Trigger Warning: Harap diperhatikan: artikel ini mungkin berisi pembahasan tentang bunuh diri, dan/atau referensi gangguan kesehatan mental lain yang mungkin menjadi pemicunya. Silakan lanjut membaca sesuai dengan pertimbangan Anda sendiri. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan prevalensi kasus bunuh diri di Indonesia adalah 2,6 kejadian per 100 ribu penduduk, yang mana temasuk kategori rendah. Hasil riset mengenai bunuh diri di Indonesia mengemukakan bahwa keluarga pelaku bunuh diri cenderung enggan mengungkapkan fakta bahwa telah terjadi kasus bunuh diri dalam keluarganya karena merasa malu terhadap stigma negatif yang mungkin akan disematkan ke mereka. Fenomena ini memicu munculnya dugaan banyak kasus bunuh diri yang tidak dilaporkan secara resmi sehingga mengesankan prevalensi bunuh diri di Indonesia berada dalam kategori rendah. 

Baca lebih lanjut

Depresi dan kecemasan merupakan masalah psikologis yang umum dihadapi oleh orang dewasa. Diperkirakan bahwa orang dewasa mengalami sekitar 25% gangguan depresi dan 10-20% mengalami gangguan kecemasan. Trauma masa kanak-kanak pada orang dewasa di Amerika disebabkan oleh 13,5% pelecehan verbal, 9,6% kekerasan fisik, dan 9,3% pelecehan seksual. Studi sebelumnya secara konsisten menemukan bahwa trauma masa kanak-kanak meningkatkan kerentanan seseorang mengalami depresi dan kecemasan pada usia dewasa awal.

Baca lebih lanjut

Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.

Baca lebih lanjut

Gangguan depresi merupakan isu kesehatan mental yang serius di tengah masyarakat dan penanganannya masih menjadi PR besar bagi semua pihak. Penanganan gangguan depresi yang efektif bisa dimulai dari identifikasi yang tepat mengenai akar permasalahannya. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa depresi dikaitkan dan juga disebabkan karena lemahnya iman atau kurangnya ikatan spiritualitas/religiusitas seseorang. Pada sejumlah kasus, masyarakat seringkali menuding orang mengalami depresi karena lemah iman. Padahal, depresi justru seringkali disebabkan karena lemahnya dukungan sosial. Dalam hal ini, masyarakat yang seharusnya menjadi support system secara ironis malah memberikan tudingan-tudingan negatif tertentu kepada seseorang yang mengalami gangguan depresi.

Baca lebih lanjut

Setiap individu akan merasa sedih ketika kehilangan orang yang dicintai ataupun menerima kabar buruk dari orang terdekat individu tersebut. Pada anak-anak, kesedihan akan lebih bersifat umum, seperti sedih ketika dilarang bermain oleh orang tua ataupun tidak diberi uang jajan. Setiap individu dengan rentang usia yang berbeda-beda, maka akan berbeda pula sumber kesedihannya. Selama seorang individu masih hidup, maka kesedihan bisa datang di waktu-waktu yang tidak terduga.

Baca lebih lanjut

Selama hampir dua tahun berlalu di masa pandemi Covid-19 yang tidak menentu ini, muncul sebuah “kebiasaan baru” yang tiba-tiba marak menjadi aktivitas rutin banyak orang (atau bahkan kita sendiri): berkebun. Hampir setiap hari kita mendengar percakapan orang-orang di sekitar kita terselip pembahasan tentang pengalaman berkebun. Entah apa yang mendorong orang-orang menjadikan berkebun menjadi rutinitas baru selama pandemi, atau mengapa di antara berbagai macam aktivitas yang bisa dilakukan di rumah, berkebun menjadi pilihan banyak orang. Memangnya apa sih manfaatnya menghabiskan waktu untuk menanam, merawat, dan mengembangbiakkan tanaman-tanaman di sekitar rumah bagi kesehatan mental kita?

Baca lebih lanjut

Dewasa ini isu kesehatan mental semakin menyebar luas, mulai dari selebgram, selebtok (seleb tiktok), para penyintas mental health, dan aktivis kesehatan mental pun seakan berlom-lomba menyuarakan isu kesehatan mental. Fenomena ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi respon positif masyarakat terkait kesehatan mental sangat luar biasa namun di sisi lain hal ini meningkatkan adanya peluang menjatuhkan kondisi kesehatan mental sendiri dengan self diagnose. Terbukanya informasi tentunya harus disikapi dengan bijak agar dampak positif ini dapat terus bertahan dan dampak negatif bisa diredam.

Baca lebih lanjut