Bagi pengguna aktif media sosial saat ini pasti sudah sangat familiar dengan istilah “Daddy Issues”. Namun, istilah ini seringkali disalahpahami oleh banyak orang. Daddy issues sendiri bukanlah istilah medis ataupun psikologis yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), tetapi istilah ini memang sering digunakan di media sosial atau kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan perempuan yang memiliki pasangan pria yang umurnya lebih tua. Jadi, apa sebenarnya daddy issues itu?

Baca lebih lanjut

Dengan maraknya perkembangan internet dan media, berbagai macam informasi menjadi mudah diakses juga ditemukan. Penggunaan media dan internet sangat umum, apalagi di antara generasi muda. Menurut data Kemkoinfo (Rohmadini et al, 2020), 79,5% dari anak-anak dan remaja menggunakan internet. Internet merupakan dimensi yang penting dan bermanfaat bagi remaja dalam kehidupannya. Namun, muncul kekhawatiran mengenai paparan media yang bersifat seksual pada remaja. Seperti berkembangnya dampak negatif, khususnya perilaku seksual yang bersifat berisiko. Jadi, apakah benar paparan media berpengaruh kepada perilaku seksual remaja?

Baca lebih lanjut

Masih ingatkah Anda dengan kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur  yang mewajibkan siswa-siswi SMA dan SMK masuk sekolah pada pukul 05.00 pagi? Ya, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua menganggap kebijakan ini memberatkan mereka. Sejumlah protes pun bermunculan menanggapi keputusan yang kontroversial ini. Sudah tepatkah untuk menetapkan waktu aktivitas belajar murid sedini itu?

Baca lebih lanjut

Masa remaja dikenal sebagai suatu tahap atau proses kehidupan seseorang, yaitu peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pada masa remaja akan mengalami perubahan baik secara fisik, psikis, sosial maupun emosional. Oleh karena itu tahap perkembangan remaja penting dalam fase kehidupan seseorang. Riset menunjukkan bahwa adanya pengalaman yang kurang baik, kegagalan, maupun realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasi membuat remaja yang menjalin relasi sosial dapat menyebabkan remaja merasa gagal, tidak dihargai, tidak diterima, bahkan degradasi kepercayaan diri yang pada akhirnya menyebabkan remaja tersebut menjadi tertekan, stres dan tidak sejahtera.

Baca lebih lanjut

“Self love itu boleh nggak sih?”, “Ntar kita jadi egois kalau self love?”, “Nanti kalau kita self love, orang gak suka lagi sama kita?” Ungkapan di atas sering sekali terdengar ketika membahas mengenai self love. Baru-baru ini, sekumpulan anak-anak muda kurang lebih usia 18-25 tahun di salah satu komunitas gereja di Jakarta mulai menunjukkan kesadaran akan perlunya untuk melakukan self love. Ketika dilakukan survey ke beberapa anak muda, beberapa menjawab bahwa perlu untuk melakukan self love tapi beberapa ragu untuk melakukannya.

Baca lebih lanjut

Orangtua seringkali kebingungan ketika melihat perubahan perilaku pada anak yang sudah beranjak remaja. Terkadang juga tidak habis pikir dengan pola pikir ataupun buah pikiran yang dihasilkan oleh anak remajanya ini. Terjadi perdebatan-perdebatan mengenai permasalahan sehari-hari, terkadang perdebatan tersebut hanyalah mengenai pekerjaan rumah seperti mencuci piring yang menurut oragtua harusnya bisa segera diselesaikan tapi anak merasa bahwa pekerjaan itu lebih baik diselesaikan nanti saja. Ataupun mungkin saja mengenai jam tidur yang terlalu malam, jam bangun tidur yang terlalu siang, dan lain-lain.

Baca lebih lanjut