Menerima Kehilangan, Merengkuh Duka, Menuju Pemulihan: Refleksi Film Doctor Strange in The Multiverse of Madness

Film Doctor Strange in the Multiverse of Madness yang dirilis awal Mei 2022 mungkin menjadi sebuah film yang memicu antusiasme para penggemar Marvel Cinematic Universe. Rangkaian film Doctor Strange mengisahkan mengenai Stephen Strange, pahlawan super yang memiliki kekuatan berupa ilmu mistik super dan bagaimana ia melawan penjahat super maupun makhluk supranatural yang mengancam keselamatan semesta. Pada film kali ini, Doctor Strange berjumpa dengan America Chavez, seorang gadis yang mampu melewati multisemesta. Mereka harus melawan pahlawan super lain, Wanda Maximoff alias Scarlet Witch, yang menginginkan kekuatan America. Perhatian: spoiler alert!!!

Doctor Strange in the Multiverse of Madness sejatinya merupakan film aksi dan fantasi. Namun, bagi saya film ini mengangkat narasi mengenai cinta dan kehilangan. Tokoh-tokoh utama dalam film ini, baik itu Stephen Strange, Wanda Maximoff, maupun America Chaves harus menanggung pahitnya kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Mereka merespon kehilangan ini dengan cara-cara berbeda dan ada yang menjadi maladaptif. Stephen berpura-pura bahagia ketika Christine Palmer, orang yang dicintainya, menikah dengan orang lain. America begitu ketakutan untuk merengkuh kekuatan supernya karena oleh kekuatan ini, ia harus kehilangan orang tuanya karena tanpa sengaja terkirim ke semesta lain. Sementara itu, Wanda begitu mengingini kekuatan America untuk melintasi multisemesta karena ia ingin anak-anaknya yang “hilang” kembali bersamanya kembali. Hal ini membuatnya terkorupsi oleh kekuatan jahat dan menjadi tokoh antagonis dalam film ini.

Jika ditinjau dari kerangka Acceptance and Commitment Therapy, tokoh-tokoh dalam film ini tampak menghindari perasaan kehilangannya, sesuatu yang disebut dengan experiential avoidance atau justru terpaku pada pengalaman kehilangan tersebut, yang disebut dengan fusion. Penghindaran dari pengalaman internal negatif maupun hanyut di dalamnya membuat mereka justru menjadi impulsif (misalnya Wanda yang akhirnya sangat ingin untuk bersama anaknya tanpa peduli bagaimana caranya) atau menghindar dari diri sejati (seperti America yang justru takut dengan kekuatannya). Mereka juga kehilangan arah kehidupannya sehingga justru menimbulkan kekacauan (misalnya Stephen yang membuat terjadinya Incursion, tabrakan dua semesta, dan menghancurkan keduanya).

Hal yang menarik terjadi di akhir film di mana Stephen bertemu dengan versi Christine di semesta lain dan mereka bersama-sama berusaha menyelamatkan America. Ia akhirnya bisa mengungkapkan perasaan cintanya pada Christine setelah sebelumnya berusaha menutupinya dan pura-pura bahagia. America juga mendapatkan dukungan dan peneguhan dari Stephen, bahwa kekuatan supernya membawanya ke tempat yang semestinya, demikian pun orang tuanya juga ada di tempat yang semestinya pada suatu semesta. Hal ini membuat America bisa merengkuh kekuatannya. Wanda juga bisa bertemu dengan anak-anak dan versi dirinya yang lain di semesta lain. Versi diri Wanda yang lain menunjukkan welas asihnya pada Wanda, yang membuat Wanda akhirnya merengkuh kehilangannya dan melakukan hal yang benar.

Masing-masing tokoh dalam film ini akhirnya bisa menerima bahwa mereka kehilangan. Hal ini memampukan mereka untuk memproses duka yang mereka rasakan dan melangkah menuju pemulihan. Melalui film ini saya merefleksikan kembali bagaimana kita dapat meresponi kehilangan. Ketika kita menghindari emosi negatif karena kehilangan, berpura-pura baik-baik saja, atau bahkan justru tenggelam dalam kehilangan sehingga sangat ingin untuk mengisi kehilangan, kita bisa bisa jadi justru berperilaku maladaptif. Ketika kita menerima rasa kehilangan kita, menjumpai diri kita yang penuh welas asih (seperti yang Wanda alami), dan menerima perasaan yang hadir baik itu positif maupun negatif di tengah kehilangan (seperti cinta Stephen untuk Christine yang selalu ada di setiap semesta, atau rasa bersalah dan harapan America bertemu orang tuanya), kita bisa melangkah menuju pemulihan: bertindak aktif menuju kehidupan yang sesuai dengan apa yang kita anggap penting (seperti Stephen), menerima kesalahan dan aktif melakukan pertobatan (seperti Wanda), serta menerima diri kita bahkan dalam aspek diri kita yang kita takuti (seperti America).

Bagaimana dengan Anda? Bagaimana film ini bicara bagi Anda? Bagaimana juga kita memproses kehilangan orang yang kita cintai? Pada akhirnya, duka dan perasaan kehilangan merupakan tanda dari cinta kita kepada mereka yang telah pergi, yang perlu kita terima dan proses sesuai waktu dan konteks kehidupan kita.

Author

  • Dicky Sugianto

    Dicky Sugianto adalah psikolog klinis dewasa dan dosen di Fakultas Psikologi Universitas Pelita Harapan. Ia juga merupakan peneliti dalam bidang welas asih, shame, serta kesehatan mental orang yang dimarjinalkan.

    View all posts
Bagikan artikel ini

Artikel terkait