Di jagat media sosial, istilah Chindo semakin sering terdengar. Sebutan ini merujuk pada warga keturunan Tionghoa yang lahir dan hidup di Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari bangsa ini. Secara harfiah, Chindo berasal dari gabungan kata China dan Indonesia. Penyebutannya terasa lebih segar dan kekinian, mirip dengan istilah Afro-American di Amerika Serikat. Yang membedakan, istilah ini juga membawa nuansa yang lebih halus, terutama bila dibandingkan dengan kata “Cina” yang lekat dengan sejarah kebijakan diskriminatif sejak era 1960-an.
Kejadian itu telah terjadi puluhan tahun lalu, tapi suasana psikologis kelompok pribumi (yang merasa sebagai kelompok-kelompok suku bangsa asli Indonesia) terhadap Chindo tetap tegang. Riset menunjukkan sikap kelompok pribumi yang unfavorable terhadap keturunan Tionghoa. Di sisi lain perubahan politik juga sebenarnya membuka ruang komunikasi yang lebih baik, misalnya di masa pemerintahan Presiden Susilo B Yudhoyono (SBY), penggunaan kata “Cina” diganti menjadi “Tionghoa”.
Meskipun demikian, hingga saat ini masih masih banyak narasi negatif yang ditujukan kepada suku bangsa Tionghoa di Indonesia. Ujaran kebencian yang muncul di Indonesia biasanya ditujukan kepada kaum-kaum minoritas yang ada, dan dinyatakan telah semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan dalam ujaran kebencian ini disebabkan lajunya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. orang-orang dengan mudah menggunakan berbagai jenis media sosial dalam menyebarkan ujaran kebencian yang mana dapat tersebar luas dan cepat (Idris et al., 2024).
Ujaran kebencian bukanlah hal baru. Ia mengacu pada agresi verbal yang ditujukan kepada individu atau kelompok karena kategori sosial seperti ras, gender, atau orientasi seksual. Dalam konteks etnis Tionghoa, penelitian terbaru menunjukkan adanya banyak percakapan di Twitter (X) yang memuat sentimen negatif. Sebanyak 125 cuitan ditemukan mengandung ujaran kebencian dengan tema “Antek Cina”, lengkap dengan stereotip negatif seperti “sering korupsi”, “meraup keuntungan”, hingga label “pelit”, “pengkhianat”, atau “pengadu domba”.
Gejala pergeseran penyebutan kelompok dari Cina (eras Orde Baru-Reformasi), Tionghoa (era SBY), sampai Chindo (era gen Z) memperlihatkan satu indikasi bahwa relevansi kebencian antarkelompok memudar. Dua sebutan sebelumnya masih memposisikan suku bangsa Tionghoa di Indonesia sebagai orang luar. Sebutan yang ketiga, menimbulkan suasana baru, setidaknya sebutan ini muncul dari aspirasi kelompok masyarakat yang tidak lagi terlibat dengan sejarah politik kelam (1960-an dan era perang dingin). Kelompok Gen Z lebih menekankan masa kini dan masa depan. Tampaknya ada pesan di bawah sadar bahwa isu “Cina” harus berakhir. Saatnya melihat masa depan.
Chindo adalah istilah orang Tionghoa yang ada di Indonesia. Keberadaannya jelas ada di depan mata. Kontribusinya sama dengan kelompok pribumi. Sejarah tetap sejarah, bisa jadi malah menjadi fakta. Namun, kemajuan bangsa tidak dibangun dengan semangat dendam masa lalu atau beban masa lalu. Kehidupan bermasyarakat kita sudah jauh lebih pesat dibanding tahun 1960-an atau 1990-an. Misalnya, riset menemukan bahwa nilai-nilai nasional berhubungan negatif dengan prasangka terhadap suku bangsa Tionghoa. Kehidupan Imlek di Indonesia yang memperlihatkan kehidupan yang saling menghormati, dan bagaimana keturunan Tionghoa seperti Agnez Mo yang mengidentifikasi diri sebagai orang Indonesia .
Generasi Z tampaknya menjadi kunci peluruhan prasangka. Membangun persaudaraan tentu tidak mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Hadirnya istilah Chindo bisa dilihat sebagai hasil negosiasi psiko-budaya, sebuah jawaban baru yang sebelumnya tidak pernah muncul. Jika di Amerika Serikat representasi Afro-Amerika dalam kepemimpinan nasional terwujud lewat Barack Obama, Indonesia mungkin baru memulainya lewat istilah yang lebih inklusif bagi keturunan Tionghoa.
Pertanyaannya sekarang, ‘kan sudah Chindo, kok masih dianggap bukan saudara?
