“Ayo sayang, satu suap lagi…” Kalimat ini mungkin menjadi salah satu mantra yang paling sering diucapkan ibu di meja makan, namun tak jarang berakhir dengan gelengan kepala atau aksi tutup mulut si kecil. Fenomena yang sering kita kenal dengan istilah GTM (Gerakan Tutup Mulut) ini memang kerap membuat orang tua merasa “mumet” dan khawatir akan kecukupan gizi buah hatinya. Sebenarnya apakah ada penjelasan untuk fase ini? Yuk kita pahami lebih jauh.

Sebelum rasa cemas mengambil alih, mari kita melihat fenomena ini dari kacamata Psikologi Tumbuh Kembang Anak. Penting untuk dipahami bahwa perilaku pilih-pilih makanan, atau yang secara ilmiah disebut sebagai “selective eating”, sebenarnya merupakan fase perkembangan yang normal bagi banyak anak.

Mengenal Lebih Dekat si “Pilih-Pilih Makanan”

Selective eater atau picky eater merujuk pada perilaku anak yang menolak jenis makanan tertentu, namun masih mau mengonsumsi jenis makanan lain dari kelompok yang sama. Contohnya, anak mungkin menolak telur namun tetap lahap saat diberikan ayam, atau menolak sayur hijau tetapi masih mau meminum jus buah.

Penelitian menunjukkan bahwa fase ini biasanya mulai muncul pada tahun pertama kehidupan hingga usia dua tahun, dengan puncaknya di usia 2 hingga 6 tahun. Jika dipahami secara bijak, ini adalah bagian dari cara anak menunjukkan kemandiriannya. Namun, jika berlanjut tanpa penanganan, hal ini memang berisiko memengaruhi berat badan dan tumbuh kembang optimalnya.

Mengapa Anak Menjadi “Selective“?

Ada berbagai faktor yang mendasari mengapa meja makan terkadang berubah menjadi medan tempur:

  1. Kendala fisik dan kesehatan: Gangguan saluran pencernaan, alergi, sariawan, hingga riwayat penyakit infeksi dapat menciptakan rasa tidak nyaman saat makan. Ketidaknyamanan inilah yang membuat anak secara bawah sadar mengasosiasikan makanan dengan rasa sakit atau gangguan di mulutnya.
  2. Faktor psikologis dan pengaturan diri: Suasana hati (mood) sangat memengaruhi nafsu makan. Rasa takut karena pernah tersedak, atau trauma akibat dibentak saat makan, dapat membuat anak kehilangan selera. Stres pada anak sering kali memicu mereka untuk hanya mencari rasa yang mereka kenal dan sukai, seperti rasa manis.
  3. Dinamika hubungan ibu dan anak: Kegiatan makan adalah momen interaksi. Jalinan positif melalui pujian dan perhatian akan meningkatkan nafsu makan. Sebaliknya, paksaan, ancaman, atau stres yang dirasakan ibu saat menyuapi justru akan menciptakan ritme makan yang negatif bagi anak.
  4. Orang tua sebagai “role model“: Anak adalah peniru ulung. Perilaku makan orang tua—apa yang ayah dan ibu makan serta bagaimana cara kalian memakannya—adalah panduan utama bagi anak. Jika orang tua juga pilih-pilih makanan, jangan heran jika si kecil mengikuti jejak yang sama.

Strategi Mendampingi Fase “Selective Eating

Bagaimana cara agar badai GTM ini segera berlalu? Berikut beberapa intervensi praktis yang dapat dicoba:

  • Perkenalan bertahap: Jangan paksa anak langsung menerima rasa baru. Cobalah sandingkan makanan baru dengan makanan favoritnya agar ia merasa lebih aman untuk mencoba.
  • Sentuhan kreativitas: Sajikan makanan dengan tampilan menarik, misalnya membentuk sayuran menjadi karakter lucu untuk memancing keingintahuan mereka.
  • Libatkan si kecil: Anak-anak cenderung lebih bersemangat mencicipi makanan yang mereka bantu siapkan sendiri di dapur.
  • Ciptakan atmosfer positif: Jadikan waktu makan sebagai momen yang santai dan menyenangkan. Hilangkan konflik dan tekanan untuk menghabiskan piring dalam sekejap.
  • Konsistensi adalah kunci: Jangan lekas menyerah. Terkadang, anak membutuhkan belasan kali paparan terhadap makanan baru sebelum mereka benar-benar berani menerimanya.

Kesimpulan

Menghadapi anak yang picky eater memang membutuhkan stok kesabaran yang ekstra luas. Namun, dengan pendekatan yang tepat, suasana makan yang hangat, dan teladan yang baik, fase ini akan berhasil dilalui. Ingatlah, fokus utama kita bukan sekadar membuat mereka kenyang, melainkan membangun hubungan yang sehat antara anak dan makanannya.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait