Tindakan kekerasan seksual masih terus menjadi salah satu masalah besar di Indonesia. Catatan Tahunan (Catahu) 2021 yang dirilis oleh Komnas Perempuan menunjukkan tingginya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada ranah komunitas/publik, yaitu sebesar 1.731 kasus atau 21% dari total kasus yang tercatat pada tahun 2021. Dari angka tersebut, 962 kasus merupakan kekerasan seksual, 166 kasus pencabulan, 229 kasus perkosaan, 181 kasus pelecehan seksual, dan 5 kasus persetubuhan. Data ini menunjukkan situasi yang sangat memprihatinkan, terlebih lagi mengingat tidak semua kasus dilaporkan secara resmi. Dampaknya pun pasti bukanlah perkara yang ringan, baik secara medis maupun psikologis.
Category: Tips dan strategi
Dunia dan kondisi saat ini mengharuskan kita produktif, baik itu untuk menghasilkan barang dan jasa, ataupun untuk memenuhi tuntutan tugas yang berujung pada keuntungan atau profit. Dalam upaya untuk menjadi produktif, tidak jarang kita bekerja tanpa mengenal waktu, lembur, mengabaikan batasan sehat, hingga melupakan istirahat. Hal tersebut bisa bersumber dari faktor eksternal seperti tuntutan dan daftar tugas dari orang lain atau berasal internal, dari diri sendiri, seperti mengkhawatirkan tugas yang tidak selesai, dan juga kemungkinan mengecewakan orang lain. Dampak yang dirasakan pun beragam, mulai dari keluhan fisik ringan, penyakit tertentu atau masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan stres yang berkepanjangan. Lalu, apakah hal ini harus dibiarkan? Ada solusi untuk permasalahan yang efektif untuk produktif? Metode yang bisa kita coba adalah dengan melakukan jeda dan rehat.
Menurut beberapa artikel penelitian, manusia memiliki 6.000 lebih pikiran yang muncul dalam satu hari dan hampir sebagian besar pikiran tersebut berisi pemikiran negatif yang dapat memunculkan emosi negatif. Biasanya pikiran negatif yang muncul dapat berkaitan dengan penyesalan masa lalu, pengalaman negatif, atau berkaitan juga dengan kekhawatiran di masa depan. Pikiran-pikiran ini kadang muncul begitu saja, entah dari mana, dan kadang kita tidak sempat juga untuk memikirkan apa sebenarnya maksud dari pikiran tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita menjadi tidak fokus dan optimal untuk mengerjakan hal-hal penting yang harusnya kita utamakan.
Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.
Dalam perjalanan hidup, setiap peristiwa yang dilewati akan mendatangkan berbagai warna emosi. Ada kalanya kita sedih, ada kalanya sedih terganti dengan senang. Kadang kita menghadapi situasi yang memalukan, tapi ada titik di mana kita berjumpa dengan rasa bangga. Terkait dengan ragam emosi tersebut, kebanyakan manusia kemudian akan mengupayakan suatu kondisi yang disebut: Bahagia. Katanya, Bahagia adalah tujuan.
Manusia adalah makhluk yang berelasi dalam kehidupannya. Hal tersebut menjadi dasar beberapa teori Psikologi. William Glasser, psikiater asal Amerika Serikat, menyatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhannya, manusia perlu berelasi dengan orang lain, mengacu pada kebutuhan love and belongingness. Jika kebutuhan tersebut terusik, maka permasalahan yang lebih kompleks termasuk untuk memenuhi kebutuhan yang lain juga akan bermasalah. Hal senada juga dinyatakan oleh Abraham Maslow yang juga menyebutkan bahwa akar permasalahan patologi berasal dari masalah kebutuhan akan cinta dan perasaan dimiliki/kepemilikan (love and belongingness).
Ketika anaknya berusia 2 tahun dan belum mengucapkan satu patah kata pun, seorang ibu sudah mulai khawatir dan bertanya-tanya dalam hatinya, “Ada apa dengan anakku? Apakah hal tersebut normal atau tidak?” Tidak banyak yang diketahui oleh sang ibu tersebut, karena pengalamannya bersama anaknya itu merupakan pengalaman pertamanya menjadi seorang ibu. Sungguh anugerah yang luar biasa baginya, tapi tidak banyak yang ia ketahui mengenai pengasuhan dan perkembangan anak, karena memang tidak dipelajari ketika ia bersekolah maupun berkuliah. Sang ibu berdiskusi dengan suami dan orang-orang di sekitar, banyak yang berpendapat bahwa ia hanya perlu menunggu hingga anaknya akan mulai berbicara pada waktunya.
Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi akhir-akhir ini membuat masyarakat resah. Pasalnya, dugaan terjadinya tindakan asusila ini terjadi di lingkungan pendidikan dan dilakukan oleh orang berpendidikan pula. Diantaranya dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pimpinan fakultas kepada mahasiswi bimbingannya. Belum lagi kasus lain yang tidak kalah mengkhawatirkan, seperti pelecehan seksual oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Kasus viral lain di media sosial yang juga menarik simpati masyarakat adalah naiknya tagar #SaveNoviaWidyasari, seorang mahasiswi yang juga mengalami kekerasan seksual oleh pacarnya sendiri, dan bunuh diri di samping makam ayahnya. Lalu juga kasus pemerkosaan yang terjadi di lingkungan pesantren yang justru dilakukan guru sekaligus pemimpin pondok pesantren kepada 12 santriwatinya.
Sejak Februari 2022 dunia tidak hanya dipertontonkan kabar pandemi, tetapi juga ketegangan militer yang berpusat di Ukraina. Hampir semua kanal berita televisi dan headline koran secara “vulgar” memperlihatkan realita yang mengaduk emosi kita semua, mulai dari tindakan agresi militer, perjalanan panjang pengungsi perang melewati perbatasan, hingga darah dan reruntuhan bangunan yang menyelimuti tubuh korban perang. Derasnya dan aksesibelnya informasi grafis terkait perang yang sedang terjadi juga tak terelakkan dari anak-anak kita meninggalkan “PR” baru bagi kita sebagai orang tua: perlukah anak-anak menyaksikan kabar perang? Bagaimana anak-anak secara tidak langsung terdampak oleh berita tentang perang? Dan apa yang dapat dilakukan orang tua dalam mengatasi dampak tersebut?
Membuat rapport menjadi suatu hal yang harus dilakukan untuk membangun kepercayaan dengan klien atau orang lain. Kepercayaan yang diperoleh akan menjadi landasan untuk membangun kolaborasi, memengaruhi orang lain atau melakukan hal produktif lainnya. Namun demikian, seringkali kita tidak terlalu memikirkan strategi dalam membentuk rapport atau melakukan pendekatan yang layak.
