Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya, mengapa untuk menyusun alat ukur psikologi membutuhkan cara rumit dan waktu yang amat-sangat lama? Bukankah kita cukup menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia saja? Saya tertawa dalam hati, wah belum tahu dia! Sebagai gambaran, alat ukur yang saya gunakan dalam tesis saya kemarin membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan dari proses translasi hingga bisa digunakan. Proses ini mencakup alih bahasa ke bahasa Indonesia-sintesa-back translate-uji baca-uji ahli baru ke pilot study. Jika hasil pilot studi ternyata tidak bagus? Ya, silahkan kembali ke awal.

Baca lebih lanjut

Pada saat-saat tertentu, hidup telah dan akan menjadi tantangan bagi kita semua, dan semua orang nampaknya menderita. Satu-satunya yang tidak diketahui adalah kapan dan bagaimana kita akan menghadapi perjuangan hidup kita. Beberapa dari kita mungkin mengalami kehilangan yang tragis sebelum waktunya. Orang lain mungkin mengalami peristiwa traumatis. Selain liku-liku kehidupan individu kita, ada fakta dasar bahwa kita semua akan mengetahui penyakit, penuaan, dan kematian pada diri kita sendiri dan pada orang yang kita cintai. Jenis rasa sakit ini merupakan pengalaman manusia, yang hanyalah salah satu dari banyak alasan mengapa kita semua membutuhkan welas kasih.

Baca lebih lanjut

Orangtua seringkali kebingungan ketika melihat perubahan perilaku pada anak yang sudah beranjak remaja. Terkadang juga tidak habis pikir dengan pola pikir ataupun buah pikiran yang dihasilkan oleh anak remajanya ini. Terjadi perdebatan-perdebatan mengenai permasalahan sehari-hari, terkadang perdebatan tersebut hanyalah mengenai pekerjaan rumah seperti mencuci piring yang menurut oragtua harusnya bisa segera diselesaikan tapi anak merasa bahwa pekerjaan itu lebih baik diselesaikan nanti saja. Ataupun mungkin saja mengenai jam tidur yang terlalu malam, jam bangun tidur yang terlalu siang, dan lain-lain.

Baca lebih lanjut

Perkembangan teknologi semakin cepat dan dinamis, bahkan terkadang memunculkan ide-ide yang bisa jadi tidak terbayangkan oleh kebanyakan manusia sebelumnya. Salah satunya adalah terkait dengan metaverse. Metaverse dapat diartikan sebagai suatu konsep lingkungan digital, yang menyediakan ruang yang menyerupai dunia nyata, yang dapat diakses antara lain dengan menggunakan augmented reality (AR), virtual reality (VR), serta blockchain, dengan didukung juga oleh sistem media sosial. Bahasa sederhananya, Metaverse ini memberikan kita ‘dunia sendiri’ dalam sebuah ruang virtual, didukung oleh berbagai fitur yang terhubung dengan dunia nyata. Sisi menarik dari perspektif psikologis dalam fenomena ruang-ruang virtual seperti metaverse ini adalah, bagaimana sepertinya manusia mulai memiliki kecenderungan untuk meninggalkan realitas dunia nyata lalu beralih ke sebuah dunia yang dikreasikan sendiri. Ini hampir mirip seperti bagaimana banyak orang kaya atau juga ilmuwan yang punya ide gila memindahkan manusia ke planet Mars. Sementara di dalam film-film Hollywood yang kekinian, motif ini antara lain tersirat dalam konsep multiverse.

Baca lebih lanjut

Selama hampir dua tahun berlalu di masa pandemi Covid-19 yang tidak menentu ini, muncul sebuah “kebiasaan baru” yang tiba-tiba marak menjadi aktivitas rutin banyak orang (atau bahkan kita sendiri): berkebun. Hampir setiap hari kita mendengar percakapan orang-orang di sekitar kita terselip pembahasan tentang pengalaman berkebun. Entah apa yang mendorong orang-orang menjadikan berkebun menjadi rutinitas baru selama pandemi, atau mengapa di antara berbagai macam aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, berkebun menjadi pilihan banyak orang. Memangnya apa sih manfaatnya menghabiskan waktu untuk menanam, merawat, dan mengembangbiakkan tanaman-tanaman di sekitar rumah bagi kesehatan mental kita?

