Hari ini, paling tidak ada dua aspek sangat krusial yang paling penting dalam kehidupan manusia, khususnya kehidupan manusia modern. Pertama, oksigen. Kedua, artifical intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Mungkin terdengar berlebihan. Akan tetapi, bisa jadi tidak juga jika kita merefleksi hari-hari dalam kehidupan kita. Kita mendapat rekomendasi makanan di aplikasi ojek daring, mendapat rekomendasi film yang sesuai dengan selera kita saat menonton film di aplikasi Netflix, mendapat rekomendasi lagu di aplikasi Spotify, jalan yang lebih lancar untuk dilalui dari aplikasi Google Maps atau Waze, dan sebagainya. Hidup kita menjadi lebih mudah, semua berkat teknologi AI.
Kita sering mendengar istilah “ramah anak” yang dikaitkan dengan objek lain seperti “mainan ramah anak” ataupun “ruang ramah anak”. Sayangnya, meski sering kita dengar tak banyak yang memahami arti “ramah anak” sehingga konsep yang terdengar catchy ini sulit kita manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, penelitian atau bahkan kebijakan publik. Tulisan ini merupakan bagian pertama dari total tiga artikel yang menjelaskan serba-serbi ruang ramah anak dan implikasinya bagi dunia penelitian dan kebijakan. Pada artikel pertama ini, kita akan sejenak memundurkan waktu guna mengenali sejarah dan definisi konsep “ramah anak” secara umum.
Perbedaan generasi, atau lebih dikenal sebagai generation gap, masih menjadi topik perbincangan yang hangat dibahas dalam dunia kerja. Dua generasi yang kini mendominasi usia produktif di dunia kerja, yaitu Generasi X dan Generasi Milenial kerap diperbandingkan dalam satu dan lain hal. Bagaimana kedua generasi tersebut dipandang dari sudut pandang sejumlah aspek yang bersinggungan dengan performa kerja mereka?
Pernahkan Anda menyadari bahwa aroma atau wewangian tertentu memiliki pengaruh terhadap pikiran dan tindakan kita? Sebagian dari kita pasti pernah melihat seseorang (atau bahkan mungkin kita sendiri) mencoba mencium aroma makanan yang dihidangkan sebelum memutuskan untuk memakannya atau tidak. Atau, wewangian tertentu bisa membuat kita merasa lebih rileks, sedangkan wewangian lainnya membuat kita lebih terjaga. Kadang kita juga teringat akan peristiwa dan emosi yang kita rasakan di masa lalu ketika tiba-tiba mencium aroma tertentu, kemudian membuat kita mengalami emosi itu kembali. Mengapa bebauan tertentu bisa berperan dan kadang menentukan perilaku kita sehari-hari, meskipun kita tidak menyadarinya?
Selama ini, perdebatan mengenai uang sebagai sumber kebahagiaan terus mengemuka. Tidak sedikit yang meyakini bahwa uang yang kita punya tidak menjamin kebahagiaan yang kita rasakan. Namun, sejumlah orang lainnya justru beranggapan sebaliknya: uang merupakan faktor penting untuk mendapatkan kebahagiaan. Benarkah demikian? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan, asalkan
Kebahagiaan sering dianggap sebagai salah satu pilar kualitas hidup. Namun, pada kenyataannya tidak selalu demikian. Sebuah penelitian yang meninjau sejumlah penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa ada kalanya pada kondisi dan situasi tertentu, kebahagiaan justru memiliki konsekuensi negatif terhadap kesejahteraan psikologis. Lalu, kapan kebahagiaan menampilkan sisi kelamnya?
