“Sebentar lagi ya, Ma! Tanggung nih!” Kalimat di atas mungkin terdengar sangat familier di telinga para orang tua. Seringkali, kata “sebentar” itu molor menjadi berjam-jam, membuat jadwal makan atau mandi anak berantakan hingga akhirnya orang tua harus meninggikan suara. Kita menyadari bahwa game online kini telah menjadi “taman bermain” baru bagi anak-anak. Namun, di balik layar gadget yang menyala, orang tua sering menyimpan kekhawatiran: apakah hobi ini membawa manfaat, atau justru menjadi bom waktu bagi emosi anak?
Category: Psikologi Keluarga
Penyandang disabiltas di Indonesia masih terus menghadapi tantangan besar dalam kehidupan sosialnya. Berbagai upaya advokasi lembaga-lembaga negara maupun swadaya masyarakat terus menemukan adanya stigma, keterbatasan akses layanan kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur, serta belum terpenuhinya sejumlah hak penyandang disabilitas. Di tengah berbagai tantangan tersebut, ternyata keluarga memiliki peranan yang sangat besar. Bagaimana sebaiknya peran keluarga penyandang disabilitas dapat dioptimalkan?
“And they live happily ever after.” Demikianlah biasanya tulisan dalam lembar terakhir buku cerita dongeng, biasanya tersurat ketika tokoh utama dongeng tersebut menikah. Seringkali cerita akan ditutup dengan adanya pesta pernikahan meriah yang menggambarkan sukacita ataupun sorotan kepada kedua sejoli yang berbahagia. Di situlah kisah berakhir.
Perkembangan pesat teknologi dan semakin derasnya arus informasi membuat manusia, secara sadar maupun tidak, menjadi sangat lekat dengan ponsel/gadget, mulai dari anak-anak hingga lansia. Pada dasarnya, banyak manfaat yang bisa didapatkan dari perkembangan teknologi. Namun, jika digunakan secara berlebihan, seperti munculnya perilaku phubbing, tentu akan berdampak negatif bagi berbagai aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam relasi pernikahan.
Memiliki anak seringkali dianggap menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi pasangan menikah. Apalagi bagi pasangan yang tinggal di lingkungan dengan nilai pro natalis (mendukung kelahiran) yang kuat seperti Indonesia. Namun demikian, ternyata sebuah riset empiris yang dilakukan di Jerman menunjukkan bahwa tidak selalu pasangan orangtua lebih bahagia dibandingkan pasangan yang tidak memiliki anak. Penelitian tersebut dilakukan untuk menjawab pertanyaan mengapa kehadiran anak tidak berdampak pada meningkatnya kebahagiaan pada orangtua. Secara khusus, penelitian yang diterbitkan tahun 2014 tersebut bertujuan untuk mengetahui bagaimana cost yang dikeluarkan dalam membesarkan anak berperan dalam menurunkan kepuasan hidup. Lalu, mengapa kehadiran anak yang secara umum dianggap mendatangkan kebahagiaan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya?
