Dewasa ini isu kesehatan mental semakin menyebar luas, mulai dari selebgram, selebtok (seleb tiktok), para penyintas mental health, dan aktivis kesehatan mental pun seakan berlom-lomba menyuarakan isu kesehatan mental. Fenomena ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi respon positif masyarakat terkait kesehatan mental sangat luar biasa namun di sisi lain hal ini meningkatkan adanya peluang menjatuhkan kondisi kesehatan mental sendiri dengan self diagnose. Terbukanya informasi tentunya harus disikapi dengan bijak agar dampak positif ini dapat terus bertahan dan dampak negatif bisa diredam.
Fenomena kesehatan mental yang semakin booming ini tidak selamanya dapat berdampak positif, masih adanya stigma mengenai kesehatan mental membuat langkah orang yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan mental terhenti. Belum lagi persoalan akses yang belum memadai di pelosok Indonesia dan biaya yang harus dikeluarkan relatif mahal. Padahal jika kita melihat fakta dilapangan berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018 sebanyak 9.8% remaja usia 15 tahun keatas mengidap gangguan depresi, belum lagi isu kesehatan mental yang kerap mengganggu remaja seperti self harm, keinginan bunuh diri, dan stres yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara maksimal karena tiga kendala utama tadi (stigma, aksesibilitas, dan biaya). Masih banyaknya orang yang belum tersentuh oleh profesional menjadi isu yang harus diperhatikan, tercacat masih ada 91% orang dengan gangguan depresi belum menadapatkan pengobatan (Riskesdas, 2018).
Hadirnya pelayanan konseling berbasis online dengan memanfaatkan peluang yang ada diharapkan dapat menjadi jawaban atas permasalahan tesebut, walaupun masih terbatasnya ruang lingkup pelayanan yang diberikan namun ini menjadi secercah cahaya bagi mereka yang membutuhkan pelayanan konseling. Perlahan tapi pasti mulai berani nya masyarakat untuk konseling online menjadi angin segar bagi kalangan profesional maupun praktisi di bidang psikologi sehingga tembok pembatas “stigma” dan “aksesibilitas” runtuh seketika. Menjawab tembok pembatas lainnya yaitu “biaya”, Berbagicerita.id hadir sebagai layanan kesehatan mental yang gratis, dengan melihat fenomena di masyarakat mengenai sulitnya menjangkau layanan kesehatan mental, masih dibayangin omongan negatif orang lain, dan tidak memiliki cukup biaya untuk konseling membuat Berbagicerita.id berinisiatif menghadirkan konseling berbasis online, mudah digunakan, dan gratis.
Jadi, jangan takut lagi untuk konseling karena sudah tersedia layanan yang bisa mengerti kamu karena setiap cerita itu berharga.
