Usia muda seperti remaja merupakan periode di mana seseorang mengalami banyak perubahan dari aspek fisik, sosial, maupun emosional. Usia muda juga merupakan usia di mana isu kesehatan mental mulai banyak muncul dalam diri seseorang, di antaranya gangguan kecemasan dan depresi. Di Indonesia, hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menemukan bahwa usia 15-24 tahun merupakan kelompok usia yang berada pada urutan keempat tertinggi dari tujuh kelompok usia dengan depresi dan gangguan mental emosional. Namun kelompok usia ini ternyata memiliki angka paling rendah dalam pengobatan depresi (5,25%). Hal ini juga didukung dengan pernyataan WHO di tahun 2021 bahwa secara global 1 dari 7, sekitar 14%, individu berusia 10 – 19 tahun mengalami kondisi-kondisi kesehatan mental yang sebagian besar tidak ditangani. 

Walaupun begitu, individu usia muda bukannya tidak melakukan apa-apa. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran yang diterbitkan tahun 2021 kepada sejumlah mahasiswa ditemukan bahwa cara paling banyak yang dilakukan mahasiswa untuk mengelola stres mereka adalah dengan berbicara kepada orang yang dipercaya, diikuti dengan melakukan hobi dan berdoa. Selain itu, saat mengalami masalah kesehatan mental, maka mereka akan lebih banyak mencari bantuan dari teman jika dibandingkan dengan pihak lain seperti psikolog ataupun keluarga. Melihat hal ini, maka respon teman sebaya menjadi hal yang penting dalam proses membantu sesamanya untuk mengelola masalah kesehatan mental sebelum akhirnya mengunjungi profesional. 

Namun, bagaimana cara membantu teman dengan masalah kesehatan mental tidak selalu diketahui oleh para kaum muda serta bukanlah hal yang mudah. Namun satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan kesempatan bagi teman kita untuk membicarakan masalahnya. Lebih lanjut lagi, dilansir dari Mental Health Foundation, terdapat beberapa tips bagi kita yang sedang mendengarkan teman kita yang sedang memiliki masalah yang saya elaborasi dengan informasi tambahan:

  1. Menyediakan waktu khusus di mana kita dapat mendengarkan secara terbuka dan minim dengan hal-hal yang dapat mendistraksi
  2. Memberikan kesempatan teman berbicara sesuai dengan kesiapan dan kecepatan mereka. Tidak perlu memaksa jika mereka belum siap menceritakan semuanya. Kita dapat juga mengatakan kalimat seperti “Take your time”, “Kalau mau cerita kabarin aja, saya akan dengarkan” untuk membantu mereka mengetahui bahwa kita siap untuk mendengarkan.
  3. Tidak melakukan diagnosa atau membuat asumsi atas apa yang mereka rasakan. Kita bukan ahli di bidang kesehatan mental. Tanyakan jika tidak paham apa yang mereka sampaikan. Jika bingung harus membantu seperti apa, bisa tanyakan “Bantuan seperti apa yang kamu harapkan dari saya?”
  4. Cobalah bertanya dengan pertanyaan terbuka dan netral. Misalnya dengan bertanya “Apa yang kamu rasakan?” daripada “Kamu sedih ya?”. Pertanyaan terbuka lain juga dapat ditanyakan dengan kalimat seperti “Bagaimana….”, “Coba deh ceritakan…”, “Apa yang membuat kamu…”
  5. Dengarkan apa yang mereka ceritakan. Walaupun kita tidak selalu setuju dengan apa yang mereka sampaikan, namun kita dapat mencoba mengulang kembali apa yang mereka sampaikan sebagai tanda kita mengikuti dan memahami ceritanya. 
  6. Cobalah untuk mendiskusikan dan menemukan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kesehatannya, baik fisik maupun psikologis. Bergerak/berolahraga, memiliki istirahat cukup, memiliki orang yang dapat diajak cerita, menenangkan diri saat mengalami emosi yang intens, merupakan beberapa cara yang dapat didiskusikan. 
  7. Ajak mereka untuk menemui ahli di bidang kesehatan mental atau menceritakannya kepada keluarga. Berikan juga informasi yang kita tahu mengenai biro psikologi ataupun komunitas kesehatan mental yang dapat didatangi. Kita memang bukan orang yang dapat memutuskan apa yang harus mereka lakukan, namun kita bisa memberikan pendapat yang mungkin akan jadi pertimbangan mereka. 
  8. Memahami keterbatasan kita sebagai seorang teman dengan memahami apa yang kita rasakan. Saat kita merasa tidak sanggup menghadapi masalah teman kita, maka kita perlu mencari bantuan pihak lain melalui keluarga, teman yang lain, ataupun ahli di bidang kesehatan mental. Kamu tidak dapat membantunya sendirian, terutama jika yang dialami sudah mengancam keselamatan jiwanya. 

Semoga hal-hal ini bisa semakin membantu kita dalam mendengarkan teman-teman dengan masalah kesehatan mental ya.

Author

  • Wiwit Puspitasari Dewi

    Dosen di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan dan psikolog klinis dewasa. Tertarik dengan topik penelitian terkait stigma kesehatan mental, pencarian bantuan, & kecemasan.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait