Dalam dunia ini, kita memiliki hal yang dianggap penting atau berharga. Buat sebagian besar orang, hal tersebut bisa berupa kekayaan, kekuasaan, atau popularitas. Bagi sebagian yang lain, hal yang utama dalam hidup adalah hubungan yang harmonis dan dikasihi oleh orang terdekat. Bagi istri, rasa sayang suami menjadi hal yang paling penting dalam hidupnya. Bagi anak, rasa sayang orang tua menjadi hal yang penting. Lalu, sebagai orang tua, apa hal yang penting bagi kita?

Baca lebih lanjut

Relasi dengan orang lain tidak selalu mudah, karena di dalamnya ada ekspektasi yang dimiliki masing-masing pihak. Semakin kita kenal dekat dengan seseorang, semakin kita rentan terhadap kekecewaan saat ekspektasi tidak terpenuhi. Contohnya, hubungan antara orang tua dan anak, yang tidak jarang diwarnai konflik ketika berada dalam satu rumah lantaran kedekatan emosional yang mereka miliki. Bandingkan dengan relasi antara satu orang dengan orang asing yang terlihat baik-baik saja. Hal tersebut seperti pepatah: jika (hubungan) dekat maka akan terasa bau, sedangkan saat berjauhan lebih terasa wangi. Apa maksudnya?

Baca lebih lanjut

Sedekah merupakan sebuah amalan yang mungkin tiap orang pernah lakukan. Secara umum sedekah dipahami sebagai sarana memberikan sesuatu barang atau apapun yang bersifat materi kepada orang lain dengan niat karena Allah SWT. Namun, sebenarnya sedekah tidak terbatas hanya pada pemberian materi, melainkan juga mencakup pemberian sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, seperti, memberikan informasi yang benar dan menuntun orang tua atau anak-anak yang hendak menyebrang. Maka dari itu, sedekah sejatinya mengandung unsur kebenaran, kejujuran, keikhlasan atau kerelaan hati seseorang dalam memberikan sesuatu dengan mengharapkan ridha Allah SWT. “Eudaimonia” atau kebahagiaan sejati pada hakikatnya bukan hanya tentang hidup yang bermandikan kesenangan dan kenikmatan, melainkan hidup yang bermakan di mana virtues (kebajikan) dari individu telah disalurkan dengan penuh. Manusia dapat meraih kebahagiaan dengan melakukan perbuatan positif, mengurangi emosi negatif, dan meningkatkan emosi positif. Kebahagiaan juga dapat dipengaruhi oleh kepuasan hidup, lingkungan di luar kontrol diri, dan tindakan yang bersifat sukarela. Salah satu aspek

Baca lebih lanjut

Masalah lingkungan tidak pernah lepas dari peradaban manusia. Pencemaran lingkungan berpotensi menimbulkan ancaman bagi manusia, khususnya generasi mendatang. Kerusakan lingkungan yang banyak terjadi di antaranya adalah polusi (udara, air, suara, dll), limbah, hingga punahnya keanekaragaman hayati. Perilaku manusia memiliki peranan besar atas masalah-masalah lingkungan yang terjadi. Apa yang bisa kita lakukan agar kerusakan alam tidak terus meluas?

Baca lebih lanjut

Kehilangan adalah salah satu derita yang memilukan jiwa. Melepas suatu hal bukanlah perkara mudah, apalagi jika kita terbiasa “memiliki”-nya. Kematian merupakan salah satu momen kehilangan yang menimbulkan pilu dan duka, yang menyengsarakan jiwa yang ditinggalkan. Kematian menjadi puncak perpisahan kita dengan seseorang untuk selamanya. Menghadapi dan menerima duka adalah proses. Proses berduka sulit dijelaskan dan bersifat dinamis.

Baca lebih lanjut

Berduka adalah gejala normal dari seseorang yang kehilangan orang atau sesuatu yang dia miliki dan cintai. Kedukaan normal ditandai dengan protes dan keputusasaan, termasuk munculnya  gejala gangguan fisik, seperti lesu dan perasaan tidak bisa lepas dari masa lalu. Kedukaan tersebut acapkali bisa mereda dan diterima, seiring dengan berjalannya waktu. Namun, tidak semua kedukaan dapat “disembuhkan” oleh waktu. Ada kalanya kedukaan dirasakan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika mengalaminya?

Baca lebih lanjut

Menurut beberapa artikel penelitian, manusia memiliki 6.000 lebih pikiran yang muncul dalam satu hari dan hampir sebagian besar pikiran tersebut berisi pemikiran negatif yang dapat memunculkan emosi negatif. Biasanya pikiran negatif yang muncul dapat berkaitan dengan penyesalan masa lalu, pengalaman negatif, atau berkaitan juga dengan kekhawatiran di masa depan. Pikiran-pikiran ini kadang muncul begitu saja, entah dari mana, dan kadang kita tidak sempat juga untuk memikirkan apa sebenarnya maksud dari pikiran tersebut. Kondisi ini terkadang membuat kita menjadi tidak fokus dan optimal untuk mengerjakan hal-hal penting yang harusnya kita utamakan.

Baca lebih lanjut

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di tahun 2021 merilis data yang cukup mengkhawatirkan tentang tingginya angka kematian akibat bunuh diri. Lebih dari 700 ribu orang meninggal dalam setahun di seluruh dunia akibat bunuh diri, membuatnya menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Kajian tentang perilaku bunuh diri telah menjadi perhatian di bidang ilmu Psikologi. Dalam mengkaji berbagai kasus bunuh diri, sejumlah peneliti membagi perilaku tersebut menjadi dua jenis, yaitu self-injurious thoughts and behaviours (SITB) dan non-suicidal self-injury (NSSI). Apa beda keduanya dan bagaimana para peneliti memahami pemikiran dan perilaku melukai diri sendiri yang dapat mengarah pada bunuh diri?

Baca lebih lanjut

“Chasing rainbows”, sebuah ungkapan yang terkesan positif, tetapi ternyata memiliki makna yang sama sekali berbeda. Mengapa demikian? Mengejar ujung pelangi adalah hal yang hampir mustahil dilakukan. Di ranah psikologi, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan bagaimana kompleksitas masa transisi dari pendidikan ke dunia kerja (school-to-work) yang dialami oleh genarasi muda saat ini. Lalu, bagaimana gambaran generasi muda saat ini dalam “mengejar ujung pelangi” dalam pekerjaan mereka?

Baca lebih lanjut

Marah merupakan salah satu bentuk emosi manusia. Ekspresi seseorang saat marah dapat terlihat dari wajahnya, intonasi suara, atau gerakan tubuhnya. Hal yang manusiawi jika seseorang marah. Marah berkaitan dengan otak dan hormon pada tubuh. Seseorang bisa marah karena beberapa sebab, di antaranya, haknya dilanggar, dihina, atau memang karena individu tersebut pemarah. Marah dihubungkan dengan emosi negatif. Individu yang pemarah biasanya tidak disukai oleh lingkungan. Individu yang tidak dapat mengendalikan marahnya dapat memicu konflik antar individu, memicu perilaku kekerasan, atau berpotensi terkena suatu penyakit tertentu.

Baca lebih lanjut