Pembahasan mengenai multikulturalisme di Indonesia mengundang keasyikan tersendiri, terutama jika kita menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda. Tulisan Johanes Yotam dan Eko Meinarno di edisi psyence.id sebelumnya mengenai multikulturalisme dapat dikategorikan sebagai buah pikir optimistis atas multikulturalisme itu sendiri. Multikulturalisme dijelaskan dapat dibangun dan dibentuk, memiliki banyak keuntungan psikologis, dan lain-lain. Bahkan pada tataran pembentukan rasa kebangsaan, tampaknya multikulturalisme adalah jawaban yang paling tepat saat ini. Namun, apakah membangun cara pikir multikulturalisme itu tidak mempunyai hambatan?
Tag: identitas sosial
Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel berjudul “Kajian Psikologis Operasi Militer Khusus Rusia (Bag. 1): Kebutuhan Rasa Aman“. Para penulis hendak menjelaskan latar dari Rusia. Sebagaimana psikologi melihat tingkah manusia, begitupun dengan operasi militer khusus ini. Setidaknya mencoba memahami gejalanya berdasar psikologi. Tulisan Bagian pertama tersebut setidaknya memetakan tiga gejala, yakni identitas Rusia, Westernisasi Rusia di masa lalu, dan pengalaman pahit perang besar/Perang Patriorik Raya I/II.
Peperangan apapun alasannya tetap menjadi bencana kemanusiaan. Banyak hal buruk akan muncul dan pada akhirnya luka fisik dan psikologis akan membekas. Tulisan ini dibuat dalam suasana peperangan di Eropa Timur, antara Rusia dan Ukraina. Rusia menggelar operasi militer khusus terhadap Ukraina dengan beberapa alasan. Tulisan ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama mengenai mengenali Rusia secara singkat dan padat, sekaligus pengalamannya sebagai bangsa. Artikel kedua akan dilanjutkan dengan penjelasan secara psikologis gejala perang ini.