Baca lebih lanjut

Internet dan smartphone merupakan kemajuan luar biasa dalam dunia komunikasi. Internet memungkinkan keterhubungan dari berbagai belahan dunia pada saat itu juga, real time. Dengan internet dan smartphone, kita tidak hanya dapat mengakses berbagai info, tetapi juga meningkatkan kemungkinan untuk terpapar hal-hal yang tidak kita perlukan atau pun hal negatif. Berbagai riset dan pendapat ahli menyebutkan gadget dan internet kurang baik bagi perkembangan anak, sehingga pemakaiannya perlu dikendalikan bahkan dibatasi. Sebagai orang tua, kita telah berupaya sebaik mungkin mengendalikan hal tersebut, namun hadirnya pandemi dengan pengaturan sekolah online, pada sebagian orangtua seperti kehilangan kendali pada penggunaan gadget dan akses internet ini.

Baca lebih lanjut

Dewasa ini isu kesehatan mental semakin menyebar luas, mulai dari selebgram, selebtok (seleb tiktok), para penyintas mental health, dan aktivis kesehatan mental pun seakan berlom-lomba menyuarakan isu kesehatan mental. Fenomena ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi respon positif masyarakat terkait kesehatan mental sangat luar biasa namun di sisi lain hal ini meningkatkan adanya peluang menjatuhkan kondisi kesehatan mental sendiri dengan self diagnose. Terbukanya informasi tentunya harus disikapi dengan bijak agar dampak positif ini dapat terus bertahan dan dampak negatif bisa diredam.

Baca lebih lanjut

Bermain video games bisa menjadi salah satu alternatif hiburan di tengah berbagai pembatasan aktivitas selama masa pandemi yang berkepanjangan ini. Lembaga data statistik konsumen Statista mencatat adanya kenaikan durasi dalam bermain video games selama pandemi Covid-19. Secara global, masyarakat menghabiskan waktu 39% lebih banyak untuk bermain video games dibandingkan sebelum pandemi. Selama ini, bermain video games sering dianggap sebagai aktivitas yang hanya membuang waktu, kekanak-kanakan, bahkan bisa mengganggu kesejahteraan psikologis. Lalu, jika memang demikian, perlukah kita khawatir dengan terjadinya peningkatan durasi bermain video games selama pandemi ini?

Baca lebih lanjut

Kasih sayang merupakan kata yang tak asing bagi kita semua, dalam mengungkapkan rasa peduli yang lebih, terutama pada orang yang membutuhkan. Dalam dunia psikologi, kasih sayang dimaknai sebagai adanya rasa tersentuh dan kemudian memunculkan keinginan membantu orang lain yang menderita. Rasa kasih sayang ini sangat penting dalam kehidupan bersosial masyarakat, khususnya di masa pandemi yang berlangsung nyaris dua tahun ini. Seperti yang kita ketahui, kondisi selama pandemi sangat berefek pada berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah meningkatnya masalah kesehatan mental. WHO memaparkan bahwa kebijakan untuk isolasi dan karantina diri  sejauh ini berdampak pada berbagai aktivitas sehari-hari yang secara lebih lanjut menyebabkan kesepian, cemas, depresi, insomnia, masalah ketergantungan alkohol dan penggunaan narkoba, hingga melukai diri dan melakukan bunuh diri. Adanya rasa kasih sayang dapat membantu diri sendiri dan orang lain dalam menjaga kesehatan mental selama masa pandemi ini. Sayangnya, meskipun kasih sayang terbukti memiliki manfaat yang luar biasa, banyak dari kita

Baca lebih lanjut

Memiliki anak seringkali dianggap menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi pasangan menikah. Apalagi bagi pasangan yang tinggal di lingkungan dengan nilai pro natalis (mendukung kelahiran) yang kuat seperti Indonesia. Namun demikian, ternyata sebuah riset empiris yang dilakukan di Jerman menunjukkan bahwa tidak selalu pasangan orangtua lebih bahagia dibandingkan pasangan yang tidak memiliki anak. Penelitian tersebut dilakukan untuk menjawab pertanyaan mengapa kehadiran anak tidak berdampak pada meningkatnya kebahagiaan pada orangtua. Secara khusus, penelitian yang diterbitkan tahun 2014 tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana cost yang dikeluarkan dalam membesarkan anak berperan dalam menurunkan kepuasan hidup. Lalu, mengapa kehadiran anak yang secara umum dianggap mendatangkan kebahagiaan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya?

Baca lebih lanjut