Pernahkah Anda merasa sedang memikul beban seluruh dunia di pundak Anda? Atau setidaknya, beban seluruh tugas kelompok sementara rekan lainnya menghilang tanpa rincian? Dalam dunia perkuliahan, kerja kelompok adalah makanan sehari-hari. Namun, jika kurang beruntung, kelompok Anda mungkin disusupi oleh freerider.
Fenomena freerider ini klasik ada sejak dulu dan tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara seperti Australia, Inggris, Taiwan, dan negara-negara lain.. Secara psikologis, free riding adalah perilaku seseorang yang sengaja mengurangi kontribusinya karena berharap anggota lain akan menutupi kekurangannya demi mengejar nilai.
Untuk memahami bagaimana freerider beroperasi, kita bisa membedahnya melalui lima tahapan dinamika kelompok yang diusulkan oleh Bruce Tuckman:
- Tahap forming (pembentukan)
Pada tahap awal ini, semua anggota biasanya masih bersikap manis dan berhati-hati. Interaksi dilakukan untuk membangun persepsi awal tentang kolaborasi. Menariknya, di tahap ini, seorang freerider sering kali tampak sangat kooperatif dan menjanjikan kontribusi yang besar. Mereka masih “bersembunyi” di balik topeng kesopanan awal kelompok.
- Tahap storming (timbulnya konflik)
Sesuai namanya, “badai” mulai datang. Konflik muncul saat kelompok mencari pola kerja yang pas. Ketegangan meningkat karena ada nilai akademik yang dipertaruhkan. Di sinilah jati diri freerider mulai terungkap: pesan WhatsApp yang hanya dibaca tanpa dibalas (ghosting), kontribusi yang minimalis, atau menyerahkan tugas yang jauh di bawah standar kelompok sehingga anggota lain harus merombak total pekerjaannya.
- Tahap norming (normalisasi)
Idealnya, badai mereda dan struktur kerja mulai terbentuk. Pemimpin informal muncul, dan setiap orang mulai memahami perannya. Uniknya, dalam kelompok yang memiliki freerider, tahap ini menciptakan kohesi yang aneh: si freerider sering kali menjadi “musuh bersama” yang secara tidak sengaja justru merekatkan hubungan anggota kelompok lainnya yang merasa senasib sepenanggungan.
- Tahap performing (pelaksanaan)
Ini adalah masa di mana tugas benar-benar dikerjakan secara intensif. Ada yang fokus pada estetika presentasi, ada yang teliti memeriksa tipografi. Di tahap ini, freerider bisa hilang, baik secara positif maupun negatif. Secara positif artinya ia tidak lagi menjadi freerider, dan bisa berkontribusi baik. Secara negatif artinya ia tetap tidak berkontribusi baik, dan jatah kerjanya diambil alih oleh teman-teman kelompoknya.
- Tahap adjourning (pembubaran)
Setelah tugas dikumpulkan, kelompok pun bubar. Namun, konsekuensi sosial baru saja dimulai. Reputasi si freerider biasanya akan rusak. Di masa depan, ia akan dihindari dalam pembentukan kelompok baru. Hubungan pertemanan di luar urusan akademik pun sering kali turut memburuk akibat rasa tidak percaya yang sudah terbangun.
Kerugian yang Tak Terlihat
Memang, secara pragmatis, misi “numpang gratis” seorang freerider sering kali berhasil karena anggota lain tidak mau nilai mereka hancur. Namun, secara jangka panjang, freerider adalah pihak yang paling rugi. Setidaknya ada dua kerugian besar sebagai konsekuensi dari praktik freeriding. Pertama, ia akan kehilangan ilmu, artinya ia kehilangan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan teknis dan kolaborasi. Kedua, ia akan mengalami kerusakan reputasi, di mana di dunia kerja nanti, karakter “numpang” ini akan menjadi hambatan besar karena jejak rekam sosial yang buruk.
Sebetulnya, jika di tahap awal seorang freerider berani mengakui kesulitannya, anggota kelompok lain biasanya akan dengan senang hati membantu. Mengakui kelemahan diri memang sulit, namun usaha ekstra untuk jujur akan memberikan hasil yang jauh lebih baik, baik secara akademis maupun secara sosial.
