Pernahkah Anda merasa bahwa rumah terkadang hanya terasa seperti “stasiun pengisian daya” singkat sebelum kita kembali bertarung dengan kemacetan dan target kantor keesokan harinya? Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern, momen pulang ke rumah sering kali menjadi sebuah paradoks: kita merindukan kehangatan keluarga, namun energi yang tersisa hanya cukup untuk sekadar menyapa singkat sebelum akhirnya terlelap dalam kelelahan. Pertanyaannya, apakah sekadar berbagi atap yang sama sudah cukup untuk disebut sebagai sebuah “koneksi”?

Fakta Keluarga Dual-Earner di Indonesia

Partisipasi kerja orang tua, terutama perempuan, meningkat pesat. Pada tahun 2025, 86.45% keluarga di Indonesia adalah keluarga dual-earner, yaitu keluarga dengan ayah dan ibu yang sama-sama bekerja. Bagi banyak keluarga, kesibukan kerja membawa manfaat berupa stabilitas finansial dan ruang bagi anak untuk mengembangkan kemandirian. Namun, di saat yang sama, keterbatasan waktu dan kelelahan emosional juga menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan.

Secara umum, interaksi keluarga dual-earner setelah bekerja kerap berlangsung dalam suasana lelah secara fisik maupun emosional. Selain itu, keluarga dual-earner sering dihadapkan pada situasi interaksi sehari-hari yang lebih terbatas. Jam kerja yang panjang, tuntutan kebijakan, serta kondisi kemacetan lalu lintas yang dapat terasa melelahkan membuat peran orang tua pekerja menjadi lebih menantang. Waktu yang singkat cenderung hanya dapat berfokus pada percakapan yang sederhana, sementara ruang untuk berbagi pengalaman dan emosi antar anggota keluarga menjadi minim. 

Orang tua dapat mengalami dilema antara tuntutan profesional dan peran pengasuhan, sementara anak berisiko merasakan jarak emosional, meskipun secara fisik tinggal bersama. Apabila tidak dikelola secara sadar, dinamika ini dapat berdampak pada keberfungsian keluarga. Meskipun demikian, dampak positif maupun negatif dari keluarga dual-earner tetap bergantung pada bagaimana keluarga mengelola tuntutan tersebut. Lalu, bagaimana cara agar dinamika keluarga tetap terjaga?

Peran Orang Tua dalam Keluarga

Di tengah kesibukan kerja, orang tua perlu memahami bahwa perannya sangat penting bagi perkembangan anak. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar memahami emosi, membangun relasi, serta mengembangkan cara menghadapi masalah. Kehadiran keluarga yang responsif dan suportif membantu anak merasa aman secara emosional dan menjadi dasar bagi kesejahteraan psikologisnya. Oleh karena itu, kehadiran orang tua secara fisik saja tidak cukup. Kualitas interaksi yang hangat dan suportif lah yang membentuk rasa aman pada anak secara emosional.

Keberfungsian Keluarga

Untuk memahami dinamika keluarga dalam menjalankan perannya, salah satu kerangka yang banyak digunakan adalah keberfungsian keluarga. Menurut McMaster Model of Family Functioning, keluarga dianggap sehat ketika anggotanya mampu menjalankan dan memaknai enam fungsi mendasar secara efektif: (1) penyelesaian masalah, (2) berkomunikasi, (3) pembagian peran, (4) memberi respons afektif, (5) menunjukkan keterlibatan afektif, dan (6) kontrol perilaku. Keluarga yang berfungsi secara sehat bukan berarti terbebas dari konflik, melainkan mampu menghadapi tantangan secara adaptif dan saling mendukung.

Dalam keluarga dengan orang tua yang bekerja, fungsi keluarga sangat dipengaruhi oleh kualitas relasi dengan kekhasan kondisinya. Waktu kebersamaan yang terbatas tidak selalu menjadi hambatan apabila keluarga mampu memanfaatkannya secara bermakna. Kehadiran emosional, pembagian peran yang fleksibel, serta komunikasi yang jelas juga dapat membantu menjaga kedekatan antar anggota keluarga. Lebih jauh lagi, keluarga juga mampu memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi yang ada agar tetap terhubung dan mempertahankan intensitas interaksi antar anggota.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang “apa kabar keluarga?” bukan sekadar refleksi emosional, tetapi juga ajakan untuk meninjau kembali bagaimana keluarga menjalankan fungsinya di tengah tuntutan kerja. Dengan pengelolaan yang tepat, kesibukan kerja tidak harus menjauhkan keluarga. Sebaliknya, waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk membangun hubungan yang hangat, sehat, dan saling mendukung.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait