“Stres”, makhluk apakah itu? Hampir setiap orang pernah menyebutnya. Stres ada dan dibutuhkan bagi manusia untuk bertumbuh dan berkembang. Ia adalah bagian dari kehidupan. Beberapa keadaan dapat menjadi sumber stres yang bersifat terus menerus dan melelahkan, seperti relasi yang negatif dengan keluarga dan teman sehari-hari, aktivitas sekolah/akademis/pekerjaan, perilaku diskriminatif, dsb. Beberapa juga berkaitan dengan rutinitas harian seperti kemacetan, hal-hal administrasi, keamanan di lingkungan rumah atau lingkungan tempat seseorang beraktivitas. Beberapa kejadian juga bersifat di luar kontrol manusia, seperti kematian dan bencana.

Baca lebih lanjut

Dalam hidup ini, stres akan muncul ketika individu merasa bahwa tuntutan yang diberikan oleh lingkungan (atau bahkan dirinya sendiri) sudah melebihi kapasitas. Maka itu, diperlukan strategi penyelesaian masalah yang diharapkan bisa meminimalisir stres. Terdapat beragam strategi yang mampu membantu individu untuk mencapai keadaan tersebut. Salah satunya adalah “healing”. Istilah “healing” ini menjadi topik perbincangan hangat generasi muda di media sosial beberapa waktu belakangan ini. Healing menjadi cara populer kaum muda untuk beradaptasi dengan situasi stres. Pertanyaannya, apakah upaya tersebut merupakan langkah yang tepat, atau malah tidak menyelesaikan masalah?

Baca lebih lanjut

Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.

Baca lebih lanjut

Dunia dan kondisi saat ini mengharuskan kita produktif, baik itu untuk menghasilkan barang dan jasa, ataupun untuk memenuhi tuntutan tugas yang berujung pada keuntungan atau profit. Dalam upaya untuk menjadi produktif, tidak jarang kita bekerja tanpa mengenal waktu, lembur, mengabaikan batasan sehat, hingga melupakan istirahat. Hal tersebut bisa bersumber dari faktor eksternal seperti tuntutan dan daftar tugas dari orang lain atau berasal internal, dari diri sendiri, seperti mengkhawatirkan tugas yang tidak selesai, dan juga kemungkinan mengecewakan orang lain. Dampak yang dirasakan pun beragam, mulai dari keluhan fisik ringan, penyakit tertentu atau masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Lalu, apakah hal ini harus dibiarkan? Ada solusi untuk permasalahan yang efektif untuk produktif? Metode yang bisa kita coba adalah dengan melakukan jeda dan rehat.

Baca lebih lanjut

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?

Baca lebih lanjut

Citra tubuh atau body-image adalah bagaimana representasi mental atau gambaran seseorang mengenai tubuhnya sendiri yang tertanam dalam pikirannya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai bayangan cermin dari apa yang dapat dilihat secara obyektif. Namun, kadang persepsi seseorang mengenai citra tubuhnya sendiri dapat merusak persepsi tersebut, seperti pada seseorang dengan gangguan makan. Sejumlah riset menyatakan bahwa seseorang dengan citra tubuh yang negatif cenderung lebih rentan terhadap gangguan mental. Mengapa demikian?

Baca lebih lanjut

Perkembangan teknologi memudahkan pertukaran informasi dalam dunia sekarang ini. Dampaknya, individu lebih mudah dalam mengakses gaya hidup, mempelajari banyak hal baru dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat mengenai kehidupan seseorang secara intens—misalnya tokoh idola, membuat kita akhirnya memiliki keinginan untuk memiliki hal yang serupa, misalnya memiliki baju yang indah, prestasi yang cemerlang serta tubuh yang ideal. Namun, “tubuh yang ideal” ini kadang memicu masalah psikologis yang problematik, terutama bagi remaja.

Baca lebih lanjut

Manusia adalah makhluk yang berelasi dalam kehidupannya. Hal tersebut menjadi dasar beberapa teori Psikologi. William Glasser, psikiater asal Amerika Serikat, menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya, manusia perlu berelasi dengan orang lain, mengacu pada kebutuhan love and belongingness. Jika kebutuhan tersebut terusik, maka permasalahan yang lebih kompleks termasuk untuk memenuhi kebutuhan yang lain juga akan bermasalah. Hal senada juga dinyatakan oleh Abraham Maslow yang juga menyebutkan bahwa akar permasalahan patologi berasal dari masalah kebutuhan akan cinta dan perasaan dimiliki/kepemilikan (love and belongingness).

Baca lebih lanjut

Pada suatu waktu, saya “dicurhati” oleh seorang guru Sekolah Dasar (SD), bahwa salah satu siswa didiknya tidak bergabung saat pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan alasan mengantuk, tidak bisa fokus, dan tidak mood. Setelah ditelusuri, siswa tersebut tidur larut malam, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar, dan senang makan makanan cepat saji. Tampaknya, gaya hidup siswa tersebut kurang sehat.

Baca lebih lanjut