ADHD & Keterampilan Sosial: Tantangan dan Solusi

Pernahkah Anda bertemu seseorang yang antusias bercerita, tapi tiba-tiba teralihkan oleh hal lain? Atau teman yang selalu ingin bergerak, sehingga kerap dianggap “tidak bisa diam”? Bisa jadi, itu adalah bagian dari gejala ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Gangguan ini tidak hanya tentang kesulitan fokus atau hiperaktif, tapi juga memengaruhi cara seseorang berinteraksi sosial. Bagaimana ADHD menghambat keterampilan bersosialisasi, dan adakah harapan untuk memperbaikinya?

ADHD ditandai oleh tiga gejala utama: tidak fokus, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gejala ini tidak hanya mengganggu aktivitas akademis atau pekerjaan, tetapi juga membayangi hubungan sosial. Menurut penelitian, 50-60% anak dengan ADHD mengalami penolakan dari teman sebaya. Tanpa intervensi, kesulitan ini bisa terbawa hingga dewasa, membentuk pola interaksi yang kaku atau kurang percaya diri.

Tantangan sosial yang dialami individu dengan ADHD berkembang seiring bertambahnya usia. Di masa kanak-kanak, mereka sering kesulitan mengikuti aturan permainan kelompok. Hiperaktivitas membuat mereka sulit diam, sementara impulsivitas mendorong perilaku seperti merebut mainan atau menyela pembicaraan. Emosi yang mudah meledak juga memicu konflik dengan teman, sehingga banyak anak dengan ADHD dijauhi atau diasingkan.

Memasuki remaja, tantangan ini semakin kompleks. Kesulitan mengatur waktu membuat mereka kerap absen dari acara pertemanan, sementara impulsivitas menghambat kemampuan membangun hubungan mendalam. Misalnya, remaja dengan ADHD mungkin berbicara terlalu cepat atau gagal membaca bahasa tubuh lawan bicara, sehingga dianggap tidak tertarik. Jika terus terjadi, harga diri mereka bisa terkikis.

Di usia dewasa, gejala ADHD sering disalahartikan sebagai “ketidakpedulian”. Kesulitan fokus membuat mereka terlihat tidak mendengarkan pasangan atau rekan kerja. Impulsivitas juga memicu komentar yang tidak tepat waktu atau masuk ke ranah privasi orang lain. Tanpa strategi adaptasi, hubungan pertemanan atau romantis rentan retak.

Di balik tantangan, individu dengan ADHD memiliki keunikan yang bisa menjadi modal sosial. Mereka cenderung kreatif, spontan, dan penuh semangat. Ketertarikan mereka pada banyak topik membuat percakapan menjadi dinamis, sementara empati yang tinggi memungkinkan mereka menjadi pendengar yang hangat. Kuncinya adalah menemukan lingkungan yang memahami kelebihan ini.

Mengembangkan keterampilan sosial pada individu dengan ADHD memerlukan kolaborasi antara terapi, dukungan keluarga, dan lingkungan yang inklusif. Terapi perilaku dapat melatih teknik komunikasi, seperti membaca ekspresi wajah atau menunggu giliran bicara. Keluarga berperan memberikan umpan balik positif saat mereka berhasil mengontrol impuls, sementara komunitas yang memahami gejala ADHD memberi ruang untuk berlatih tanpa tekanan. Di sisi lain, kesadaran diri membantu individu mengenali pemicu kesulitan sosial—seperti situasi ramai—dan menyiapkan strategi antisipasi, seperti menarik napas sebelum berbicara. Dengan kombinasi ini, mereka dapat membangun hubungan yang lebih bermakna.

ADHD memang membawa tantangan unik dalam interaksi sosial, tetapi bukan akhir dari segalanya. Dengan dukungan yang tepat, individu dengan ADHD bisa belajar membaca situasi sosial, mengelola gejala, dan memanfaatkan kelebihan mereka. Bagi masyarakat umum, memahami bahwa “keterlambatan respons” atau “kegaduhan” bukanlah kesengajaan adalah langkah awal menciptakan lingkungan yang inklusif. Pada akhirnya, keterampilan sosial bukanlah bakat bawaan, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari—termasuk oleh mereka dengan ADHD.

Author

  • Yuliana Anggreany

    Yuliana Anggreany mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan, serta menjadi psikolog di Pusat Tumbuh Kembang & Sekolah Khusus Bougenville.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait