Kontak mata adalah perilaku komunikasi nonverbal yang penting yang sebagian besar dari kita menggunakannya dalam interaksi sosial. Kita tahu bahwa kontak mata membantu orang untuk mengkomunikasikan minat dan ketertarikan mereka terhadap pasangan berkomunikasi. Kontak mata juga penting untuk mengkomunikasikan ketertarikan dalam berinteraksi sosial dengan seseorang. Seringkali, kita harus menjaga kontak mata untuk memahami dan merespon terhadap petunjuk sosial dari orang lain. Kegagalan dalam melakukan kontak mata juga bisa disalah artikan oleh orang lain sebagai tidak tertarik ataupun tidak memperhatikan. Bagaimana dengan mereka yang hidup dengan autisme?

Baca lebih lanjut

“And they live happily ever after.” Demikianlah biasanya tulisan dalam lembar terakhir buku cerita dongeng, biasanya tersurat ketika tokoh utama dongeng tersebut menikah. Seringkali cerita akan ditutup dengan adanya pesta pernikahan meriah yang menggambarkan sukacita ataupun sorotan kepada kedua sejoli yang berbahagia. Di situlah kisah berakhir.

Baca lebih lanjut

Bagi sebagian anak, orang tua menjadi sosok pelindung, penyedia kasih sayang dan pemberi kehangatan, serta menjadi panutan dalam kesehariannya. Hal ini membuat relasi anak dan orang tua di usia kanak-kanak sangat signifikan dalam membentuk rasa aman dan ketercukupan kebutuhan seorang anak, baik psikologis, material, maupun secara fisik. Peristiwa kehilangan orang tua di masa kanak-kanak menjadi suatu kondisi yang merampas rasa aman dan kesejahteraan anak.

Baca lebih lanjut

Dengan maraknya perkembangan internet dan media, berbagai macam informasi menjadi mudah diakses juga ditemukan. Penggunaan media dan internet sangat umum, apalagi di antara generasi muda. Menurut data Kemkoinfo (Rohmadini et al, 2020), 79,5% dari anak-anak dan remaja menggunakan internet. Internet merupakan dimensi yang penting dan bermanfaat bagi remaja dalam kehidupannya. Namun, muncul kekhawatiran mengenai paparan media yang bersifat seksual pada remaja. Seperti berkembangnya dampak negatif, khususnya perilaku seksual yang bersifat berisiko. Jadi, apakah benar paparan media berpengaruh kepada perilaku seksual remaja?

Baca lebih lanjut

Masih ingatkah Anda dengan kebijakan Gubernur Nusa Tenggara Timur  yang mewajibkan siswa-siswi SMA dan SMK masuk sekolah pada pukul 05.00 pagi? Ya, kebijakan ini menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua menganggap kebijakan ini memberatkan mereka. Sejumlah protes pun bermunculan menanggapi keputusan yang kontroversial ini. Sudah tepatkah untuk menetapkan waktu aktivitas belajar murid sedini itu?

Baca lebih lanjut

Usia keemasan atau golden age merupakan periode yang terjadi ketika anak masih berada di masa usia dini, yaitu ketika anak berusia 0-6 tahun. Pada masa golden age inilah otak berkembang pesat (eksplosif). Sejak lahir, otak anak tidak membentuk sel saraf otak kembali, namun pada masa ini terjadi penutupan akson sel saraf dan pembentukan hubungan antar sel, di mana dua hal tersebut berperan penting terhadap kecerdasan anak. Penelitian menyebutkan bahwa kapabilitas kecerdasan manusia terjadi atau terbentuk dengan pesat pada awal kehidupan. Lebih spesifiknya, 50% diantaranya terbentuk ketika manusia berusia 4 tahun, dan mencapai 80% pada usia 8 tahun. Lalu, bagaimana peran orangtua dalam mengoptimalkan usia emas anak?

Baca lebih lanjut

Beberapa dari kita seringkali bertanya-tanya “Apa yang akan terjadi kalau kita mengambil keputusan yang berbeda dalam hidup?”. Wujud pertanyaannya bisa diajukan dalam berbagai konteks, seperti pekerjaan “Bagaimana ya kalau dulu lebih memilih masuk ke perusahaan A dibandingkan tempat kerja sekarang?” Mungkin juga dalam hubungan asmara “Bagaimana ya jika dulu bertahan dengan mantan pacar dan tidak putus?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita mengingat kembali hal-hal yang sudah dilalui. Seringkali juga diikuti dengan membuat skenario dari pilihan lain yang tidak kita ambil saat itu, atau disebut juga skenario “what if”. “What if” menjadi tanda bahwa ada hal yang kita bandingkan dari masa sekarang dengan kemungkinan lain di masa lalu yang tidak kita pilih.

Baca lebih lanjut

Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Oleh karena itu, orang tua umumnya ingin mengetahui setiap aspek kehidupan anak, seperti bagaimana proses belajarnya di sekolah, dengan siapa saja ia berteman, dan apa masalah yang sedang sedang dialami anak, agar orang tua dapat memastikan anak mereka dalam kondisi yang baik. Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, anak ternyata semakin membutuhkan privasi di dalam hidupnya. Kebutuhan ini umumnya akan semakin intens saat anak memasuki usia remaja.

Baca lebih lanjut

Saat sedang scrolling artikel di media sosial, penulis menemukan pertanyaan ini: “Apakah Anda lebih memilih membesarkan anak yang bahagia (happy child) atau anak yang resilien (resilient child)?” Sejenak penulis berpikir, tentu saja baiknya anak yang bahagia dan resilien. Namun, seringkali pola asuh orang tua cenderung jatuh ke salah satu di antaranya. Jika ingin anak bahagia, manjakan agar ia senang; jika ingin anak resilien, didiklah dengan keras agar ketika ia menghadapi kesulitan dalam hidup ia sudah terlatih. Namun, apakah betul demikian? Apakah ada cara membesarkan anak sehingga ia menjadi anak yang bahagia dan sekaligus resilien?

Baca lebih lanjut