Pernahkah Anda atau teman Anda membeli merchandise K-Pop hanya karena ingin mengoleksi photocard idola, padahal sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya? Perilaku ini mungkin terdengar akrab di kalangan penggemar musik Korea, tetapi tahukah Anda bahwa hal tersebut bisa menjadi bagian dari pembelian kompulsif? Apa itu pembelian kompulsif? Mari selami lebih dalam mengapa kita—atau orang di sekitar kita—terkadang sulit mengontrol keinginan belanja saat menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan idola favorit!

Baca lebih lanjut

Pemerintah era Prabowo Subianto tampaknya akan mengganti orientasi pendidikan tinggi di Indonesia. Jika pemerintahan sebelumnya pendidikan tinggi berkutat dengan tenaga terampil atau ahli, plus capaian internasionalisasi (yang ternyata bukan perkara mudah), menjadi “yang berdampak kepada masyarakat”. Hal ini yang kemudian dioperasionalkan menjadi “belanja masalah pada masyarakat”. Banyak lulusan yang memiliki kompetensi tinggi, tapi industri belum secanggih yang dibayangkan lulusan. Dengan demikian yang dibutuhkan sarjana yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca lebih lanjut

Rusia yang saat ini tengah melakukan peperangan dengan Ukraina menunjukkan kapasitas diri yang patut diperhatikan. Rusia mampu melakukan peperangan tanpa jeda selama hampir tiga tahun (sejak mulai Februari 2022). Sebagaimana alasan utama Rusia memulai aksi ini sebagai langkah pertahanan diri dari Eropa bagian barat dan Amerika Serikat. Lalu, apa kaitannya dengan agama?

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda membayangkan hidup dalam dunia di mana warna-warni pelangi tak lagi memukau, atau ketika memilih pakaian menjadi tugas yang membingungkan? Bagi jutaan penderita buta warna di seluruh dunia, ini adalah realitas sehari-hari. Lebih dari sekadar ketidakmampuan membedakan warna, kondisi ini membawa beban psikologis yang sering kali luput dari perhatian masyarakat. Dari kesulitan mengenali rambu lalu lintas hingga hambatan dalam memilih karir, penderita buta warna menghadapi tantangan unik yang dapat berdampak signifikan pada kesejahteraan mental dan kualitas hidup mereka.

Baca lebih lanjut

Kita tentu familier dengan pandangan bahwa untuk mencapai kesuksesan diperlukan kerja keras. Bahkan kita memiliki peribahasa, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” yang bisa diartikan bahwa untuk memperoleh kesuksesan kita perlu bekerja keras terlebih dahulu. Memang, sepertinya mustahil melihat orang-orang yang bermalas-malasan menjadi sukses. Namun, apakah dengan kerja keras saja cukup untuk mencapai kesuksesan?

Baca lebih lanjut

Dalam keseharian, kita melihat orang yang mengenakan atribut agama akan kita sebut sebagai orang yang relijius. Orang yang terlihat melakukan ibadah di tempat ibadah umum juga akan disebut sebagai relijius. Hal ini juga terlihat pada para terdakwa yang duduk di kursi pengadilan yang mengenakan baju lengkap dengan ornamen keagamaan. Mengapa menjadi “relijius” seakan menjadi hal penting?

Baca lebih lanjut

Pembahasan mengenai multikulturalisme di Indonesia mengundang keasyikan tersendiri, terutama jika kita menggunakan berbagai sudut pandang yang berbeda. Tulisan Johanes Yotam dan Eko Meinarno di edisi psyence.id sebelumnya mengenai multikulturalisme dapat dikategorikan sebagai buah pikir optimistis atas multikulturalisme itu sendiri. Multikulturalisme dijelaskan dapat dibangun dan dibentuk, memiliki banyak keuntungan psikologis, dan lain-lain. Bahkan pada tataran pembentukan rasa kebangsaan, tampaknya multikulturalisme adalah jawaban yang paling tepat saat ini. Namun, apakah membangun cara pikir multikulturalisme itu tidak mempunyai hambatan?

Baca lebih lanjut

Perspektif psikologi agak jarang dijadikan sarana untuk berkontribusi terhadap isu multikulturalisme. Padahal multikulturalisme diawali dari bagaimana individu melihat, merasakan, memahami, dan akhirnya bertindak terhadap keberagaman sosial yang ada. Secara khusus di Indonesia, tiap orang akan selalu beradaptasi dengan orang lain. Dimulai dari harus mengenali, memahami, dan menganalisis teman barunya.

Baca lebih lanjut

Kepadatan dan kerumunan merupakan wajah yang melekat pada kehidupan kota. Kondisi yang ramai dan hiruk pikuk mengisi setiap sudut kota besar seperti Jakarta merupakan tantangan psikologis tersendiri bagi para penduduknya. Akibat kepadatan urban yang tak terhindarkan ini,  Sejumlah peneliti melaporkan bahwa jika dibandingkan masyarakat di pedesaan, masyarakat perkotaan lebih rentan mengalami environmental stress—keadaan stres yang muncul ketika individu berhadapan dengan tuntutan berasal dari lingkungan yang meminta individu tersebut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan yang ada. Bagaimana bisa begitu?

Baca lebih lanjut