Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel berjudul “Kajian Psikologis Operasi Militer Khusus Rusia (Bag. 1): Kebutuhan Rasa Aman“. Para penulis hendak menjelaskan latar dari Rusia. Sebagaimana psikologi melihat tingkah manusia, begitupun dengan operasi militer khusus ini. Setidaknya mencoba memahami gejalanya berdasar psikologi. Tulisan Bagian pertama tersebut setidaknya memetakan tiga gejala, yakni identitas Rusia, Westernisasi Rusia di masa lalu, dan pengalaman pahit perang besar/Perang Patriorik Raya I/II.
Tag: perang
Peperangan apapun alasannya tetap menjadi bencana kemanusiaan. Banyak hal buruk akan muncul dan pada akhirnya luka fisik dan psikologis akan membekas. Tulisan ini dibuat dalam suasana peperangan di Eropa Timur, antara Rusia dan Ukraina. Rusia menggelar operasi militer khusus terhadap Ukraina dengan beberapa alasan. Tulisan ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama mengenai mengenali Rusia secara singkat dan padat, sekaligus pengalamannya sebagai bangsa. Artikel kedua akan dilanjutkan dengan penjelasan secara psikologis gejala perang ini.
Sejak Februari 2022 dunia tidak hanya dipertontonkan kabar pandemi, tetapi juga ketegangan militer yang berpusat di Ukraina. Hampir semua kanal berita televisi dan headline koran secara “vulgar” memperlihatkan realita yang mengaduk emosi kita semua, mulai dari tindakan agresi militer, perjalanan panjang pengungsi perang melewati perbatasan, hingga darah dan reruntuhan bangunan yang menyelimuti tubuh korban perang. Derasnya dan aksesibelnya informasi grafis terkait perang yang sedang terjadi juga tak terelakkan dari anak-anak kita meninggalkan “PR” baru bagi kita sebagai orang tua: perlukah anak-anak menyaksikan kabar perang? Bagaimana anak-anak secara tidak langsung terdampak oleh berita tentang perang? Dan apa yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut?
