“Ayo sayang, satu suap lagi…” Kalimat ini mungkin menjadi salah satu mantra yang paling sering diucapkan ibu di meja makan, namun tak jarang berakhir dengan gelengan kepala atau aksi tutup mulut si kecil. Fenomena yang sering kita kenal dengan istilah GTM (Gerakan Tutup Mulut) ini memang kerap membuat orang tua merasa “mumet” dan khawatir akan kecukupan gizi buah hatinya. Sebenarnya apakah ada penjelasan untuk fase ini? Yuk kita pahami lebih jauh.

Baca lebih lanjut

Pernahkah Anda merasa bahwa rumah terkadang hanya terasa seperti “stasiun pengisian daya” singkat sebelum kita kembali bertarung dengan kemacetan dan target kantor keesokan harinya? Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern, momen pulang ke rumah sering kali menjadi sebuah paradoks: kita merindukan kehangatan keluarga, namun energi yang tersisa hanya cukup untuk sekadar menyapa singkat sebelum akhirnya terlelap dalam kelelahan. Pertanyaannya, apakah sekadar berbagi atap yang sama sudah cukup untuk disebut sebagai sebuah “koneksi”?

Baca lebih lanjut

Setiap orang tua pasti menginginkan buah hatinya sukses. Sering kali, definisi sukses ini tanpa sadar kita sempitkan pada hal-hal yang terlihat di permukaan: deretan nilai bagus di rapor, piala kejuaraan, atau peringkat di kelas. Namun, apakah kecerdasan dan bakat saja cukup untuk menjamin masa depan mereka? Penelitian psikologi memberikan jawaban yang menarik: keberhasilan jangka panjang anak ternyata tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar mereka, melainkan oleh mindset atau cara pandang mereka terhadap kemampuan diri sendiri. Apa itu mindset?

Baca lebih lanjut

Di era ketika karier dan kebebasan pribadi sering menjadi prioritas, semakin banyak anak muda memilih hubungan tanpa status (HTS) – sebuah bentuk relasi romantis tanpa label komitmen, maupun tujuan jangka panjang. Data BPS menunjukkan penurunan angka pernikahan di Indonesia sebesar 7,5% pada 2022, yang mencerminkan perubahan nilai sosial yang signifikan. Apa sebenarnya yang membuat hubungan tanpa ikatan ini begitu menarik, sekaligus berpotensi menyakitkan?

Baca lebih lanjut

Di usia 3-6 tahun, anak prasekolah bagai spons yang menyerap segala hal di sekitarnya. Masa ini disebut the golden period—saat otak berkembang pesat, emosi mulai terbentuk, dan kepribadian mulai terlihat. Tapi bagaimana jika fondasi ini rapuh? Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) deni tahun 2013 menunjukkan, hampir 15% anak prasekolah di Indonesia mengalami masalah sosial-emosional seperti kecemasan atau agresivitas. Jika diabaikan, ini bisa menjadi bom waktu yang mengancam kesiapan mereka menghadapi dunia.

Baca lebih lanjut

Kasus pembunuhan di Palembang oleh empat remaja beberapa waktu lalu menjadi alarm mengerikan tentang bagaimana paparan konten kekerasan dan pornografi bisa berpotensi memicu perilaku kriminal. Meski tidak semua konsumsi pornografi berujung kekerasan, kombinasi faktor seperti tekanan teman sebaya, minimnya pengawasan, dan ketidakstabilan emosional dapat menjadi “bom waktu” bagi remaja yang otaknya masih berkembang. Lalu, bagaimana pornografi mengubah cara otak bekerja, hingga memicu risiko kekerasan seksual?

Baca lebih lanjut

Tidak semua hubungan romantis berjalan mulus. Awalnya mungkin terasa indah, penuh perhatian dan janji setia. Namun, seiring waktu, beberapa hubungan justru berubah menjadi penuh kontrol dan kekerasan. Yang mengejutkan, meskipun mengalami perlakuan buruk, beberapa korban tetap bertahan dan bahkan membela pasangannya. Fenomena ini dikenal sebagai Stockholm Syndrome.

Baca lebih lanjut

Anak usia dini adalah mereka yang berusia 0-6 tahun, sebuah periode yang sering disebut sebagai masa keemasan atau golden age. Pada fase ini, pertumbuhan dan perkembangan anak berlangsung sangat pesat serta menjadi waktu terbaik untuk belajar. Kesempatan ini tidak dapat diulang, sehingga anak perlu mendapatkan stimulasi yang tepat agar berkembang secara optimal.

Baca lebih lanjut

Bagi pengguna aktif media sosial saat ini pasti sudah sangat familiar dengan istilah “Daddy Issues”. Namun, istilah ini seringkali disalahpahami oleh banyak orang. Daddy issues sendiri bukanlah istilah medis ataupun psikologis yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), tetapi istilah ini memang sering digunakan di media sosial atau kehidupan sehari-hari untuk menggambarkan perempuan yang memiliki pasangan pria yang umurnya lebih tua. Jadi, apa sebenarnya daddy issues itu?

Baca lebih lanjut