Setiap tahun ajaran baru, lingkungan kampus akan dipenuhi wajah-wajah baru. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang berhasil masuk ke kampus idaman. Tantangannya, banyak dari mahasiswa ini tidak berasal dari daerah sekitar kampus. Sering kali, mereka adalah perantau dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau. Maka, tidak mengherankan jika muncul berbagai situasi tak terduga yang menuntut kesiapan mental, terutama bagi mahasiswa itu sendiri.

Baca lebih lanjut

Hujan datang lagi. Seolah ada tombol putar ulang yang macet, ditekan berkali-kali tanpa niat memperbaiki. Awal 2026 dibuka bukan dengan harapan baru, tetapi dengan suara air yang sama, genangan yang sama, dan rasa jengah yang semakin matang. Di kota-kota sekitar Jakarta, hujan tak lagi identik dengan udara sejuk atau aroma tanah basah. Ia lebih mirip alarm panjang yang berbunyi terlalu lama, membuat siapa pun ingin mematikannya, tapi tak tahu di mana letak saklarnya.

Baca lebih lanjut

Di jagat media sosial, istilah Chindo semakin sering terdengar. Sebutan ini merujuk pada warga keturunan Tionghoa yang lahir dan hidup di Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari bangsa ini. Secara harfiah, Chindo berasal dari gabungan kata China dan Indonesia. Penyebutannya terasa lebih segar dan kekinian, mirip dengan istilah Afro-American di Amerika Serikat. Yang membedakan, istilah ini juga membawa nuansa yang lebih halus, terutama bila dibandingkan dengan kata “Cina” yang lekat dengan sejarah kebijakan diskriminatif sejak era 1960-an.

Baca lebih lanjut

Di era ketika karier dan kebebasan pribadi sering menjadi prioritas, semakin banyak anak muda memilih hubungan tanpa status (HTS) – sebuah bentuk relasi romantis tanpa label komitmen, maupun tujuan jangka panjang. Data BPS menunjukkan penurunan angka pernikahan di Indonesia sebesar 7,5% pada 2022, yang mencerminkan perubahan nilai sosial yang signifikan. Apa sebenarnya yang membuat hubungan tanpa ikatan ini begitu menarik, sekaligus berpotensi menyakitkan?

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda merasa gelisah saat tidak memegang ponsel, khawatir ketinggalan berita atau tren terbaru? Atau mungkin, Anda pernah melakukan sesuatu hanya karena semua orang melakukannya? Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO)—ketakutan akan kehilangan momen berharga yang dialami orang lain. Tapi, apa sebenarnya yang membuat kita begitu takut tertinggal? Apakah ini sekadar keinginan untuk mengikuti tren, atau ada ketakutan yang lebih mendalam tentang makna hidup kita?

Baca lebih lanjut

Konser musik seharusnya menjadi momen penuh euforia dan kebersamaan, tetapi bagaimana jika kegembiraan itu berubah menjadi kerusuhan? Inilah yang terjadi pada konser Bring Me The Horizon (BMTH) di Jakarta, 10 November 2023 yang lalu. Setelah hanya 45 menit berlangsung, konser terpaksa dihentikan karena masalah teknis. Alih-alih pulang dengan tenang, penonton merespons dengan kemarahan: botol minuman beterbangan, properti konser dirusak, dan panggung diserbu. Apa yang membuat sekelompok orang yang datang untuk bersenang-senang tiba-tiba berubah menjadi agresif secara kolektif?

Baca lebih lanjut

Tidak semua hubungan romantis berjalan mulus. Awalnya mungkin terasa indah, penuh perhatian dan janji setia. Namun, seiring waktu, beberapa hubungan justru berubah menjadi penuh kontrol dan kekerasan. Yang mengejutkan, meskipun mengalami perlakuan buruk, beberapa korban tetap bertahan dan bahkan membela pasangannya. Fenomena ini dikenal sebagai Stockholm Syndrome.

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda atau teman Anda membeli merchandise K-Pop hanya karena ingin mengoleksi photocard idola, padahal sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya? Perilaku ini mungkin terdengar akrab di kalangan penggemar musik Korea, tetapi tahukah Anda bahwa hal tersebut bisa menjadi bagian dari pembelian kompulsif? Apa itu pembelian kompulsif? Mari selami lebih dalam mengapa kita—atau orang di sekitar kita—terkadang sulit mengontrol keinginan belanja saat menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan idola favorit!

Baca lebih lanjut

Pemerintah era Prabowo Subianto tampaknya akan mengganti orientasi pendidikan tinggi di Indonesia. Jika pemerintahan sebelumnya pendidikan tinggi berkutat dengan tenaga terampil atau ahli, plus capaian internasionalisasi (yang ternyata bukan perkara mudah), menjadi “yang berdampak kepada masyarakat”. Hal ini yang kemudian dioperasionalkan menjadi “belanja masalah pada masyarakat”. Banyak lulusan yang memiliki kompetensi tinggi, tapi industri belum secanggih yang dibayangkan lulusan. Dengan demikian yang dibutuhkan sarjana yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca lebih lanjut