Setelah aktris terkenal Marilyn Monroe ditemukan meninggal dunia pada 4 Agustus 1962 di kediamannya karena bunuh diri, terjadi peningkatan kasus bunuh diri sebesar 12% di Amerika Serikat pada bulan kematian Monroe. Fenomena serupa juga terjadi setelah kematian aktor Robin Williams pada 12 Agustus 2014. Williams ditemukan menggantung dirinya sendiri hingga tidak dapat bernafas. Tidak lama setelah itu, terjadi peningkatan jumlah kasus bunuh diri sebesar 10% di Amerika Serikat. Pelaku bunuh diri tersebut pada umumnya pria (jenis kelamin sama dengan William) dan menggunakan metode yang serupa dengan yang dilakukan oleh komedian terkenal itu. Fenomena bunuh diri yang terjadi dalam situasi di atas dikenal dengan nama copycat suicide. Mari kita bahas lebih lanjut fenomen ini.
Copycat suicide adalah tindakan peniruan bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang setelah terjadinya insiden bunuh diri yang pada umumnya dilakukan selebritas. Gelombang copycat suicide tidak hanya terjadi di Amerika Serikat atau negara-negara Barat saja seperti pada kasus Monroe dan Williams, melainkan juga di negara-negara Timur seperti Taiwan, Korea Selatan, dan India. Copycat suicide cenderung lebih sedikit terjadi ketika kematian selebritas bukan disebabkan oleh bunuh diri (misalnya, sakit atau kecelakaan) dan ketika yang melakukan bunuh diri bukan selebritas.
Copycat suicide rentan dilakukan oleh orang-orang yang mempersepsikan dirinya memiliki kemiripan karakteristik dengan selebritas yang melakukan bunuh diri, misalnya kesamaan latar belakang sebagai orang tua tunggal atau kesamaan karakteristik demografi. Sebagai contoh, mayoritas pelaku copycat suicide setelah insiden bunuh diri yang dilakukan aktris Korea bernama Ms. Choi berjenis kelamin yang sama dengan sang selebritas, yakni perempuan. Peneliti berpendapat bahwa kesamaan karakteristik tersebut cenderung membuat pelaku copycat suicide menganggap bunuh diri sebagai solusi yang dapat diterima saat menghadapi masalah.
Pemberitaan insiden bunuh diri selebritas yang dilakukan secara intensif, detil, dan menggunakan gaya bahasa yang sensasional oleh media massa ditenggarai memengaruhi timbulnya copycat suicide. Sebuah studi mengemukakan pengaruh media massa terhadap terjadinya copycat suicide dapat dijelaskan berdasarkan social learning theory, yakni seseorang (non selebritas) yang sedang mengalami kesulitan hidup mempelajari dari pemberitaan media massa bahwa ada orang lain (selebritas) yang juga sedang mengalami masalah kehidupan dan berhasil keluar dari masalah tersebut melalui bunuh diri. Ia kemudian meniru tindakan tersebut dengan harapan memperoleh jalan keluar yang serupa. Pembelajaran ini dilakukan melalui isi pemberitaan yang detil tentang metode, lokasi, maupun situasi sebelum dan sesudah terjadinya bunuh diri selebritas.
Mengingat media massa dapat memicu individu yang rentan untuk melakukan copycat suicide, maka media massa perlu menerapkan etika dalam pemberitaan insiden bunuh diri. Di Indonesia, hal ini diatur dalam Peraturan Dewan Pers no 2/Peraturan-DP/III/2019 tentang pedoman pemberitaan terkait tindak dan upaya bunuh diri. Peraturan tersebut antara lain:
- wartawan mempertimbangkan dengan seksama manfaat sebuah pemberitaan bunuh diri,
- pemberitaan bunuh diri sebaiknya diposisikan sebagai isu kesehatan jiwa dan bukan kriminalitas,
- tidak menyebutkan lokasi terjadinya bunuh diri,
- menghindari pemberitaan yang bermuatan stigma terhadap orang yang melakukan atau berupaya bunuh diri,
- tidak menyebutkan identitas pelaku secara gamblang,
- harus mempertimbangkan pengalaman traumatis keluarga atau orang terdekat, dan seterusnya.
Mengingat pentingnya peran media massa dalam menyebarkan informasi dan pengaruhnya terhadap perilaku massa, ada baiknya setiap media massa memegang teguh peraturan Dewan Pers tersebut. Mengumbar informasi detil mengenai kasus bunuh diri, terutama yang terjadi pada selebritas, hanya untuk kepentingan mencari keuntungan sensasional belaka tidak akan memberi banyak keuntungan bagi masyarakat. Para pekerja di bidang jurnalistik perlu memahami dan mempelajari kondisi dan dampak psikologis dari massa yang menjadi konsumen karya jurnalisme mereka.
