Bayangkan Anda sedang berjalan di bawah rimbunnya pepohonan, merasakan udara segar menyapu wajah, dan mendengar melodi alami dari gemercik aliran sungai. Sinar matahari pagi yang hangat perlahan menyentuh kulit, sementara obrolan ringan dengan orang tersayang mengiringi langkah Anda. Pernahkah Anda merasa beban pikiran seolah terangkat setelah melakukannya? Ternyata, perasaan lega itu bukan sekadar sugesti. Itu adalah bukti nyata bagaimana alam bekerja memperbaiki kualitas hidup kita.
Tag: stres
Seorang ibu, kita panggil saja Mawar, memiliki pandangan yang ideal mengenai pengasuhan dan berbagai rencana dalam hidup, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan anak. Ia mengira bahwa hidup akan penuh dengan bunga dan pelangi. Atau dengan kata lain, semua akan indah dan berjalan sesuai rencana. Namun, pada kenyataannya tidak seperti itu. Rencana yang dibuatnya tidak berjalan dengan mulus, berakhir berantakan, bahkan disertai dengan dampak pada kesehatan mental dan fisiknya, seperti kelelahan, burnout, hingga stres yang berlarut-larut. Reaksi emosional seperti kecewa, marah dan sedih pun rentan untuk terjadi. Apakah Anda pernah mengalami hal serupa?
Kontak mata adalah perilaku komunikasi nonverbal yang penting yang sebagian besar dari kita menggunakannya dalam interaksi sosial. Kita tahu bahwa kontak mata membantu orang untuk mengkomunikasikan minat dan ketertarikan mereka terhadap pasangan berkomunikasi. Kontak mata juga penting untuk mengkomunikasikan ketertarikan dalam berinteraksi sosial dengan seseorang. Seringkali, kita harus menjaga kontak mata untuk memahami dan merespon terhadap petunjuk sosial dari orang lain. Kegagalan dalam melakukan kontak mata juga bisa disalah artikan oleh orang lain sebagai tidak tertarik ataupun tidak memperhatikan. Bagaimana dengan mereka yang hidup dengan autisme?
Depresi dan kecemasan merupakan masalah psikologis yang umum dihadapi oleh orang dewasa. Diperkirakan bahwa orang dewasa mengalami sekitar 25% gangguan depresi dan 10-20% mengalami gangguan kecemasan. Trauma masa kanak-kanak pada orang dewasa di Amerika disebabkan oleh 13,5% pelecehan verbal, 9,6% kekerasan fisik, dan 9,3% pelecehan seksual. Studi sebelumnya secara konsisten menemukan bahwa trauma masa kanak-kanak meningkatkan kerentanan seseorang mengalami depresi dan kecemasan pada usia dewasa awal.
“Stres”, makhluk apakah itu? Hampir setiap orang pernah menyebutnya. Stres ada dan dibutuhkan bagi manusia untuk bertumbuh dan berkembang. Ia adalah bagian dari kehidupan. Beberapa keadaan dapat menjadi sumber stres yang bersifat terus menerus dan melelahkan, seperti relasi yang negatif dengan keluarga dan teman sehari-hari, aktivitas sekolah/akademis/pekerjaan, perilaku diskriminatif, dsb. Beberapa juga berkaitan dengan rutinitas harian seperti kemacetan, hal-hal administrasi, keamanan di lingkungan rumah atau lingkungan tempat seseorang beraktivitas. Beberapa kejadian juga bersifat di luar kontrol manusia, seperti kematian dan bencana.
Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa sebanyak 21,8% generasi muda Indonesia yang berusia di atas 18 tahun mengalami obesitas. Angka tersebut juga terus mengalami peningkatan selama 5 tahun terakhir. Timbulnya masalah yang berkaitan dengan peningkatan berat badan dan obesitas pada generasi muda disebabkan oleh banyak faktor, antara lain konsumi makan yang tinggi lemak dan gula. Riset juga menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang mendorong munculnya obesitas, yaitu stresor dari tuntutan tahapan perkembangan yang harus dipenuhi. Di saat yang bersamaan, kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dalam hal apapun dapat menjadi stresor yang saat ini sering dialami oleh generasi muda yang berusia 18-25 tahun. Mengapa stres bisa memicu obesitas dan bagaimana mengatasinya?
