Marah merupakan salah satu bentuk emosi manusia. Ekspresi seseorang saat marah dapat terlihat dari wajahnya, intonasi suara, atau gerakan tubuhnya. Hal yang manusiawi jika seseorang marah. Marah berkaitan dengan otak dan hormon pada tubuh. Seseorang bisa marah karena beberapa sebab, di antaranya, haknya dilanggar, dihina, atau memang karena individu tersebut pemarah. Marah dihubungkan dengan emosi negatif. Individu yang pemarah biasanya tidak disukai oleh lingkungan. Individu yang tidak dapat mengendalikan marahnya dapat memicu konflik antar individu, memicu perilaku kekerasan, atau berpotensi terkena suatu penyakit tertentu.
Citra tubuh atau body-image adalah bagaimana representasi mental atau gambaran seseorang mengenai tubuhnya sendiri yang tertanam dalam pikirannya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai bayangan cermin dari apa yang dapat dilihat secara obyektif. Namun, kadang persepsi seseorang mengenai citra tubuhnya sendiri dapat merusak persepsi tersebut, seperti pada seseorang dengan gangguan makan. Sejumlah riset menyatakan bahwa seseorang dengan citra tubuh yang negatif cenderung lebih rentan terhadap gangguan mental. Mengapa demikian?
Perkembangan teknologi memudahkan pertukaran informasi dalam dunia sekarang ini. Dampaknya, individu lebih mudah dalam mengakses gaya hidup, mempelajari banyak hal baru dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat mengenai kehidupan seseorang secara intens—misalnya tokoh idola, membuat kita akhirnya memiliki keinginan untuk memiliki hal yang serupa, misalnya memiliki baju yang indah, prestasi yang cemerlang serta tubuh yang ideal. Namun, “tubuh yang ideal” ini kadang memicu masalah psikologis yang problematik, terutama bagi remaja.
Digitalisasi di Indonesia ternyata belum disertai kesiapan para pemakainya dan memunculkan fenomena sosial. Dalam laporannya, Kemenkominfo mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat 11% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 175,4 juta menjadi 202,6 juta pengguna. Peningkatan tersebut ternyata tidak dibarengi dengan kemahiran para warganet, salah satunya adalah kurangnya literasi digital (kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk informasi). Lalu, hal buruk apa yang bisa terjadi?
Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.
Allah tidak mensyariatkan sesuatu dengan sia-sia kecuali mengandung hikmah, baik telah diketahui ataupun belum. Puasa yang diperintahkan oleh Allah SWT mengandung banyak keutamaan, salah satunya adalah sarana pembentukan kepribadian.
Dalam perjalanan hidup, setiap peristiwa yang dilewati akan mendatangkan berbagai warna emosi. Ada kalanya kita sedih, ada kalanya sedih terganti dengan senang. Kadang kita menghadapi situasi yang memalukan, tapi ada titik di mana kita berjumpa dengan rasa bangga. Terkait dengan ragam emosi tersebut, kebanyakan manusia kemudian akan mengupayakan suatu kondisi yang disebut: Bahagia. Katanya, Bahagia adalah tujuan.
Manusia adalah makhluk yang berelasi dalam kehidupannya. Hal tersebut menjadi dasar beberapa teori Psikologi. William Glasser, psikiater asal Amerika Serikat, menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya, manusia perlu berelasi dengan orang lain, mengacu pada kebutuhan love and belongingness. Jika kebutuhan tersebut terusik, maka permasalahan yang lebih kompleks termasuk untuk memenuhi kebutuhan yang lain juga akan bermasalah. Hal senada juga dinyatakan oleh Abraham Maslow yang juga menyebutkan bahwa akar permasalahan patologi berasal dari masalah kebutuhan akan cinta dan perasaan dimiliki/kepemilikan (love and belongingness).
Ketika anaknya berusia 2 tahun dan belum mengucapkan satu patah kata pun, seorang ibu sudah mulai khawatir dan bertanya-tanya dalam hatinya, “Ada apa dengan anakku? Apakah hal tersebut normal atau tidak?” Tidak banyak yang diketahui oleh sang ibu tersebut, karena pengalamannya bersama anaknya itu merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu. Sungguh anugerah yang luar biasa baginya, tapi tidak banyak yang ia ketahui mengenai pengasuhan dan perkembangan anak, karena memang tidak dipelajari ketika ia bersekolah maupun berkuliah. Sang ibu berdiskusi dengan suami dan orang-orang di sekitar, banyak yang berpendapat bahwa ia hanya perlu menunggu hingga anaknya akan mulai berbicara pada waktunya.
Gangguan depresi merupakan isu kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat dan penanganannya masih menjadi PR besar bagi semua pihak. Penanganan gangguan depresi yang efektif bisa dimulai dari identifikasi yang tepat mengenai akar permasalahannya. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa depresi dikaitkan dan juga disebabkan karena lemahnya iman atau kurangnya ikatan spiritualitas/religiusitas seseorang. Pada sejumlah kasus, masyarakat seringkali menuding orang mengalami depresi karena lemah iman. Padahal, depresi justru seringkali disebabkan karena lemahnya dukungan sosial. Dalam hal ini, masyarakat yang seharusnya menjadi support system secara ironis malah memberikan tudingan-tudingan negatif tertentu kepada seseorang yang mengalami gangguan depresi.
