“Sebentar lagi ya, Ma! Tanggung nih!”

Kalimat di atas mungkin terdengar sangat familier di telinga para orang tua. Seringkali, kata “sebentar” itu molor menjadi berjam-jam, membuat jadwal makan atau mandi anak berantakan hingga akhirnya orang tua harus meninggikan suara. Kita menyadari bahwa game online kini telah menjadi “taman bermain” baru bagi anak-anak. Namun, di balik layar gadget yang menyala, orang tua sering menyimpan kekhawatiran: apakah hobi ini membawa manfaat, atau justru menjadi bom waktu bagi emosi anak?

Kenyataannya, game online ibarat pisau bermata dua. Ia memiliki potensi untuk mengasah kecerdasan, namun juga menyimpan risiko jika tidak diawasi. Mari kita bedah kedua sisinya.

Arena Belajar Kerja Sama dan Strategi

Tidak selamanya bermain game itu buruk. Salah satu fitur yang paling digemari anak-anak saat ini adalah mode co-op atau cooperative play. Dalam mode ini, anak tidak bermain sendirian, melainkan harus berkolaborasi dengan pemain lain untuk mencapai misi tertentu.

Sebuah studi lintas disiplin mengeksplorasi lebih dalam mengenai efek game online (Roblox) terhadap kemampuan pemecahan masalah dan juga regulasi emosi pada anak. Para peneliti tersebut menemukan bahwa mekanisme permainan ini secara tidak langsung melatih anak untuk bekerja dalam tim. Bayangkan mereka sedang memecahkan teka-teki rumit; mereka harus berbagi petunjuk, menyusun strategi bersama, dan mengambil keputusan cepat. Ketika satu strategi gagal, mereka “dipaksa” untuk beradaptasi, berpikir kritis, dan mencari jalan keluar baru. Ini adalah simulasi pemecahan masalah (problem solving) yang sangat dinamis.

Lebih jauh lagi, game kooperatif bisa menjadi “gym” bagi emosi anak. Di sana, mereka belajar menghadapi frustrasi saat kalah dan berlatih empati saat harus menyemangati teman satu tim yang bermain kurang baik. Interaksi dengan pemain yang beragam juga mengajarkan mereka untuk menerima perbedaan dan memotivasi orang lain.

Sisi Gelap: Ujaran Kebencian dan Emosi yang Meledak

Namun, kita tidak bisa menutup mata terhadap risiko yang mengintai. Lingkungan game online seringkali tidak seindah grafisnya. Meskipun banyak pengembang game telah memasang filter otomatis untuk menyaring bahasa kasar pada fitur percakapan (chat), sistem ini tidaklah sempurna. Masih banyak celah yang dimanfaatkan pemain nakal untuk melontarkan ujaran kebencian atau konten yang tidak pantas.

Anak-anak, yang kematangan emosinya masih dalam tahap perkembangan, adalah kelompok yang paling rentan. Ketika mereka terpapar komentar pedas, ejekan, atau perundungan (cyberbullying) di tengah permainan, dampaknya bisa sangat serius. Perasaan senang yang diharapkan dari bermain game bisa berubah drastis menjadi kecemasan, ketersinggungan, hingga kemarahan yang meluap-luap.

Dampak ini seringkali terlihat di dunia nyata. Pernahkah Anda melihat anak membanting stik kendali atau memukul meja saat kalah bermain? Itu adalah manifestasi dari ketidakmampuan meregulasi emosi akibat tekanan dalam game. Tanpa pengawasan yang tepat, perilaku agresif ini bisa menjadi kebiasaan yang tidak sehat dan merusak.

Peran Kunci Orang Tua

Pada akhirnya, melarang anak bermain game sepenuhnya mungkin bukan solusi yang bijak di era digital ini. Game online menawarkan ruang interaktif yang unik bagi anak untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, dan pengendalian diri.

Kuncinya terletak pada pendampingan. Orang tua tidak hanya berperan sebagai “polisi” yang membatasi waktu layar, tetapi juga sebagai mentor. Dampingi mereka, ajak berdiskusi tentang apa yang mereka alami di dalam game, dan bantu mereka memproses emosi, baik saat menang maupun kalah. Dengan supervisi yang tepat, kita bisa membantu anak mengambil manfaat terbaik dari teknologi sekaligus melindungi mereka dari sisi toksiknya.

 

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel ilmiah “Impact Analysis of Playing Roblox on the Problem-Solving Skills and Emotional Regulation of Children” oleh Busto, Fabila, Ortiz, Gamo, & Mag-Isa (2025) yang diterbitkan di jurnal Cognizance Journal of Multidisciplinary Studies.

Author

  • Yuliana Anggreany

    Yuliana Anggreany mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan, serta menjadi psikolog di Pusat Tumbuh Kembang & Sekolah Khusus Bougenville.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait