Pertanyaan tersebut terlontar dari muluta salah satu keponakan penulis yang saat itu berusia 4 tahun. Ia menanyakan keberadaan kakeknya, yang biasa ia panggil “Genpa”, setelah satu tahun kakeknya meninggal. Ibunya menceritakan bahwa setelah satu tahun kakeknya berpulang, sang anak beberapa kali menanyakan keberadaan kakeknya. Sang ibu lalu memberikan penjelasan bahwa Genpa pergi ke surga. Bagi anak yang berumur 4 tahun, konsep surga merupakan hal yang belum sepenuhnya dimengerti. Lalu, bagaimana cara yang lebih tepat dalam menjelaskan kematian pada balita?

Baca lebih lanjut

Kehidupan individu berjalan tahap demi tahap sesuai dengan tugas perkembangannya, mulai dari masa bayi hingga usia lanjut. Demikian juga halnya dalam sebuah keluarga. Tanpa disadari, setiap keluarga berkembang dan beradaptasi secara bertahap seperti hanya manusia secara individu. Kondisi ini dimulai dari mempersiapkan kehidupan keluarga hingga nantinya kembali hidup berdua bersama pasangan. Dalam hal ini ada peran-peran tertentu yang diharapkan dapat dicapai keluarga inti melalui capaian tahapan perkembangan dalam sebuah keluarga. Apa saja tahapan pekermbangan dalam sebuah keluarga?

Baca lebih lanjut

Kehidupan pernikahan merupakan suatu tahapan dan tugas perkembangan yang biasanya dihadapi pada tahap dewasa muda. Banyak sekali dinamika yang ditimbulkan dari kehidupan pernikahan, baik itu relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun mertua-menantu. Ketika memasuki dunia pernikahan, seseorang akan masuk ke dalam tahap yang baru dalam kehidupan. Apalagi buat individu yang belum pernah masuk ke dalam dunia pernikahan, tentu perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari masa lajang menjadi ada pasangan. Ketika memasuki dunia pernikahan, seringkali menjadi dinamika yang sulit, terutama untuk mengembangkan relasi mertua dan menantu yang baik. Seperti apa dinamikanya?

Baca lebih lanjut

“Self love itu boleh nggak sih?”, “Ntar kita jadi egois kalau self love?”, “Nanti kalau kita self love, orang gak suka lagi sama kita?” Ungkapan di atas sering sekali terdengar ketika membahas mengenai self love. Baru-baru ini, sekumpulan anak-anak muda kurang lebih usia 18-25 tahun di salah satu komunitas gereja di Jakarta mulai menunjukkan kesadaran akan perlunya untuk melakukan self love. Ketika dilakukan survey ke beberapa anak muda, beberapa menjawab bahwa perlu untuk melakukan self love tapi beberapa ragu untuk melakukannya.

Baca lebih lanjut

Kehilangan adalah salah satu derita yang memilukan jiwa. Melepas suatu hal bukanlah perkara mudah, apalagi jika kita terbiasa “memiliki”-nya. Kematian merupakan salah satu momen kehilangan yang menimbulkan pilu dan duka, yang menyengsarakan jiwa yang ditinggalkan. Kematian menjadi puncak perpisahan kita dengan seseorang untuk selamanya. Menghadapi dan menerima duka adalah proses. Proses berduka sulit dijelaskan dan bersifat dinamis.

Baca lebih lanjut

Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.

Baca lebih lanjut

Dunia dan kondisi saat ini mengharuskan kita produktif, baik itu untuk menghasilkan barang dan jasa, ataupun untuk memenuhi tuntutan tugas yang berujung pada keuntungan atau profit. Dalam upaya untuk menjadi produktif, tidak jarang kita bekerja tanpa mengenal waktu, lembur, mengabaikan batasan sehat, hingga melupakan istirahat. Hal tersebut bisa bersumber dari faktor eksternal seperti tuntutan dan daftar tugas dari orang lain atau berasal internal, dari diri sendiri, seperti mengkhawatirkan tugas yang tidak selesai, dan juga kemungkinan mengecewakan orang lain. Dampak yang dirasakan pun beragam, mulai dari keluhan fisik ringan, penyakit tertentu atau masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Lalu, apakah hal ini harus dibiarkan? Ada solusi untuk permasalahan yang efektif untuk produktif? Metode yang bisa kita coba adalah dengan melakukan jeda dan rehat.

Baca lebih lanjut

Menurut beberapa artikel penelitian, manusia memiliki 6.000 lebih pikiran yang muncul dalam satu hari dan hampir sebagian besar pikiran tersebut berisi pemikiran negatif yang dapat memunculkan emosi negatif. Biasanya pikiran negatif yang muncul dapat berkaitan dengan penyesalan masa lalu, pengalaman negatif, atau berkaitan juga dengan kekhawatiran di masa depan. Pikiran-pikiran ini kadang muncul begitu saja, entah dari mana, dan kadang kita tidak sempat juga untuk memikirkan apa sebenarnya maksud dari pikiran tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita menjadi tidak fokus dan optimal untuk mengerjakan hal-hal penting yang harusnya kita utamakan.

Baca lebih lanjut

Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?

Baca lebih lanjut

Pendidikan merupakan hal mendasar yang penting bagi semua anak, tidak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD). Dengan berbagai tantangannya, anak dengan ASD tetap mampu belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan kondisi dan keadaan yang mereka alami. Siswa dengan ASD tentu masih dapat belajar dan bermain seperti anak pada umumnya. Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan lingkungan pembelajaran bagi anak dengan ASD?

Baca lebih lanjut