Hujan datang lagi. Seolah ada tombol putar ulang yang macet, ditekan berkali-kali tanpa niat memperbaiki. Awal 2026 dibuka bukan dengan harapan baru, tetapi dengan suara air yang sama, genangan yang sama, dan rasa jengah yang semakin matang. Di kota-kota sekitar Jakarta, hujan tak lagi identik dengan udara sejuk atau aroma tanah basah. Ia lebih mirip alarm panjang yang berbunyi terlalu lama, membuat siapa pun ingin mematikannya, tapi tak tahu di mana letak saklarnya.
Yang melelahkan bukan hanya sepatu basah atau rapat yang tertunda. Ada kelelahan lain yang lebih sunyi. Kelelahan karena harus terus bersiap menghadapi sesuatu yang sudah kita tahu akan terjadi, tetapi selalu diperlakukan seolah kejutan. Banjir bukan lagi peristiwa, melainkan siklus. Dan siklus yang buruk, jika dibiarkan, akan menggerogoti pikiran pelan-pelan, seperti rembesan air yang tak terlihat tapi merusak dinding dari dalam.
Dalam pengalaman sehari-hari, stres paling menyiksa bukan yang datang menghantam, melainkan yang menetes. Sedikit, tapi terus-menerus. Banjir tahunan bekerja dengan cara itu. Ia mengajarkan tubuh untuk selalu siaga, seolah hidup adalah ruang tunggu darurat yang tak pernah memanggil nomor kita. Setiap hujan deras memicu pertanyaan yang sama. Besok bisa berangkat kerja atau tidak. Motor masih bisa lewat atau harus memutar jauh. Rumah aman atau mulai bersiap mengangkat barang. Ketika ketidakpastian menjadi kebiasaan, kewarasan dipaksa bernegosiasi setiap hari.
Jalanan yang tergenang berubah menjadi panggung emosi kolektif. Klakson bersahutan seperti bahasa frustrasi yang dipahami semua orang. Tatapan kosong di balik helm, umpatan pendek yang dilepas begitu saja, semuanya terasa akrab. Bukan karena orang-orang ini pemarah, melainkan karena empati punya batas ketika tekanan datang dari segala arah. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran bukan habis seketika, tetapi terkikis perlahan.
Namun, ada satu hal yang terasa lebih berat dari hujan itu sendiri. Rasa ditinggalkan. Ada jarak yang makin lebar antara warga dan mereka yang seharusnya mengelola risiko. Banyak orang datang ke ruang konseling bukan hanya membawa masalah rumah tangga atau pekerjaan, tetapi juga kemarahan pada sistem. Mereka lelah hidup di bawah kebijakan yang terasa setengah hati. Ini bukan keluhan manja. Ini sinyal bahwa negara, alih-alih menjadi penyangga, justru ikut menambah beban psikis.
Narasi yang terus diulang pun terdengar usang. Hujan disebut bencana alam, seolah tak ada yang bisa dilakukan selain pasrah. Padahal, terlalu banyak bukti bahwa ini bukan semata soal langit. Sungai yang dibiarkan dangkal, tata ruang yang dilanggar tanpa konsekuensi, drainase yang tak pernah benar-benar dibenahi. Semua itu bukan rahasia. Ia terlihat, tercium, dan dirasakan. Jika ini terus terjadi, sulit menyebutnya ketidaktahuan. Lebih jujur menyebutnya kelalaian.
Ketika perlindungan tak hadir, kepercayaan ikut tenggelam. Dari situ lahir rasa tak berdaya yang aneh. Orang masih marah, tetapi tak lagi berharap. Penerimaan atau cenderung menjadi sinisme menjadi bentuk strategi coping. “Sudah biasa,” kata banyak orang, seolah membiasakan diri dengan penderitaan adalah bentuk kedewasaan. Padahal, di titik itu, yang rusak bukan hanya jalan dan rumah, tetapi juga ikatan emosional antara warga dan institusi.
Di tengah situasi seperti ini, apa yang bisa dilakukan selain mengeluh. Pada level paling dasar, mengelola stres menjadi cara bertahan. Hal-hal kecil yang memberi rasa kendali ternyata krusial. Menyusun rencana cadangan, memilih kapan berhenti membaca berita, menjaga rutinitas sederhana. Napas yang diatur dengan sadar dan tubuh yang diistirahatkan sejenak membantu menurunkan ketegangan yang menumpuk tanpa suara.
Namun jika berhenti di situ saja, selalu ada rasa kalah yang tertinggal. Untungnya, warga sering kali menemukan kekuatan satu sama lain. Di gang-gang sempit dan grup pesan singkat, solidaritas muncul spontan. Ada yang membantu mengangkat perabot, berbagi informasi, atau sekadar mendengarkan keluh kesah (emotional support). Di saat negara terasa jauh, hubungan antar warga menjadi jangkar kewarasan.
Kemarahan pun tak harus ditelan bulat-bulat. Ia bisa diarahkan. Menulis, bersuara, mengkritik, dan menuntut pertanggungjawaban adalah cara menjaga diri agar tidak larut dalam apatisme. Terlibat, sekecil apa pun, memberi pesan pada diri sendiri bahwa kita belum sepenuhnya menyerah.
Karena pada akhirnya, kesehatan jiwa bukan urusan pribadi semata. Ia adalah cermin dari kebijakan publik. Negara yang membiarkan warganya hidup dalam kecemasan massal sedang mengikis legitimasi moralnya sendiri. Perubahan iklim memang nyata, tetapi yang membuatnya melumpuhkan adalah sistem yang enggan belajar. Selama itu tak berubah, setiap hujan akan selalu membawa makna lain. Bukan sekadar air yang jatuh dari langit, melainkan pengingat bahwa penderitaan ini sebetulnya bisa dicegah, jika ada kemauan untuk benar-benar bertanggung jawab.
