Ketika anaknya berusia 2 tahun dan belum mengucapkan satu patah kata pun, seorang ibu sudah mulai khawatir dan bertanya-tanya dalam hatinya, “Ada apa dengan anakku? Apakah hal tersebut normal atau tidak?” Tidak banyak yang diketahui oleh sang ibu tersebut, karena pengalamannya bersama anaknya itu merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu. Sungguh anugerah yang luar biasa baginya, tapi tidak banyak yang ia ketahui mengenai pengasuhan dan perkembangan anak, karena memang tidak dipelajari ketika ia bersekolah maupun berkuliah. Sang ibu berdiskusi dengan suami dan orang-orang di sekitar, banyak yang berpendapat bahwa ia hanya perlu menunggu hingga anaknya akan mulai berbicara pada waktunya.
Category: Opini
Gangguan depresi merupakan isu kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat dan penanganannya masih menjadi PR besar bagi semua pihak. Penanganan gangguan depresi yang efektif bisa dimulai dari identifikasi yang tepat mengenai akar permasalahannya. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa depresi dikaitkan dan juga disebabkan karena lemahnya iman atau kurangnya ikatan spiritualitas/religiusitas seseorang. Pada sejumlah kasus, masyarakat seringkali menuding orang mengalami depresi karena lemah iman. Padahal, depresi justru seringkali disebabkan karena lemahnya dukungan sosial. Dalam hal ini, masyarakat yang seharusnya menjadi support system secara ironis malah memberikan tudingan-tudingan negatif tertentu kepada seseorang yang mengalami gangguan depresi.
Kehidupan manusia sarat akan perjumpaan yang dipenuhi dengan perayaan. Berjumpa dengan orang yang kita cintai, kelahiran buah hati, lingkungan/situasi baru yang dicari, kebebasan yang lama dinanti atau mungkin berjumpa dengan akhir pandemi. Perjumpaan membawa kelegaan, kebahagiaan, dan tentu sukacita yang menambah makna pada hidup kita sebagai manusia. Namun, untuk tiap perjumpaan yang penuh dengan perayaan, datang pula kehilangan. Kadangkala, perjumpaan dan kehilangan juga mampir bersama-sama dalam hidup kita. Misalnya, kita berjumpa dengan pekerjaan impian kita, tetapi juga kehilangan zona nyaman yang kita selama ini bersemayam.
Saat ini, berdasarkan pengamatan, banyak anak-anak usia balita yang beraktivitas dengan ponsel pintarnya. Saat makan, melakukan aktivitas di ponsel pintar; Saat sedang menunggu, beraktivitas dengan ponsel pintar. Entah menonton Youtube, menonton saluran khusus anak-anak, atau games bagi anak-anak, dan sejenisnya. Apalagi didukung oleh berbagai alasan dari orang tua atau orang dewasa: “supaya anaknya tenang”, “dari pada dia nangis”, “saya kan sibuk”, “zaman now kan semua pakai ponsel pintar”, “dia pakai ponsel pintar belajar bahasa Inggris kok”, “anak lain pakai ponsel pintar masa anak saya enggak”, “sekarang kan pandemi Covid-19 materi belajar anak semua pakai laptop atau ponsel pintar”, “dia capek belajar makanya pakai ponsel pintar kan itu main juga”, dll. Lalu, apakah aktivitas dengan ponsel pintar dapat dikatakan sebagai bermain?
Belakangan ini marak pemberitaan beberapa orang kaya yang dikenal sebagai crazy rich tersandung masalah hukum karena diduga terlibat dalam beberapa kasus seperti penipuan dan pencucian uang yang merugikan masyarakat. Fenomena crazy rich ini semakin menjamur dengan adanya kemudahan akses dalam bentuk saluran Youtube ataupun pemberitaan mengenai perilaku segelintir orang yang mendadak kaya ini.
