Astrologi, ramalan bintang, zodiak, atau apapun itu namanya seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Hampir di setiap tabloid dan majalah wanita (dan beberapa tabloid dan majalah pria) menyediakan kolom reguler yang membahas ramalan bintang. Banyak yang sangat percaya, banyak pula yang membacanya sebagai hiburan semata (hanya percaya kalau ramalannya bagus), dan banyak juga yang tidak percaya sama sekali. Bagaimana dengan Anda sendiri? Bagi saya pribadi, saya kurang dapat menikmatinya. Saya selalu bertanya-tanya: Bagaimana susunan bintang ketika lahir dianggap dapat menjelaskan garis hidup saya? Logika apa yang mendasari bahwa seorang dengan zodiak Aquarius lebih cocok dengan seorang Cancer daripada seorang Gemini? Apanya yg “logi” dari “astrologi”? Dan yang tak kalah penting, mengapa banyak orang yang bahkan cukup berpendidikan mempercayai ramalan-ramalan tersebut?
Category: Opini
Pernahkah kalian mendapat pertanyaan: Kapan nikah? Kapan punya momongan? Kapan lulus? Dan, segala kapan-kapan yang lain. Pertanyaan-pertanyaaan tersebut sering menyasar kaum muda, terutama saat momen kumpul keluarga. Namun, anak muda atau Generasi Z merasa perlu untuk menyiapkan mental dalam menyambut agenda tersebut. Sebab, tidak hanya bertanya tetapi mereka juga kerap mengahakimi lewat segala sindiran yang diawali dari pertanyaan di atas. Lalu, apa yang bisa diupayakan untuk menghadapi pertanyaan basa-basi yang kerap merusak suasana tersebut?
Cemburu bukan kata yang asing lagi bagi mereka yang sedang menjalani hubungan percintaan. Cemburu dapat dialami oleh semua kalangan usia, tetapi pada masa remaja cemburu sering kali terjadi. Remaja memiliki emosi yang kurang stabil dan dapat dibilang masih cukup labil, jadi rasa cemburu lebih sering muncul. Umumnya rasa cemburu selalu dikaitkan dengan hubungan percintaan, tetapi kenyataannya rasa cemburu juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Seperti apa ya?
Bernapas sekilas terlihat sebagai kegiatan yang sederhana dan seringkali tidak kita sadari secara penuh. Padahal, kemampuan mengelola napas dengan cara yang tepat ternyata dapat menghasilkan dampak yang baik bagi kondisi fisik maupun psikologis kita. Terdapat sejumlah teknik dan metode pernapasan yang dapat meningkatkan tidak hanya kesehatan fisik, melainkan juga psikis dan mental. Bagaimana caranya?
Konflik dalam relasi romantis bisa saja terjadi, ada yang menyatakan bahwa konflik tersebut bisa menyebabkan keretakan hubungan, sementara ada yang percaya bahwa dengan adanya konflik hubungan tersebut malahan semakin kuat. Sebuah perilaku yang disebut berkorban dalam hubungan romantis dilansir sebagai sebuah komponen yang penting karena dapat menjadi alternatif solusi ketika pasangan menghadapi konflik.
Masih ingatkah Anda dengan kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang mewajibkan siswa-siswi SMA dan SMK masuk sekolah pada pukul 05.00 pagi? Ya, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua menganggap kebijakan ini memberatkan mereka. Sejumlah protes pun bermunculan menanggapi keputusan yang kontroversial ini. Sudah tepatkah untuk menetapkan waktu aktivitas belajar murid sedini itu?
Katanya, generasi saya, Gen Z (lahir pada akhir 1990-an dan awal 2000-an) adalah generasi yang suka mengeluh. Kalau berkaca pada aktivitas di media sosial, khususnya Twitter, tak terhitung frekuensi teman-teman saya yang mengeluh di sana. Ada saja hal-hal yang menjadi keluhan mereka setiap saat, mulai dari masalah dengan keluarga, jalanan macet, sampai topik yang lagi trending. Meskipun mengeluh adalah hal lumrah, tetapi kebiasaan ini umumnya dipandang negatif. Maka tidak ada yang mau dicap sebagai tukang ngeluh. Jika dihadapkan pilihan, kita pasti memilih untuk terhindar dari teman atau rekan yang sering sambat. Lantas, dengan adanya nuansa negatif tentang mengeluh, mengapa hal itu sering terjadi?
Tahukah Anda kapan anak mulai mengenal cita rasa makanan? Sebagian besar orang mungkin mengira bahwa anak mulai mengenal cita rasa makanan pada saat mereka dikenalkan dengan MPASI (makanan pendamping ASI). Beberapa orang mungkin berpikir bahwa anak mulai mengenal cita rasa makanan pada saat menyusui. Jadi, mana yang lebih tepat?
Di dunia yang makin bergerak cepat dan saling terkait secara digital saat ini, menemukan cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis menjadi lebih penting dari sebelumnya. Dalam hal ini, teknologi turut berperan penting. Salah satu hasil pengembangan teknologi yang mulai banyak dimanfaatkan untuk intervensi kesehatan mental adalah virtual reality (VR). Selama ini, VR lebih banyak dilihat sebagai perangkat game dan juga entertainment. Padahal, sejatinya VR memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis secara signifikan. Mari kita jelajahi bagaimana melangkah ke dunia virtual dapat membuka jalan menuju kesehatan mental yang lebih baik.
Kasus pertemanan yang toxic atau tidak sehat sudah cukup banyak kita amati baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar kita. Sebut saja seorang mahasiswa N yang dulu berteman lama dengan rekannya ternyata kandas karena gossip yang dilansirkan dari rekannya sendiri membuatnya hilang kepercayaan dan putusnya hubungan pertemanan. Kondisi lain juga nampak, misalnya, seseorang yang justru terus berteman dengan seseorang yang nyata malahan seringkali menjelekkannya dan ia tetap saja berteman padahal sudah jelas membuatnya tidak nyaman bahkan menderita. Menarik untuk dibahas mengapa hal ini bisa terjadi.
