Kasus pertemanan yang toxic atau tidak sehat sudah cukup banyak kita amati baik di media sosial maupun di lingkungan sekitar kita. Sebut saja seorang mahasiswa N yang dulu berteman lama dengan rekannya ternyata kandas karena gossip yang dilansirkan dari rekannya sendiri membuatnya hilang kepercayaan dan putusnya hubungan pertemanan. Kondisi lain juga nampak, misalnya, seseorang yang justru terus berteman dengan seseorang yang nyata malahan seringkali menjelekkannya dan ia tetap saja berteman padahal sudah jelas membuatnya tidak nyaman bahkan menderita. Menarik untuk dibahas mengapa hal ini bisa terjadi.
Menjalin relasi pertemanan adalah sebuah kebutuhan dasar dalam hidup manusia. Sejumlah tokoh klasik psikologi, di antaranya Abraham Maslow, Sigmund Freud, dan John Bowlby, menjelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain atau seringkali disebut sebagai need to belong. Psikologi kontemporer pun menjelaskan bahwa kebutuhan untuk berinteraksi secara interpersonal dengan orang lain menjadi hal yang paling dianggap penting karena tidaklah mungkin seseorang hidup sendirian di bumi ini. Ketergantungan di antara mereka sudah ada sejak lama.
Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa ketika seseorang berhubungan dengan orang lain, maka ia akan lebih sehat secara fisik dan memiliki umur lebih panjang. Namun, ketika hubungan tidak berjalan manis maka dapat dikatakan merugikan secara mental dan fisik. Artinya, ketika seseorang menjalin relasi pertemanan, maka ia harus paham betul bagaimana pengaruhnya dalam kesehatan mental dirinya. Melihat kondisi demikian, kira kira mengapa bisa terjadi?
Perlahan saja, mari kita simak pertanyaan berikut ini. Ketika kamu sehat siapakah yang menemanimu? Dan ketika kamu sakit, siapa yang memperhatikanmu? Silahkan kamu tulis di kertas kosong semua nama yang terpikirkan ketika mendengar pertanyaan tersebut. Setelah itu, lihatlah daftar nama dari jawaban tersebut. Lebih banyak mana orang-orang yang menemanimu: ketika kamu sakit atau ketika kamu sehat? Jika sudah, silahkan amati sejumlah hasil riset berikut ini.
Sebuah riset menjelaskan bahwa terjadi peningkatan angka kematian pada rentang waktu 30 bulan pada pasien yang mengalami sakit dan kurang memiliki hubungan pertemanan yang bisa membantu menguatkan dan memberikan semangat kepada mereka. Kurangnya relasi pertemanan yang positif dapat mengarah pada kondisi psikologis negatif seperti kecemasan dan depresi. Hal ini pada akhirnya dapat berujung pada kesehatan fisik, kerentanan terhadap penyakit dan, atau meningkatkan risiko penyakit serta kematian.
Riset lainnya menemukan bahwa relasi pertemanan yang sehat akan dapat meningkatkan imun tubuh dan berpotensi baik pada kesehatan mental individu. Karena memiliki pertemanan yang sehat, individu akan mendapatkan dukungan emosi, informasi, atau bantuan praktis yang secara kolektif disediakan. Dukungan emosional bisa diberikan dalam bentuk memberikan cinta dan juga saling memahami. Sedangkan, dukungan informasi dapat berwujud nasihat atau saran untuk menghadapi masalah atau peristiwa yang membuat stres. Sementara dukungan instrumental (praktis) diwakili oleh bantuan atau layanan nyata yang secara langsung membantu seseorang yang membutuhkan.
Pertemanan yang sehat tampak juga dari merasakan kebahagian temannya dan turut bangga dengan prestasi yang dimiliki teman tersebut. Dukungan positif inilah yang dipercaya dapat meningkatkan perasaan nyaman dan sejahtera pada diri individu. Sementara dibandingkan dengan pertemanan toxic, yang terjadi justru berbanding terbalik: dominansi dari salah satu individu dalam lingkup pertemanan tersebut membuat tidak nyaman. Bahkan, terjadinya emotional abuse seperti komunikasi verbal yang agresif meliputi ancaman, kemarahan yang menyebabkan korban merasa sakit hati, tertekan, takut, dan jika dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan perasaan rendah diri terhadap korban.
Dari apa yang telah dipaparkan, pembaca diharapkan menjadi lebih peka dan pandai untuk tahu mana pertemanan yang dapat menyehatkan mental atau malahan sebaliknya. Ingatlah bahwa pertemanan yang sehat sangat berpengaruh dengan perasaan nyaman dan sejahtera. Pilihlah teman yang bisa memahami dan menyayangi Anda apa adanya, bukan malah berteman dengan mereka yang menyakiti Anda secara mental dan berpotensi menyebabkan sakit fisik.
