Di usia 3-6 tahun, anak prasekolah bagai spons yang menyerap segala hal di sekitarnya. Masa ini disebut the golden period—saat otak berkembang pesat, emosi mulai terbentuk, dan kepribadian mulai terlihat. Tapi bagaimana jika fondasi ini rapuh? Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) deni tahun 2013 menunjukkan, hampir 15% anak prasekolah di Indonesia mengalami masalah sosial-emosional seperti kecemasan atau agresivitas. Jika diabaikan, ini bisa menjadi bom waktu yang mengancam kesiapan mereka menghadapi dunia.

Perkembangan anak bukan sekadar bertambah tinggi atau pintar bicara. Ini adalah proses pematangan struktur dan fungsi tubuh secara teratur, termasuk kemampuan sensorik, motorik, sosial, hingga regulasi emosi. Di usia prasekolah, otak anak seperti tanah subur: apa yang “ditanam” akan menentukan “buah” yang dihasilkan di masa depan. Contohnya, kemampuan mengelola emosi. Anak yang tidak diajari cara mengekspresikan marah atau sedih secara sehat berisiko menjadi pribadi impulsif atau tertutup. Proses ini dikenal sebagai social-emotional development, di mana anak belajar menyesuaikan diri dengan norma sosial, seperti antre, berbagi, atau menghargai privasi orang lain.

Masih berdasarkan data Riskesdas 2013, di Yogyakarta, 8,1% penduduk di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional—angka tertinggi di Indonesia. Masalah ini sering berawal dari masa prasekolah. Anak yang tidak mampu mengendalikan emosi cenderung sulit bersosialisasi, mudah frustrasi saat bermain, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif seperti memukul teman.

Dampaknya tidak main-main. Anak dengan hambatan emosional berisiko tidak mampu mengikuti aturan kelompok, gagal mengakses sumber belajar di sekitarnya, dan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain. Tanpa intervensi, masalah ini akan terbawa hingga remaja dan dewasa.

Deteksi dini perkembangan anak prasekolah bukan tugas dokter atau guru saja. Orang tua, pengasuh, bahkan tetangga bisa berperan. Misalnya, mengamati apakah anak sulit fokus pada satu aktivitas lebih dari 5 menit, sering mengamuk tanpa alasan jelas, atau menghindari kontak mata saat diajak bicara.

Kerja sama antara keluarga, masyarakat, dan tenaga profesional sangat penting. Orang tua bisa berkonsultasi dengan psikolog anak jika menemui tanda-tanda gangguan, sementara kader posyandu dilatih untuk mengenali gejala awal.

Orang tua sering fokus pada fisik (misal: berat badan atau kemampuan baca), namun lupa bahwa emosi adalah fondasi kecerdasan. Di masa prasekolah, anak perlu dibimbing untuk mengenal emosi dasar (senang, marah, takut) melalui cerita atau permainan. Mereka juga perlu belajar mengekspresikan perasaan dengan kata-kata, bukan tindakan, serta memahami konsep “batasan”, seperti tidak merebut mainan teman. Interaksi positif dengan orang tua membantu anak membangun emotional intelligence—keterampilan yang lebih penting daripada IQ dalam menentukan kesuksesan sosial.

Masa prasekolah adalah periode kritis yang menentukan masa depan anak. Gangguan emosional yang diabaikan hari ini bisa menjadi beban sosial besok. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran kolektif. Orang tua perlu menjadi pendengar aktif dan mengajari anak mengelola emosi, bukan memendamnya. Guru PAUD harus mengembangkan kurikulum yang menyeimbangkan akademik dan keterampilan sosial. Pemerintah pun perlu memperkuat program deteksi dini di posyandu dan sekolah. Dengan kolaborasi ini, kita bisa memastikan setiap anak prasekolah tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berempati dan tangguh menghadapi tantangan.

Authors

Bagikan artikel ini

Artikel terkait