Salah seorang psikolog melakukan konseling secara daring di area kerja yang terbuka. Pada sesi konseling tersebut, psikolog sempat menyebutkan identitas klien di awal sesi lalu memanggil dengan sapaan Bapak dan Ibu di sepanjang sesi konseling. Pertanyaan yang diberikan kepada klien, parafrase yang dilakukan untuk menanggapi klien cukup terdengar  jelas oleh orang di sekelilingnya. Selain itu, orang di sekitar juga bisa mendengar beberapa informasi mengenai klien termasuk alasan mencari bantuan. Apakah pelaksanaan sesi konseling bukan pada ruangan tertutup merupakan pelanggaran kode etik? Lalu informasi apa saja yang dimaksud dengan informasi rahasia?

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda berteman dengan lawan jenis, di mana pertemanan tersebut terasa sangat dekat, sangat hangat atau lebih mudah disebutnya dengan kata “sahabat”? Jika pernah, apa perasaan Anda yang muncul terhadap “sahabat” Anda tersebut? Apakah muncul rasa suka dan keinginan untuk membangun hubungan romantis dengannya? Mungkin hal tersebut terdengar lazim dijumpai. Atau, yang terjadi adalah sebaliknya: apakah Anda berpikir bahwa sahabatan dengan lawan jenis pasti tidak saling suka? Agaknya tidak sedikit pula yang menganggap bahwa persahabatan antara lawan jenis murni sebuah jalinan pertemanan, tanpa melibatkan perasaan atau romantisme sama sekali.

Baca lebih lanjut

Bunuh diri telah menjadi suatu permasalahan perilaku yang seringkali dijumpai pada kehidupan masa sekarang ini. WHO mencatat bahwa ada satu kematian tiap 40 detik karena bunuh diri setiap tahunnya. Bahkan, secara lebih lanjut bunuh diri telah menjadi penyebab kematian urutan kedua dalam rentang usia 15-29 tahun dengan 79% kasus yang terjadi pada negara berpendapatan rendah hingga menengah. Hal tersebut menjadikan kaum muda sebagai kelompok populasi yang sangat riskan untuk bisa dengan mudahnya mengakhiri hidup. Dalam memprediksi kasus bunuh diri, kajian mengenai ide bunuh diri (suicidal ideation) sebagai awalan dari perilaku ekstrem tersebut menjadi penting. Tidak hanya itu, perlu diketahui pula cara yang bisa diupayakan agar meminimalisir munculnya ide bunuh diri.

Baca lebih lanjut

“Saya merasa belum terlalu kenal sama teman-teman, karena biasanya cuma ngobrol online lewat (Microsoft) Teams atau chat, dan belum pernah ketemu langsung.” Ini adalah salah satu komentar yang pernah saya dapatkan saat berbicara secara informal dengan beberapa mahasiswa yang saya ajar. Pandemi selama dua tahun memang memberikan dampak pada interaksi manusia, termasuk interaksi mahasiswa selama perkuliahan. Namun, tahun ini mahasiswa akan kembali lebih banyak melakukan pertemuan secara langsung (luring) setelah sekian lama mereka hanya bertemu melalui layar atau pesan singkat. Ada yang sudah tidak sabar hal ini terjadi, tetapi ternyata ada juga yang mengalami kebingungan atau bahkan cemas dengan situasi harus bertemu orang lain secara langsung.

Baca lebih lanjut

Keluarga Cemara yang terdiri dari Abah, Emak, Euis, Cemara/Ara dan Ragil telah menetap sekian tahun di desa mengalami berbagai tantangan baru. Abah mendapatkan pekerjaan baru di peternakan ayam sehingga mengharuskannya lebih banyak di luar rumah dan belum bisa menepati janji untuk memperbaiki kamar baru Ara. Euis yang beranjak remaja juga memiliki kesibukan di luar rumah sehingga tidak bisa menjemput Ara pulang sekolah—seperti yang dijanjikan sebelumnya. Emak, berusaha untuk mengembangkan bisnis sampingan opak sehingga kurang memperhatikan perkembangan anak-anaknya kecuali Ragil yang masih balita. Intinya, keluarga ini memiliki banyak sekali kesibukan sehingga kurang bisa meluangkan waktu dengan anggota keluarga yang lain. Sounds familiar?

