Perkembangan pesat teknologi dan semakin derasnya arus informasi membuat manusia, secara sadar maupun tidak, menjadi sangat lekat dengan ponsel/gadget, mulai dari anak-anak hingga lansia. Pada dasarnya, banyak manfaat yang bisa didapatkan dari perkembangan teknologi. Namun, jika digunakan secara berlebihan, seperti munculnya perilaku phubbing, tentu akan berdampak negatif bagi berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam relasi pernikahan.
Category: Tips dan strategi
Kematian akan dialami oleh setiap makhluk hidup, cepat atau lambat. Selama ini kita terpola dengan pandangan atau asumsi bahwa anak yang akan mengurus orang tua di saat tua dan orang tua yang akan meninggal terlebih dahulu. Tidak pernah terbersit dalam pemikiran kita bahwa orang tua ditinggalkan oleh anak, dan menjadi pihak yang harus mengurus proses pemakaman dan mengalami duka ditinggalkan oleh anak yang dikasihi.
Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Oleh karena itu, orang tua umumnya ingin mengetahui setiap aspek kehidupan anak, seperti bagaimana proses belajarnya di sekolah, dengan siapa saja ia berteman, dan apa masalah yang sedang sedang dialami anak, agar orang tua dapat memastikan anak mereka dalam kondisi yang baik. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, anak ternyata semakin membutuhkan privasi di dalam hidupnya. Kebutuhan ini umumnya akan semakin intens saat anak memasuki usia remaja.
Bulan April dan Mei merupakan bulan-bulan penting bagi para penggiat kesehatan mental. April didaulat sebagai Counseling Awareness Month sedangkan Mei merupakan Mental Health Awareness Month. Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental, layanan konseling pun semakin diminati. Bagi individu yang akan memulai konseling, mungkin muncul perasaan penasaran, bersemangat, atau mungkin merasa takut dan gugup dalam memulai konseling. Apa saja hal penting yang perlu dipahami oleh calon klien saat menghadapi proses konseling?
“Saya bekerja dan memiliki penghasilan. Sepertiga penghasilan saya digunakan untuk menghidupi orang tua saya. Sepertiga lagi saya gunakan untuk membayar hutang dari bisnis orang tua saya. Sepertiga sisanya saya gunakan untuk biaya hidup saya selama satu bulan. Jujur saya sedang bingung karena sekarang saya masih sendiri. Akan tetapi, sebentar lagi saya mau menikah dan bingung mau membiayai keluarga saya nanti seperti apa.” Begitulah kisah dan keluh kesah dari sebagian kecil dari para sandwich generation yang memiliki beban menghidupi diri sendiri, orang tua, dan juga anak-anaknya. Apakah Anda termasuk yang memiliki kisah yang serupa? Lalu apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangkan semua kebutuhan?
Dalam dunia ini, kita memiliki hal yang dianggap penting atau berharga. Buat sebagian besar orang, hal tersebut bisa berupa kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Bagi sebagian yang lain, hal yang utama dalam hidup adalah hubungan yang harmonis dan dikasihi oleh orang terdekat. Bagi istri, rasa sayang suami menjadi hal yang paling penting dalam hidupnya. Bagi anak, rasa sayang orang tua menjadi hal yang penting. Lalu, sebagai orang tua, apa hal yang penting bagi kita?
Relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, karena di dalamnya ada ekspektasi yang dimiliki masing-masing pihak. Semakin kita kenal dekat dengan seseorang, semakin kita rentan terhadap kekecewaan saat ekspektasi tidak terpenuhi. Contohnya, hubungan antara orang tua dan anak, yang tidak jarang diwarnai konflik ketika berada dalam satu rumah lantaran kedekatan emosional yang mereka miliki. Bandingkan dengan relasi antara satu orang dengan orang asing yang terlihat baik-baik saja. Hal tersebut seperti pepatah: jika (hubungan) dekat maka akan terasa bau, sedangkan saat berjauhan lebih terasa wangi. Apa maksudnya?
Pertanyaan tersebut terlontar dari muluta salah satu keponakan penulis yang saat itu berusia 4 tahun. Ia menanyakan keberadaan kakeknya, yang biasa ia panggil “Genpa”, setelah satu tahun kakeknya meninggal. Ibunya menceritakan bahwa setelah satu tahun kakeknya berpulang, sang anak beberapa kali menanyakan keberadaan kakeknya. Sang ibu lalu memberikan penjelasan bahwa Genpa pergi ke surga. Bagi anak yang berumur 4 tahun, konsep surga merupakan hal yang belum sepenuhnya dimengerti. Lalu, bagaimana cara yang lebih tepat dalam menjelaskan kematian pada balita?
Kehidupan pernikahan merupakan suatu tahapan dan tugas perkembangan yang biasanya dihadapi pada tahap dewasa muda. Banyak sekali dinamika yang ditimbulkan dari kehidupan pernikahan, baik itu relasi suami-istri, orang tua-anak, maupun mertua-menantu. Ketika memasuki dunia pernikahan, seseorang akan masuk ke dalam tahap yang baru dalam kehidupan. Apalagi buat individu yang belum pernah masuk ke dalam dunia pernikahan, tentu perlu waktu untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dari masa lajang menjadi ada pasangan. Ketika memasuki dunia pernikahan, seringkali menjadi dinamika yang sulit, terutama untuk mengembangkan relasi mertua dan menantu yang baik. Seperti apa dinamikanya?
“Self love itu boleh nggak sih?”, “Ntar kita jadi egois kalau self love?”, “Nanti kalau kita self love, orang gak suka lagi sama kita?” Ungkapan di atas sering sekali terdengar ketika membahas mengenai self love. Baru-baru ini, sekumpulan anak-anak muda kurang lebih usia 18-25 tahun di salah satu komunitas gereja di Jakarta mulai menunjukkan kesadaran akan perlunya untuk melakukan self love. Ketika dilakukan survey ke beberapa anak muda, beberapa menjawab bahwa perlu untuk melakukan self love tapi beberapa ragu untuk melakukannya.
