang saat marah dapat terlihat dari wajahnya, intonasi suara, atau gerakan tubuhnya. Hal yang manusiawi jika seseorang marah. Marah berkaitan dengan otak dan hormon pada tubuh. Seseorang bisa marah karena beberapa sebab, di antaranya, haknya dilanggar, dihina, atau memang karena individu tersebut pemarah. Marah dihubungkan dengan emosi negatif. Individu yang pemarah biasanya tidak disukai oleh lingkungan. Individu yang tidak dapat mengendalikan marahnya dapat memicu konflik antar individu, memicu perilaku kekerasan, atau berpotensi terkena suatu penyakit tertentu.
Citra tubuh atau body-image adalah bagaimana representasi mental atau gambaran seseorang mengenai tubuhnya sendiri yang tertanam dalam pikirannya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai bayangan cermin dari apa yang dapat dilihat secara obyektif. Namun, kadang persepsi seseorang mengenai citra tubuhnya sendiri dapat merusak persepsi tersebut, seperti pada seseorang dengan gangguan makan. Sejumlah riset menyatakan bahwa seseorang dengan citra tubuh yang negatif cenderung lebih rentan terhadap gangguan mental. Mengapa demikian?
Perkembangan teknologi memudahkan pertukaran informasi dalam dunia sekarang ini. Dampaknya, individu lebih mudah dalam mengakses gaya hidup, mempelajari banyak hal baru dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat mengenai kehidupan seseorang secara intens—misalnya tokoh idola, membuat kita akhirnya memiliki keinginan untuk memiliki hal yang serupa, misalnya memiliki baju yang indah, prestasi yang cemerlang serta tubuh yang ideal. Namun, “tubuh yang ideal” ini kadang memicu masalah psikologis yang problematik, terutama bagi remaja.
Digitalisasi di Indonesia ternyata belum disertai kesiapan para pemakainya dan memunculkan fenomena sosial. Dalam laporannya, Kemenkominfo mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat 11% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 175,4 juta menjadi 202,6 juta pengguna. Peningkatan tersebut ternyata tidak dibarengi dengan kemahiran para warganet, salah satunya adalah kurangnya literasi digital (kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk informasi). Lalu, hal buruk apa yang bisa terjadi?
Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.
Allah tidak mensyariatkan sesuatu dengan sia-sia kecuali mengandung hikmah, baik telah diketahui ataupun belum. Puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT mengandung banyak keutamaan, salah satunya adalah sarana pembentukan kepribadian.
Dalam perjalanan hidup, setiap peristiwa yang dilewati akan mendatangkan berbagai warna emosi. Ada kalanya kita sedih, ada kalanya sedih terganti dengan senang. Kadang kita menghadapi situasi yang memalukan, tapi ada titik di mana kita berjumpa dengan rasa bangga. Terkait dengan ragam emosi tersebut, kebanyakan manusia kemudian akan mengupayakan suatu kondisi yang disebut: Bahagia. Katanya, Bahagia adalah tujuan.
