Perkembangan teknologi semakin cepat dan dinamis, bahkan terkadang memunculkan ide-ide yang bisa jadi tidak terbayangkan oleh kebanyakan manusia sebelumnya. Salah satunya adalah terkait dengan metaverse. Metaverse dapat diartikan sebagai suatu konsep lingkungan digital, yang menyediakan ruang yang menyerupai dunia nyata, yang dapat diakses antara lain dengan menggunakan augmented reality (AR), virtual reality (VR), serta blockchain, dengan didukung juga oleh sistem media sosial. Bahasa sederhananya, Metaverse ini memberikan kita ‘dunia sendiri’ dalam sebuah ruang virtual, didukung oleh berbagai fitur yang terhubung dengan dunia nyata. Sisi menarik dari perspektif psikologis dalam fenomena ruang-ruang virtual seperti metaverse ini adalah, bagaimana sepertinya manusia mulai memiliki kecenderungan untuk meninggalkan realitas dunia nyata lalu beralih ke sebuah dunia yang dikreasikan sendiri. Ini hampir mirip seperti bagaimana banyak orang kaya atau juga ilmuwan yang punya ide gila memindahkan manusia ke planet Mars. Sementara di dalam film-film Hollywood yang kekinian, motif ini antara lain tersirat dalam konsep multiverse.

Baca lebih lanjut

Hari ini, paling tidak ada dua aspek sangat krusial yang paling penting dalam kehidupan manusia, khususnya kehidupan manusia modern. Pertama, oksigen. Kedua, artifical intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Mungkin terdengar berlebihan. Akan tetapi, bisa jadi tidak juga jika kita merefleksi hari-hari dalam kehidupan kita. Kita mendapat rekomendasi makanan di aplikasi ojek daring, mendapat rekomendasi film yang sesuai dengan selera kita saat menonton film di aplikasi Netflix, mendapat rekomendasi lagu di aplikasi Spotify, jalan yang lebih lancar untuk dilalui dari aplikasi Google Maps atau Waze, dan sebagainya. Hidup kita menjadi lebih mudah, semua berkat teknologi AI. 

Baca lebih lanjut