Sepanjang masa pandemi Covid-19 dari awal tahun 2020 hingga awal tahun 2022 terdapat sejumlah peristiwa tragis yang berkaitan dengan kasus bunuh diri. Beberapa kasus yang terjadi di Indonesia selama pandemi ini di antaranya, kasus siswa SMP di Tarakan yang tewas bunuh diri di kamar mandi rumah, lantaran stres tugas menumpuk semasa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Kemudian, kasus bunuh diri seorang ibu rumah tangga di Wonogiri lantaran stres terlilit hutang dan terus menerus mendapat teror dari penyedia jasa pinjaman online (pinjol). Selanjutnya masih kasus yang serupa yaitu tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh pasien COVID-19 berusia 43 tahun di Rumah Sakit Haji, Surabaya. Polisi menduga bahwa, pasien mengalami stres dikarenakan tertular virus COVID-19 dan harus menjalani isolasi dengan ketat.
Kintsugi atau kintsukuroi merupakan suatu kesenian Jepang yang cukup populer. Satu hal yang unik dari seni kintsugi ini, pengrajin menggunakan barang-barang keramik atau tembikar yang telah pecah atau rusak, kemudian kepingan pecahan tersebut diperbaiki kembali dengan cara direkatkan menggunakan emas atau perak. Siapa sangka barang keramik yang telah rusak kini dapat dipakai kembali, bahkan menjadi lebih indah dan bernilai dibandingkan sebelumnya? Kerajinan kintsugi ini walaupun terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki makna dan filosofi yang dalam, salah satunya adalah mengenai resiliensi.
Trait kepribadian adalah salah satu domain dalam psikologi yang memiliki peran penting dalam menentukan perilaku individu. Salah satu model teoretik trait kepribadian yang populer dan sering digunakan untuk menggambarkan kepribadian individu adalah pendekatan The Big Five. Sesuai dengan namanya, model trait kepribadian ini terdiri dari lima dimensi, yaitu: extraversion; agreeableness; conscientiousneess; emotional stability; dan openness to experience (penjelasan lebih lanjut tentang kelima dimensi tersebut dapat dibaca di sini). Bagaimana cara peneliti dan praktisi psikologi sejauh ini memahami kepribadian seseorang melalui pendekatan Big Five ini?
Saat ini isu kesehatan mental terus digaungkan oleh berbagai pihak, kita dapat melihat saat ini banyak sekali layanan kesehatan mental berbasis daring dengan berbagai macam tawaran layanan psikologi yang dapat diberikan, mulai dari yang gratis hingga bertaraf. Sebut saja Riliv, Pijar Psikologi, Ibunda.id, dan Berbagicerita.id merupakan platform layanan konseling psikologi berbasis psikologi. Tawaran yang diberikan pun juga tidak kalah menarik mulai dari konseling gratis selama 45 menit hingga 60 menit, layanan konseling berbasis teks hingga video call, dan dari bayar semampunya hingga bertarak 100.000 ke atas. Di sisi lain kita dapat melihat isu-isu kesehatan mental pun juga sudah mulai kerap dibahas oleh berbagai media nasional, dari TV, radio, hingga para youtuber mulai tergerak membahas mengenai kesehatan mental.
Sejak Februari 2022 dunia tidak hanya dipertontonkan kabar pandemi, tetapi juga ketegangan militer yang berpusat di Ukraina. Hampir semua kanal berita televisi dan headline koran secara “vulgar” memperlihatkan realita yang mengaduk emosi kita semua, mulai dari tindakan agresi militer, perjalanan panjang pengungsi perang melewati perbatasan, hingga darah dan reruntuhan bangunan yang menyelimuti tubuh korban perang. Derasnya dan aksesibelnya informasi grafis terkait perang yang sedang terjadi juga tak terelakkan dari anak-anak kita meninggalkan “PR” baru bagi kita sebagai orang tua: perlukah anak-anak menyaksikan kabar perang? Bagaimana anak-anak secara tidak langsung terdampak oleh berita tentang perang? Dan apa yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut?
