Tidur Cukup: Rahasia untuk Menjadi Lebih Murah Hati

Pernahkah Anda merasa lebih mudah marah atau enggan membantu orang lain setelah begadang semalaman? Ternyata, ini bukan sekadar perasaan subyektif. Sebuah penelitian menemukan bahwa kurang tidur secara signifikan mengurangi kemauan kita untuk berbuat baik, bahkan dalam tindakan sederhana seperti memegangi pintu untuk orang lain. Studi ini mengungkap mekanisme biologis di balik hubungan antara tidur dan perilaku prososial, menegaskan bahwa tidur bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga kunci untuk menjaga kemanusiaan kita.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Eti Ben Simon dari University of California, Berkeley, ini dirancang untuk menjawab pertanyaan penting: Bagaimana kurang tidur memengaruhi kemauan manusia untuk membantu sesama? Tim peneliti tidak hanya ingin memahami efek kelelahan fisik, tetapi juga perubahan pada fungsi otak yang mendorong penarikan diri dari perilaku prososial. Temuan ini dianggap penting karena kurang tidur telah menjadi epidemi global—30% orang dewasa tidur kurang dari 6 jam per hari—dan dampaknya terhadap kelekatan sosial selama ini terabaikan.

Studi ini menggabungkan tiga pendekatan metodologis. Pertama, 24 partisipan sehat menjalani dua kondisi berbeda di laboratorium: tidur 8 jam semalam dan tidur hanya 4 jam. Keesokan harinya, mereka diminta melakukan tugas sosial seperti mendonasikan uang untuk amal atau membantu peneliti dalam aktivitas sederhana. Kedua, pemindaian otak dengan fMRI dilakukan untuk mengukur aktivitas saraf saat partisipan melihat video orang yang membutuhkan bantuan. Ketiga, peneliti menganalisis data dari perilaku di dunia nyata dari 3 juta transaksi donasi amal di Amerika Serikat, membandingkan tren sebelum dan sesudah pergantian waktu musim panas—saat masyarakat kehilangan 1 jam tidur (Daylight Saving Time).

Hasil penelitian ini konsisten dan cukup menarik. Partisipan yang berada dalam kondisi kurang tidur memberikan donasi sebesar 40% lebih rendah dibandingkan dengan kondisi tidur cukup. Selain itu, hasil pemindaian otak mengungkap bahwa kurang tidur mengurangi aktivitas di social cognition network, jaringan otak yang bertanggung jawab untuk empati dan pemahaman sosial. Sebaliknya, aktivitas di default mode network—area yang aktif saat kita fokus pada diri sendiri—meningkat signifikan. Terakhir, data perilaku di dunia nyata memperkuat temuan ini: donasi amal turun 10% di wilayah yang terkena dampak kehilangan tidur akibat pergantian waktu musim panas.

Mekanisme di balik temuan ini mereka jelaskan melalui dua proses biologis. Pertama, kurang tidur mengganggu fungsi prefrontal cortex, area otak yang mengatur pengambilan keputusan sosial. Kedua, tidur yang tidak cukup meningkatkan produksi hormon stres kortisol, yang menghambat kemampuan kita untuk merespons kebutuhan orang lain. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan “kebutaan sosial” sementara, di mana kita menjadi kurang peka terhadap sinyal permintaan bantuan.

Implikasi dari hasil penelitian ini cukup penting untuk diperhatikan. Pertama, prioritaskan tidur 7-8 jam per hari. Jika pekerjaan menuntut Anda begadang, tidur siang singkat 20-30 menit bisa membantu memulihkan fungsi otak yang terkait dengan empati. Kedua, perusahaan perlu mempertimbangkan kebijakan jam kerja fleksibel atau ruang istirahat untuk memastikan karyawan tidak mengorbankan tidur demi produktivitas semu. Ketiga, pemerintah dan organisasi kesehatan harus mengedukasi masyarakat tentang dampak kurang tidur tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga pada hubungan sosial.

Pada tingkat individu, temuan ini mengajarkan bahwa merawat diri (dengan tidur cukup) adalah langkah pertama untuk bisa merawat orang lain. Di tengah tuntutan hidup yang semakin tinggi, studi ini mengingatkan kita bahwa kemanusiaan kita bergantung pada hal-hal mendasar—dan tidur adalah salah satunya.

 

Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel ilmiah “Sleep loss leads to the withdrawal of human helping across individuals, groups, and large-scale societies” oleh Simon, Vallat, Rossi, & Walker (2022) yang diterbitkan di jurnal PLOS Biology.

Author

  • Sunu Bagaskara

    Sunu Bagaskara adalah staf pengajar dan peneliti di Fakultas Psikologi Universitas YARSI dengan kajian di bidang Psikologi Sosial, Psikologi Lalu-lintas, dab Sosial Kognitif

    View all posts
Bagikan artikel ini