Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.
Month: April 2022
Dunia dan kondisi saat ini mengharuskan kita produktif, baik itu untuk menghasilkan barang dan jasa, ataupun untuk memenuhi tuntutan tugas yang berujung pada keuntungan atau profit. Dalam upaya untuk menjadi produktif, tidak jarang kita bekerja tanpa mengenal waktu, lembur, mengabaikan batasan sehat, hingga melupakan istirahat. Hal tersebut bisa bersumber dari faktor eksternal seperti tuntutan dan daftar tugas dari orang lain atau berasal internal, dari diri sendiri, seperti mengkhawatirkan tugas yang tidak selesai, dan juga kemungkinan mengecewakan orang lain. Dampak yang dirasakan pun beragam, mulai dari keluhan fisik ringan, penyakit tertentu atau masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Lalu, apakah hal ini harus dibiarkan? Ada solusi untuk permasalahan yang efektif untuk produktif? Metode yang bisa kita coba adalah dengan melakukan jeda dan rehat.
Menurut beberapa artikel penelitian, manusia memiliki 6.000 lebih pikiran yang muncul dalam satu hari dan hampir sebagian besar pikiran tersebut berisi pemikiran negatif yang dapat memunculkan emosi negatif. Biasanya pikiran negatif yang muncul dapat berkaitan dengan penyesalan masa lalu, pengalaman negatif, atau berkaitan juga dengan kekhawatiran di masa depan. Pikiran-pikiran ini kadang muncul begitu saja, entah dari mana, dan kadang kita tidak sempat juga untuk memikirkan apa sebenarnya maksud dari pikiran tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita menjadi tidak fokus dan optimal untuk mengerjakan hal-hal penting yang harusnya kita utamakan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2021 merilis data yang cukup mengkhawatirkan tentang tingginya angka kematian akibat bunuh diri. Lebih dari 700 ribu orang meninggal dalam setahun di seluruh dunia akibat bunuh diri, membuatnya menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Kajian tentang perilaku bunuh diri telah menjadi perhatian di bidang ilmu Psikologi. Dalam mengkaji berbagai kasus bunuh diri, sejumlah peneliti membagi perilaku tersebut menjadi dua jenis, yaitu self-injurious thoughts and behaviours (SITB) dan non-suicidal self-injury (NSSI). Apa beda keduanya dan bagaimana para peneliti memahami pemikiran dan perilaku melukai diri sendiri yang dapat mengarah pada bunuh diri?
Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?
Pendidikan merupakan hal mendasar yang penting bagi semua anak, tidak terkecuali bagi anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD). Dengan berbagai tantangannya, anak dengan ASD tetap mampu belajar dan mengikuti kegiatan pembelajaran dengan kondisi dan keadaan yang mereka alami. Siswa dengan ASD tentu masih dapat belajar dan bermain seperti anak pada umumnya. Lalu, apa yang perlu dilakukan untuk dapat mengoptimalkan lingkungan pembelajaran bagi anak dengan ASD?
“Chasing rainbows”, sebuah ungkapan yang terkesan positif, tetapi ternyata memiliki makna yang sama sekali berbeda. Mengapa demikian? Mengejar ujung pelangi adalah hal yang hampir mustahil dilakukan. Di ranah psikologi, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja (school-to-work) yang dialami oleh genarasi muda saat ini. Lalu, bagaimana gambaran generasi muda saat ini dalam “mengejar ujung pelangi” dalam pekerjaan mereka?
Marah merupakan salah satu bentuk emosi manusia. Ekspresi seseorang saat marah dapat terlihat dari wajahnya, intonasi suara, atau gerakan tubuhnya. Hal yang manusiawi jika seseorang marah. Marah berkaitan dengan otak dan hormon pada tubuh. Seseorang bisa marah karena beberapa sebab, di antaranya, haknya dilanggar, dihina, atau memang karena individu tersebut pemarah. Marah dihubungkan dengan emosi negatif. Individu yang pemarah biasanya tidak disukai oleh lingkungan. Individu yang tidak dapat mengendalikan marahnya dapat memicu konflik antar individu, memicu perilaku kekerasan, atau berpotensi terkena suatu penyakit tertentu.
Citra tubuh atau body-image adalah bagaimana representasi mental atau gambaran seseorang mengenai tubuhnya sendiri yang tertanam dalam pikirannya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai bayangan cermin dari apa yang dapat dilihat secara obyektif. Namun, kadang persepsi seseorang mengenai citra tubuhnya sendiri dapat merusak persepsi tersebut, seperti pada seseorang dengan gangguan makan. Sejumlah riset menyatakan bahwa seseorang dengan citra tubuh yang negatif cenderung lebih rentan terhadap gangguan mental. Mengapa demikian?
Perkembangan teknologi memudahkan pertukaran informasi dalam dunia sekarang ini. Dampaknya, individu lebih mudah dalam mengakses gaya hidup, mempelajari banyak hal baru dan berinteraksi dengan orang lain. Melihat mengenai kehidupan seseorang secara intens—misalnya tokoh idola, membuat kita akhirnya memiliki keinginan untuk memiliki hal yang serupa, misalnya memiliki baju yang indah, prestasi yang cemerlang serta tubuh yang ideal. Namun, “tubuh yang ideal” ini kadang memicu masalah psikologis yang problematik, terutama bagi remaja.