Baca lebih lanjut

Usia keemasan atau golden age merupakan periode yang terjadi ketika anak masih berada di masa usia dini, yaitu ketika anak berusia 0-6 tahun. Pada masa golden age inilah otak berkembang pesat (eksplosif). Sejak lahir, otak anak tidak membentuk sel saraf otak kembali, namun pada masa ini terjadi penutupan akson sel saraf dan pembentukan hubungan antar sel, di mana dua hal tersebut berperan penting terhadap kecerdasan anak. Penelitian menyebutkan bahwa kapabilitas kecerdasan manusia terjadi atau terbentuk dengan pesat pada awal kehidupan. Lebih spesifiknya, 50% diantaranya terbentuk ketika manusia berusia 4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun. Lalu, bagaimana peran orangtua dalam mengoptimalkan usia emas anak?

Baca lebih lanjut

Usia muda seperti remaja merupakan periode di mana seseorang mengalami banyak perubahan dari aspek fisik, sosial, maupun emosional. Usia muda juga merupakan usia di mana isu kesehatan mental mulai banyak muncul dalam diri seseorang, di antaranya gangguan kecemasan dan depresi. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menemukan bahwa usia 15-24 tahun merupakan kelompok usia yang berada pada urutan keempat tertinggi dari tujuh kelompok usia dengan depresi dan gangguan mental emosional. Namun kelompok usia ini ternyata memiliki angka paling rendah dalam pengobatan depresi (5,25%). Hal ini juga didukung dengan pernyataan WHO di tahun 2021 bahwa secara global 1 dari 7, sekitar 14%, individu berusia 10 – 19 tahun mengalami kondisi-kondisi kesehatan mental yang sebagian besar tidak ditangani. 

Baca lebih lanjut

Di artikel sebelumnya (“Saya Akan Konseling: What To Expect?“), penulis telah memaparkan hal-hal yang mungkin akan terjadi saat memulai konseling. Setelah seseorang memulai konseling, mungkin akan muncul pertanyaan-pertanyaan baru mengenai proses konseling. Beberapa konseling mungkin akan terasa tidak nyaman bagi individu karena menguak hal-hal yang mendalam atau luka-luka di masa lampau. Namun, ada beberapa peringatan dan tanda-tanda (red flags) yang perlu disadari dari proses konseling yang mengindikasikan bahwa proses konseling sudah tidak profesional, tidak sehat, bahkan mungkin perlu dihentikan. Apa saja hal-hal penting yang perlu disadari oleh klien ketika berada dalam sebuah sesi konseling? Berikut ini beberapa hal yang perlu dicermati: Konselor membocorkan percakapan klien tanpa persetujuan klien. Di dalam konseling, terdapat prinsip kerahasiaan, atau confidentiality, di mana konselor wajib untuk menjaga percakapan klien selama konseling. Ada beberapa batasan juga dalam confidentiality yang mengizinkan bahkan mewajibkan konselor untuk membuka isi percakapan tanpa perlu persetujuan klien, misalnya klien membahayakan dirinya dan

Baca lebih lanjut

Beberapa dari kita seringkali bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi kalau kita mengambil keputusan yang berbeda dalam hidup?”. Wujud pertanyaannya bisa diajukan dalam berbagai konteks, seperti pekerjaan “Bagaimana ya kalau dulu lebih memilih masuk ke perusahaan A dibandingkan tempat kerja sekarang?” Mungkin juga dalam hubungan asmara “Bagaimana ya jika dulu bertahan dengan mantan pacar dan tidak putus?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita mengingat kembali hal-hal yang sudah dilalui. Seringkali juga diikuti dengan membuat skenario dari pilihan lain yang tidak kita ambil saat itu, atau disebut juga skenario “what if”. “What if” menjadi tanda bahwa ada hal yang kita bandingkan dari masa sekarang dengan kemungkinan lain di masa lalu yang tidak kita pilih.

Baca lebih lanjut
keluarga cemara

Keluarga Cemara merupakan cerita dari sinetron lawas yang diangkat dalam bentuk layar lebar di tahun 2018. Keluarga ini terdiri dari Abah (ayah), Emak (ibu), dan anak-anaknya, Euis dan Ara/Cemara. Dikisahkan pada film pertama ini, keluarga Cemara mengalami kebangkrutan karena penipuan dalam bisnis, sehingga rumah mereka disita dan mereka berpindah ke desa untuk melanjutkan kehidupan. Abah mengamati dan berasumsi bahwa keluarga kecilnya tidak kerasan di desa hingga ia memutuskan (secara sepihak) untuk menjual rumah di desa sebagai modal untuk kembali ke Jakarta. Hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi anak-anak, terutama Euis dan Ara yang mulai beradaptasi dan menyukai lingkungan barunya. Asumsi yang tidak disertai komunikasi yang lancar membuat keputusan yang dibuat Abah keliru dan tidak mendapat persetujuan anggota keluarga yang lain.

Baca lebih lanjut