Critical Thinking: Sebuah Perilaku Cermat Melawan Hoax di Dunia Digital

Digitalisasi di Indonesia ternyata belum disertai kesiapan para pemakainya dan memunculkan fenomena sosial. Dalam laporannya, Kemenkominfo mencatat bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat 11% dari tahun sebelumnya, yaitu dari 175,4 juta menjadi 202,6 juta pengguna. Peningkatan tersebut ternyata tidak dibarengi dengan kemahiran para warganet, salah satunya adalah kurangnya literasi digital (kemampuan untuk memahami dan menggunakan berbagai bentuk informasi). Lalu, hal buruk apa yang bisa terjadi?

Jika keterampilan literasi digital tidak dikuasai, maka akan berdampak pada performa pengguna di ranah digital yang akhirnya menimbulkan sejumlah polemik. Beberapa di antaranya berkaitan dengan etika di media sosial, penggunaan data pribadi, penyebaran informasi tidak benar, penipuan daring, cyberbullying, dan lain-lain. Dengan begitu, masalah-masalah yang muncul tersebut, khususnya terkait informasi tidak benar (hoax) menjadi fokus utama pemerintah.

Hoax sejatinya bukanlah fenomena yang baru, tetapi belakangan ini intensitas kejadiannya terus meningkat dan meraih atensi. Kemenkominfo mengklaim telah menemukan dan memblokir akses ke 565.449 konten negatif serta telah menerbitkan 1.773 klarifikasi mengenai misinformasi dan disinformasi yang tersebar luas di masyarakat. Hoax sendiri mengacu pada konten yang tidak benar atau tidak sepenuhnya benar, biasanya dalam bentuk misinformasi yang tidak disengaja atau disinformasi yang disengaja. Sebuah ulasan ilmiah berjudul “The Psychologyof Fake News” memaparkan bahwa ada beberapa hal yang membuat individu bisa terjebak pada hoax, yaitu kurangnya penalaran yang cermat, relevansi pengetahuan yang dimiliki, dan perilaku heuristik.

Dengan kata lain, seseorang akan mempercayai hoax karena mereka tidak bisa merefleksikan pengetahuan mereka pada suatu informasi atau bahkan pemahaman mereka sebelumnya akan suatu hal memang sudah tidak tepat. Selain itu, kebiasaan langsung menerima pemberitaan dari sumber yang dirasa kredibel guna menghemat usaha kognitif mampu memperbesar kemungkinan individu termakan hoax. Apalagi kebanyakan tajuk utama dari hoax sering menggugah emosi untuk merangsang keterkejutan, ketakutan, atau kemarahan. Maka dari itu, masalah ini tidak menjadi perhatian dari pemerintah saja, melainkan juga para pengguna internet perlu belajar agar terhindar dari hoax.

Cara sederhana yang bisa dilakukan supaya tidak mudah termakan oleh hoax adalah melalui critical thinking. Salah satu filsuf asal Amerika Serikat, yaitu John Dewey menyatakan bahwa critical thinking merupakan proses kognitif dengan pertimbangan yang aktif, terus menerus, dan saksama mengenai bukti-bukti yang mendukung informasi serta nantinya akan mengarahkan pada pembuatan keputusan. Bersikap obyektif terhadap suatu hal menjadi usaha untuk membiasakan critical thinking. Obyektif dalam bersikap akan membuat seseorang tidak mudah menerima atau menolak ketika dihadapkan pada sebuah informasi, khususnya dari media sosial. Melalui cara ini, kita bisa mengesampingkan segala bias yang mungkin menjadi pengganggu untuk menerima dan mengolah informasi. Selain itu, sebuah studi juga menunjukkan bahwa kepercayaan seseorang terhadap hoax berhubungan dengan kurangnya critical thinking dan kecenderungan pola pikir skeptis. Sehingga, melalui upaya menahan informasi untuk diolah secara lebih lanjut akan membantu individu terhindar dari hoax di era digitalisasi sekarang ini.

Perkembangan yang semakin pesat, apalagi dalam bidang teknologi tentu merubah tatanan hidup manusia. Masalah generasi saat ini sudah bukan lagi ketinggalan informasi, melainkan kelebihan informasi. Penyebaran hoax juga semakin marak terjadi di tengah gempuran media digital. Dengan demikian, setiap orang perlu bersikap obyektif supaya terbiasa mempertimbangkan banyak hal dalam menerima atau menolak informasi. Sebab, critical thinking itu berarti menangguhkan informasi untuk diproses lebih lanjut agar bisa dipercaya.

Author

  • Gabrielle Aipassa

    Gen Z yang kebetulan Sarjana Psikologi, makanya cocok jadi si paling mental health. Memilih menulis untuk menuangkan keresahannya terkait fenomena-fenomena sosial.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait