Berduka adalah gejala normal dari seseorang yang kehilangan orang atau sesuatu yang dia miliki dan cintai. Kedukaan normal ditandai dengan protes dan keputusasaan, termasuk munculnya  gejala gangguan fisik, seperti lesu dan perasaan tidak bisa lepas dari masa lalu. Kedukaan tersebut acapkali bisa mereda dan diterima, seiring dengan berjalannya waktu. Namun, tidak semua kedukaan dapat “disembuhkan” oleh waktu. Ada kalanya kedukaan dirasakan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Lalu, apa yang bisa kita lakukan jika mengalaminya?

Kedukaan yang tidak normal adalah kedukaan yang tidak mereda selama lebih dari satu tahun, yang dapat disebut sebagai gangguan kedukaan yang berkepanjangan (prolonged grief disorder) atau kedukaan yang kompleks. Tanda-tanda dari gejala kedukaan ini antara lain rasa kehilangan yang berkepanjangan, tidak mereda seiring waktu, selalu merasa almarhum dekat, melakukan mumifikasi atau mengatur barang atau peninggalan mendiang agar tidak boleh diubah atau seolah-olah dia masih hidup. Perasaan seperti itu umumnya tidak hilang setelah satu minggu setelah kematian mendiang yang dikasihi.

Dalam rangka mengatasi kedukaan yang tidak normal, seseorang disarankan untuk melakukan konseling pada psikolog atau bahkan psikiater. Namun seiring waktu, seringkali perasaan duka berlebihan tersebut seringkali masih hadir, sementara di sisi lain sumberdaya waktu dan finansial tidak mendukung. Maka terdapat satu kebiasaan baik yang dapat menjadi terapi mandiri bagi mereka yang masih berada dalam kedukaan yang mendalam, yakni menulis ekspresif.

Terapi menulis ekspresif telah lama dipraktikkan oleh para psikolog, dan dapat membantu setidaknya saat belum berkesempatan untuk berkonsultasi dengan para ahli. Menulis juga merupakan terapi tambahan dalam metode Cognitive Behavioural Therapy (CBT). Meski demikian, studi tentang efek menulis ekspresif pada individu yang berduka berkepanjangan memiliki hasil yang bervariasi. Pada satu studi, ditemukan bahwa mengungkapkan perasaan negatif melalui tulisan dapat mengurangi gejala berduka, mengubah suasana hati menjadi lebih adaptif, serta dapat memberi makna. Di studi yang lain, tulisan ekspresif pada topik memori positif untuk almarhum tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan suasana hati.

Meskipun efektivitas menulis ekspresif telah menjadi salah satu fokus kajian di bidang psikologi secara global, dalam konteks Indonesia, studi yang menguji efek tulisan ekspresif pada emosi negatif baru diteliti dalam konteks depresi secara umum. Belum banyak ditemukan artikel ilmiah yang secara khusus mengaitkan menulis ekspresif dengan konteks kedukaan berkepanjangan karena kehilangan orang tua atau salah satu orang tua, atau kedukaan  yang kompleks. “Kelangkaan” literatur lokal ini mendorong penulis beserta beberapa kolega untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat pengaruh menulis ekspresif (menulis terus-menerus selama 3 hari berturut-turut selama minimal 15 menit) pada individu yang mengalami kedukaan atipikal.

Studi ini melibatkan 30 partisipan (rata-rata berusia 21 tahun) yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua lebih dari satu bulan, dan masih berduka. Partisipan dibagi ke dalam dua kelompok penelitian: satu kelompok diminta untuk menulis ekspresif mengenai kedukaan yang sedang dirasakan; kelompok lainnya diminta untuk menuliskan aktivitas sehari-hari yang tidak berkaitan dengan rasa duka yang sedang dialami. Sebelum dan setelah tugas menulis tersebut diberikan, setiap partisipan diminta untuk mengisi sebuah kuesioner yang mengukur tingkat duka yang sedang dirasakan. Semakin tinggi skornya menandakan semakin tinggi pula duka yang sedang dirasakan.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kelompok yang diminta menulis ekspresif tentang rasa dukanya mengalami penurunan tingkat duka yang signifikan antara sebelum dan setelah menulis. Sedangkan pada kelompok lainnya, tingkat rasa duka sebelum dan sesudah menulis tidak berbeda. Selain itu, ditemukan juga bahwa partisipan pada kelompok menulis ekspresif merasakan duka yang jauh lebih rendah dibandingkan partisipan pada kelompok lainnya setelah diberi tugas menulis. Temuan ini menandakan bahwa menulis ekspresif merupakan metode yang terbukti efektif dalam meredakan rasa duka yang sedang dialami.

Berkaca dari temuan penelitian tersebut, terdapat secercah harapan mengenai metode sederhana yang efektif dalam menghadapi kedukaan, yaitu dengan menulis ekspresif. Sebuah terapi diri yang pantas dicoba, bukan? Jika manusia enggan mendengarkan duka kita, maka kertas, pena, layar, dan papan ketik akan melakukannya untuk kita.

 

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel ilmiah “Expressive writing changes grief into meaning – a sequential explanatory design approach” oleh Savitri, Takwin, Aryanto, & Ariwibowo (2019) yang diterbitkan di jurnal COUNS-EDU: The International Journal of Counseling and Education.

Author

  • Setiawati Intan Savitri

    Lecturer of F.Psi Mercubuana, graduated magister science of Psychology UGM (2008), had Doctoral Degree UI (2019), interested in social psychology, narrative writing & bibliotherapy

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait