Masalah lingkungan tidak pernah lepas dari peradaban manusia. Pencemaran lingkungan berpotensi menimbulkan ancaman bagi manusia, khususnya generasi mendatang. Kerusakan lingkungan yang banyak terjadi di antaranya adalah polusi (udara, air, suara, dll), limbah, hingga punahnya keanekaragaman hayati. Perilaku manusia memiliki peranan besar atas masalah-masalah lingkungan yang terjadi. Apa yang bisa kita lakukan agar kerusakan alam tidak terus meluas?

Baca lebih lanjut

Kehidupan individu berjalan tahap demi tahap sesuai dengan tugas perkembangannya, mulai dari masa bayi hingga usia lanjut. Demikian juga halnya dalam sebuah keluarga. Tanpa disadari, setiap keluarga berkembang dan beradaptasi secara bertahap seperti hanya manusia secara individu. Kondisi ini dimulai dari mempersiapkan kehidupan keluarga hingga nantinya kembali hidup berdua bersama pasangan. Dalam hal ini ada peran-peran tertentu yang diharapkan dapat dicapai keluarga inti melalui capaian tahapan perkembangan dalam sebuah keluarga. Apa saja tahapan pekermbangan dalam sebuah keluarga?

Baca lebih lanjut

Kehidupan pernikahan merupakan suatu tahapan dan tugas perkembangan yang biasanya dihadapi pada tahap dewasa muda. Banyak sekali dinamika yang ditimbulkan dari kehidupan pernikahan, baik itu relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun mertua-menantu. Ketika memasuki dunia pernikahan, seseorang akan masuk ke dalam tahap yang baru dalam kehidupan. Apalagi buat individu yang belum pernah masuk ke dalam dunia pernikahan, tentu perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari masa lajang menjadi ada pasangan. Ketika memasuki dunia pernikahan, seringkali menjadi dinamika yang sulit, terutama untuk mengembangkan relasi mertua dan menantu yang baik. Seperti apa dinamikanya?

Baca lebih lanjut

“Self love itu boleh nggak sih?”, “Ntar kita jadi egois kalau self love?”, “Nanti kalau kita self love, orang gak suka lagi sama kita?” Ungkapan di atas sering sekali terdengar ketika membahas mengenai self love. Baru-baru ini, sekumpulan anak-anak muda kurang lebih usia 18-25 tahun di salah satu komunitas gereja di Jakarta mulai menunjukkan kesadaran akan perlunya untuk melakukan self love. Ketika dilakukan survey ke beberapa anak muda, beberapa menjawab bahwa perlu untuk melakukan self love tapi beberapa ragu untuk melakukannya.

Baca lebih lanjut

Kehilangan adalah salah satu derita yang memilukan jiwa. Melepas suatu hal bukanlah perkara mudah, apalagi jika kita terbiasa “memiliki”-nya. Kematian merupakan salah satu momen kehilangan yang menimbulkan pilu dan duka, yang menyengsarakan jiwa yang ditinggalkan. Kematian menjadi puncak perpisahan kita dengan seseorang untuk selamanya. Menghadapi dan menerima duka adalah proses. Proses berduka sulit dijelaskan dan bersifat dinamis.

Baca lebih lanjut

Berduka adalah gejala normal dari seseorang yang kehilangan orang atau sesuatu yang dia miliki dan cintai. Kedukaan normal ditandai dengan protes dan keputusasaan, termasuk munculnya  gejala gangguan fisik, seperti lesu dan perasaan tidak bisa lepas dari masa lalu. Kedukaan tersebut acapkali bisa mereda dan diterima, seiring dengan berjalannya waktu. Namun, tidak semua kedukaan dapat “disembuhkan” oleh waktu. Ada kalanya kedukaan dirasakan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika mengalaminya?

Baca lebih lanjut

Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.

Baca lebih lanjut

Dunia dan kondisi saat ini mengharuskan kita produktif, baik itu untuk menghasilkan barang dan jasa, ataupun untuk memenuhi tuntutan tugas yang berujung pada keuntungan atau profit. Dalam upaya untuk menjadi produktif, tidak jarang kita bekerja tanpa mengenal waktu, lembur, mengabaikan batasan sehat, hingga melupakan istirahat. Hal tersebut bisa bersumber dari faktor eksternal seperti tuntutan dan daftar tugas dari orang lain atau berasal internal, dari diri sendiri, seperti mengkhawatirkan tugas yang tidak selesai, dan juga kemungkinan mengecewakan orang lain. Dampak yang dirasakan pun beragam, mulai dari keluhan fisik ringan, penyakit tertentu atau masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Lalu, apakah hal ini harus dibiarkan? Ada solusi untuk permasalahan yang efektif untuk produktif? Metode yang bisa kita coba adalah dengan melakukan jeda dan rehat.

Baca lebih lanjut

Menurut beberapa artikel penelitian, manusia memiliki 6.000 lebih pikiran yang muncul dalam satu hari dan hampir sebagian besar pikiran tersebut berisi pemikiran negatif yang dapat memunculkan emosi negatif. Biasanya pikiran negatif yang muncul dapat berkaitan dengan penyesalan masa lalu, pengalaman negatif, atau berkaitan juga dengan kekhawatiran di masa depan. Pikiran-pikiran ini kadang muncul begitu saja, entah dari mana, dan kadang kita tidak sempat juga untuk memikirkan apa sebenarnya maksud dari pikiran tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita menjadi tidak fokus dan optimal untuk mengerjakan hal-hal penting yang harusnya kita utamakan.

Baca lebih lanjut

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2021 merilis data yang cukup mengkhawatirkan tentang tingginya angka kematian akibat bunuh diri. Lebih dari 700 ribu orang meninggal dalam setahun di seluruh dunia akibat bunuh diri, membuatnya menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Kajian tentang perilaku bunuh diri telah menjadi perhatian di bidang ilmu Psikologi. Dalam mengkaji berbagai kasus bunuh diri, sejumlah peneliti membagi perilaku tersebut menjadi dua jenis, yaitu self-injurious thoughts and behaviours (SITB) dan non-suicidal self-injury (NSSI). Apa beda keduanya dan bagaimana para peneliti memahami pemikiran dan perilaku melukai diri sendiri yang dapat mengarah pada bunuh diri?

Baca lebih lanjut