Kata gender sering kita gunakan untuk menyimpulkan tingkah laku dan atribut seseorang sebagaimana jenis kelaminnya. Dan jika semua orang memiliki jenis kelamin dan berperilaku berdasarkan gendernya, bagaimana dengan ruang yang digunakan oleh individu dan kelompok untuk mengekspresikan identitas gendernya? Apakah ruang, sebagaimana manusia juga sebenarnya juga memiliki gender? Jika ya, maka apakah gender taman bermain anak-anak kita? Jantan atau betina?
Sejumlah studi yang mengkaji hubungan antara gender dan taman bermain umumnya memanfaatkan teori “power relations” atau relasi kuasa yang dikemukakan oleh seorang pascastrukturalis, Michel Foucault. Dengan menekankan pada kajian diskursus, umumnya kaum pascastrukturalis menekankan pentingnya memahami subyetivitas anak-anak dalam memaknai masa kanak-kanak dan praktik gender yang terjadi dalam sebuah institusi keseharian mereka. Institusi ini menurut R. W. Connell tidak selalu institusi formal sebagaimana pemerintahan, sekolah, ataupun rumah. Connell dan Foucault berpendapat kekuasaan berasal dari bawah dan merembes ke atas. Artinya, relasi kekuasaan sejatinya bisa ditemukan di mana saja, termasuk di institusi informal seperti taman bermain, trotoar jalan, dan ruang publik lainnya. Menurut Foucault, karena kekuasaan hadir di mana-mana, maka di mana ada relasi (hubungan antar manusia), di situlah terdapat kekuasaan (power).
Perspektif Foucault tentang relasi kuasa (power relations) di ruang informal banyak digunakan untuk memahami bagaimana gender, aktivitas bermain, dan taman bermain terkait satu sama lain. Di Indonesia, sejumlah penelitian terdahulu juga telah menyelidiki subyektivitas anak-anak tentang gender dengan mengikutsertakan konteks sosial dan sejarah di mana mereka tinggal dalam subjektivitas mereka. Penelitian Utami, Fleer, dan Li misalnya, yang menyelidiki diskursus gender dalam setting sekolah taman kanak-kanak, menemukan bahwa anak-anak semuda 3,5 tahun mampu mengeksplorasi peran gender selama mereka bermain, dan menegosiasikan konflik gender di antara mereka. Menariknya, ketika aktivitas bermain tidak sejalan dengan norma gender, anak-anak justru lebih termotivasi untuk menantang kemampuan mereka lewat kegiatan bermain. Konflik ini misalnya dapat dilihat dari bagaimana anak perempuan melawan norma gender maskulin yang umumnya berlaku pada kegiatan bermain yang lebih banyak melibatkan otot besar. Dengan demikian, aktivitas bermain memberikan kesempatan yang sama bagi anak untuk memahami identitas gender mereka sekaligus menjajal identitas gender lainnya.
Dalam penelitian lain, Adriany menawarkan pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana anak-anak perempuan usia prasekolah membangun diskursus ”princess and Barbie”, dan memanfaatkannya tersebut untuk mempertegas feminitas mereka sekaligus mengeksklusi anak laki-laki dalam permainan mereka. Baik penelitian Utami dkk. maupun Adriany menyoroti bahwa permainan anak bukan hanya sekedar media bagi anak untuk mencapai tugas-tugas perkembangan tertentu berdasarkan norma gender diharapkan sebagaimana yang dikemukakan oleh kaum strukturalis. Lebih dari itu, menurut Utami dkk. dan Adriany, bermain merupakan “pertunjukan” di mana anak-anak adalah aktor yang secara aktif mengkonstruksi, melawan, dan bahkan melangkahi norma gender yang berlaku di dalam sebuah institusi.
Dalam kaitannya dengan diskursus taman bermain, relasi kuasa yang hadir dalam suatu ruang seringkali hadir dalam bentuk hegemoni gender: kelompok mana yang mengatur taman bermain dan bagaimana kelompok lain harus menggunakannya. Mereka yang tidak mematuhi penguasa dan aturan mereka akan dipandang sebagai “orang lain” (“other”) yang berpotensi terpinggirkan dalam arena bermain. Penelitian yang dilakukan oleh Karsten di tahun 2003 dan Paechter & Clark pada tahun 2007, misalnya, menyoroti taman bermain sebagai kanvas dominasi laki-laki, di mana anak laki-laki mendistribusikan diskursus taman bermain sebagai area permainan sepak bola mereka dan menetapkan kendali atas konsekuensi-konsekuensi bagi mereka yang menolak diskursus ini. Akan tetapi, seperti yang juga ditekankan oleh Foucault, di mana ada kekuasaan, di situ ada perlawanan; dan temuan dari penelitian Paechter & Clark dan Karsten tersebut membuktikan pendapat ini. Dalam studi mereka, meski anak perempuan umumya yang paling terdampak secara negatif oleh hegemoni anak laki-laki atas taman bermain, mereka tidak tinggal diam. Sebaliknya, anak-anak perempuan menunjukkan resistensi mereka terhadap kuasa anak laki-laki dengan merebut kembali hak mereka atas taman bermain dan mengacaukan permainan sepakbola yang tengah berlangsung.
Hegemoni maskulinitas dalam narasi sepak bola yang terjadi di taman bermain memiliki konsekuensi negatif, baik untuk anak laki-laki maupun perempuan. Bagi anak laki-laki, narasi sepak bola menjadi kesatuan dengan karakteristik maskulin dan menjadi pembeda spektrum maskulinitas yang tegas di antara mereka. Anak laki-laki yang tidak bermain dengan baik dalam sepak bola dan tidak mengikuti tren sepak bola cenderung dianggap memiliki “kelainan” dan dianggap tidak jantan, menurut Barbara Martin dalam bukunya yang berjudul “Children at play: Learning gender in the early years”. Sementara itu, bagi anak perempuan, narasi “sepak bola milik anak laki-laki” tidak hanya mengucilkan mereka dari taman bermain, tetapi juga secara sistematis telah membatasi partisipasi mereka dalam permainan olahraga. Setidaknya, begitulah yang ditemukan dalam penelitian yang dilakukan anak usia SD di Inggris dan juga Afrika Selatan. Meskipun penelitian terbaru melaporkan bahwa lebih banyak anak perempuan ingin bermain sepak bola secara profesional, mereka masih merasa sulit untuk dianggap sebagai pesepakbola meskipun secara faktual mereka memiliki kecakapan yang sama dengan anak laki-laki; dan kesenjangan gender dalam sepakbola ini bermula dari bagaimana anak-anak menggunakan dan berbagi ruang dalam permainan mereka.
Dengan menggunakan lensa postsrukturalisme yang membedah diskursus bermain anak dan strategi mereka dalam menguasai taman bermain, agaknya tidak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa taman bermain anak umumnya bergender jantan. Lebih parahnya, keberpihakan gender dalam taman bermain anak ini seringkali dipertegas dengan fitur desain dan program dari taman bermain itu sendiri yang umumnya lebih menguntungkan anak laki-laki dibandingkan anak perempuan—melalui narasi sepakbola yang mendominasi diskursus ruang bermain anak.
