Tidak semua hubungan romantis berjalan mulus. Awalnya mungkin terasa indah, penuh perhatian dan janji setia. Namun, seiring waktu, beberapa hubungan justru berubah menjadi penuh kontrol dan kekerasan. Yang mengejutkan, meskipun mengalami perlakuan buruk, beberapa korban tetap bertahan dan bahkan membela pasangannya. Fenomena ini dikenal sebagai Stockholm Syndrome.
Category: Psikologi Gender
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah bentuk penganiayaan yang dilakukan oleh seseorang terhadap pasangannya (biasanya dilakukan oleh laki-laki). Yang sering terjadi adalah KDRT dalam bentuk kekerasan fisik dan psikis. Meskipun sempat menurun dari 2018 hingga 2021, kasus KDRT kembali meningkat di sepanjang tahun 2022. Data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) menunjukkan, sepanjang 2022 tercatat 18.138 penyintas KDRT di Indonesia.
Pernahkah Anda berteman dengan lawan jenis, di mana pertemanan tersebut terasa sangat dekat, sangat hangat atau lebih mudah disebutnya dengan kata “sahabat”? Jika pernah, apa perasaan Anda yang muncul terhadap “sahabat” Anda tersebut? Apakah muncul rasa suka dan keinginan untuk membangun hubungan romantis dengannya? Mungkin hal tersebut terdengar lazim dijumpai. Atau, yang terjadi adalah sebaliknya: apakah Anda berpikir bahwa sahabatan dengan lawan jenis pasti tidak saling suka? Agaknya tidak sedikit pula yang menganggap bahwa persahabatan antara lawan jenis murni sebuah jalinan pertemanan, tanpa melibatkan perasaan atau romantisme sama sekali.
Wanita seringkali mendapatkan perlakuan diskriminasi gender. Gender sendiri sebenarnya adalah konstruk sosial yang dibuat oleh manusia (yang tentunya dipengaruhi oleh budaya) untuk menentukan peran, kedudukan, maupun sifat dari gender yang kemudian dilekatkan kepada laki-laki maupun perempuan. Semisal, laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi pemimpin. Sedangkan perempuan lebih baik mengurus anak dan rumah saja, tidak perlu mencapai pendidikan yang tinggi, dan sebagainya. Atau bahkan sejak kecil permainan pun seringkali dibatasi, laki-laki bermain bola, perempuan bermain boneka. Padahal nyatanya semua permainan bisa dimainkan oleh anak dengan gender apa pun.
Maraknya kasus kekerasan seksual yang terjadi akhir-akhir ini membuat masyarakat resah. Pasalnya, dugaan terjadinya tindakan asusila ini terjadi di lingkungan pendidikan dan dilakukan oleh orang berpendidikan pula. Diantaranya dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pimpinan fakultas kepada mahasiswi bimbingannya. Belum lagi kasus lain yang tidak kalah mengkhawatirkan, seperti pelecehan seksual oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa di sebuah perguruan tinggi. Kasus viral lain di media sosial yang juga menarik simpati masyarakat adalah naiknya tagar #SaveNoviaWidyasari, seorang mahasiswi yang juga mengalami kekerasan seksual oleh pacarnya sendiri, dan bunuh diri di samping makam ayahnya. Lalu juga kasus pemerkosaan yang terjadi di lingkungan pesantren yang justru dilakukan guru sekaligus pemimpin pondok pesantren kepada 12 santriwatinya.
