Saat sedang scrolling artikel di media sosial, penulis menemukan pertanyaan ini: “Apakah Anda lebih memilih membesarkan anak yang bahagia (happy child) atau anak yang resilien (resilient child)?” Sejenak penulis berpikir, tentu saja baiknya anak yang bahagia dan resilien. Namun, seringkali pola asuh orang tua cenderung jatuh ke salah satu di antaranya. Jika ingin anak bahagia, manjakan agar ia senang; jika ingin anak resilien, didiklah dengan keras agar ketika ia menghadapi kesulitan dalam hidup ia sudah terlatih. Namun, apakah betul demikian? Apakah ada cara membesarkan anak sehingga ia menjadi anak yang bahagia dan sekaligus resilien?

Baca lebih lanjut

Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.

Baca lebih lanjut

Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.

Baca lebih lanjut

Kintsugi atau kintsukuroi merupakan suatu kesenian Jepang yang cukup populer. Satu hal yang unik dari seni kintsugi ini, pengrajin menggunakan barang-barang keramik atau tembikar yang telah pecah atau rusak, kemudian kepingan pecahan tersebut diperbaiki kembali dengan cara direkatkan menggunakan emas atau perak. Siapa sangka barang keramik yang telah rusak kini dapat dipakai kembali, bahkan menjadi lebih indah dan bernilai dibandingkan sebelumnya? Kerajinan kintsugi ini walaupun terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki makna dan filosofi yang dalam, salah satunya adalah mengenai resiliensi.

Baca lebih lanjut