Sejak Februari 2022 dunia tidak hanya dipertontonkan kabar pandemi, tetapi juga ketegangan militer yang berpusat di Ukraina. Hampir semua kanal berita televisi dan headline koran secara “vulgar” memperlihatkan realita yang mengaduk emosi kita semua, mulai dari tindakan agresi militer, perjalanan panjang pengungsi perang melewati perbatasan, hingga darah dan reruntuhan bangunan yang menyelimuti tubuh korban perang. Derasnya dan aksesibelnya informasi grafis terkait perang yang sedang terjadi juga tak terelakkan dari anak-anak kita meninggalkan “PR” baru bagi kita sebagai orang tua: perlukah anak-anak menyaksikan kabar perang? Bagaimana anak-anak secara tidak langsung terdampak oleh berita tentang perang? Dan apa yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut?
Anak adalah anugerah Tuhan yang tersuci, sebelum dilukisnya buku putih kehidupan mereka oleh orang tuanya. Selayaknya mereka mendapatkan pendidikan yang baik. Pendidikan benar-benar serius dalam menawarkan harapan. Dalam proses pendidikan di Indonesia, entah ada berapa guru yang asyik berceramah, menjadwalkan PR dan ulangan, menilai tugas, namun lupa tentang upayanya dalam meningkatkan minat belajar anak-anak didiknya.
Membuat rapport menjadi suatu hal yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan dengan klien atau orang lain. Kepercayaan yang diperoleh akan menjadi landasan untuk membangun kolaborasi, memengaruhi orang lain atau melakukan hal produktif lainnya. Namun demikian, seringkali kita tidak terlalu memikirkan strategi dalam membentuk rapport atau melakukan pendekatan yang layak.
Kata gender sering kita gunakan untuk menyimpulkan tingkah laku dan atribut seseorang sebagaimana jenis kelaminnya. Dan jika semua orang memiliki jenis kelamin dan berperilaku berdasarkan gendernya, bagaimana dengan ruang yang digunakan oleh individu dan kelompok untuk mengekspresikan identitas gendernya? Apakah ruang, sebagaimana manusia juga sebenarnya juga memiliki gender? Jika ya, maka apakah gender taman bermain anak-anak kita? Jantan atau betina?
Pada suatu waktu, saya “dicurhati” oleh seorang guru Sekolah Dasar (SD), bahwa salah satu siswa didiknya tidak bergabung saat pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan alasan mengantuk, tidak bisa fokus, dan tidak mood. Setelah ditelusuri, siswa tersebut tidur larut malam, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel pintar, dan senang makan makanan cepat saji. Tampaknya, gaya hidup siswa tersebut kurang sehat.
Setiap individu akan merasa sedih ketika kehilangan orang yang dicintai ataupun menerima kabar buruk dari orang terdekat individu tersebut. Pada anak-anak, kesedihan akan lebih bersifat umum, seperti sedih ketika dilarang bermain oleh orang tua ataupun tidak diberi uang jajan. Setiap individu dengan rentang usia yang berbeda-beda, maka akan berbeda pula sumber kesedihannya. Selama seorang individu masih hidup, maka kesedihan bisa datang di waktu-waktu yang tidak terduga.
Ketika mendengar kata pelecehan seksual banyak dari masyarakat yang akan mengaitkan peristiwa pelecehan seksual dengan jenis kelamin pelaku maupun korban. Tidak sedikit masyarakat yang mempersepsikan bahwa laki-laki seringkali menjadi pelaku sedangkan perempuan seringkali menjadi korban dalam peristiwa pelecehan seksual. Namun, seiring berjalannya waktu masyarakat semakin sadar mengenai fakta bahwa laki-laki juga dapat menjadi korban dari pelecehan seksual. Meskipun demikian, pemahaman bahwa laki-laki dapat dilecehkan dan perempuan dapat melecehkan belum banyak ditemukan dalam literatur karena sebagian besar literatur masih mengaitkan pelecehan seksual oleh laki-laki terhadap perempuan.
Sejak pandemi terjadi pada tahun 2020, interaksi antarmanusia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Pertemuan yang awalnya dapat dilakukan secara langsung/luring harus berubah menjadi daring demi mencegah penyebaran virus COVID-19 di masyarakat. Sejalan dengan itu, berbagai aplikasi video conference juga mulai bermunculan dan menjadi satu kebutuhan bagi banyak kalangan. Dimulai dari anak-anak yang menggunakannya untuk bersekolah, hingga individu dewasa yang menggunakannya untuk bekerja atau berinteraksi dengan teman serta keluarga.
Hingga saat ini, banyak anak yang mengalami kekerasan seksual. Apa itu kekerasan seksual? KBBI mengartikan ‘kekerasan’ sebagai sesuatu yang mempunyai sifat keras atau adanya sebuah paksaan dalam suatu perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan kerusakan fisik atau suatu barang, sedangkan ‘seksual’ sebagai sesuatu yang berkaitan dengan seks (jenis kelamin) atau perkara persetubuhan antara laki-laki dengan perempuan. Apabila kedua pengertian istilah tersebut digabungkan, maka kekerasan seksual diartikan sebagai tindakan memaksa seseorang atau sekelompok orang yang berkenaan dengan seks, di mana tindakan tersebut menyebabkan adanya kerusakan pada korban.
Suatu hari, seorang teman bertanya kepada saya, mengapa untuk menyusun alat ukur psikologi membutuhkan cara rumit dan waktu yang amat-sangat lama? Bukankah kita cukup menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia saja? Saya tertawa dalam hati, wah belum tahu dia! Sebagai gambaran, alat ukur yang saya gunakan dalam tesis saya kemarin membutuhkan waktu kurang lebih 6 bulan dari proses translasi hingga bisa digunakan. Proses ini mencakup alih bahasa ke bahasa Indonesia-sintesa-back translate-uji baca-uji ahli baru ke pilot study. Jika hasil pilot studi ternyata tidak bagus? Ya, silahkan kembali ke awal.
