Anak-anak berbakat masih menjadi istilah yang kurang populer di Indonesia. Banyak orang yang fokus pada anak-anak gangguan perkembangan yang mengalami masalah di sekolah, seperti Autism, ADHD, learning disabilities, dan gangguan lainnya. Term anak berbakat menjadi istilah yang cukup sulit karena masih banyak pertimbangan yang dipikirkan untuk bisa mendeteksi seseorang dinyatakan sebagai anak berbakat. Bagaimana menanggapinya?

Dalam sejumlah wacana perkembangan pendidikan di Indonesia, anak dianggap berbakat jika ia memiliki potensi kecerdasan yang tinggi. Anak juga dianggap berbakat jika ia memiliki prestasi yang tinggi di area tertentu dan menonjol sehingga terlihat oleh masyarakat di sekitarnya. Banyak juga orang tua dan guru menilai anak yang dinilai sebagai anak berbakat adalah anak yang menunjukkan kepintaran terutama di bidang akademis. Namun, dalam perkembangan penelitian dan literature review untuk anak berbakat, tidak semua anak dengan potensi kecerdasan yang sangat tinggi mampu menunjukkan prestasi yang baik di bidang akademik.

Beberapa anak menunjukkan ketidaksukaannya dalam pembelajaran yang bersifat terstruktur di sekolah dan merasa ruang geraknya menjadi terbatas. Anak yang terlihat memang memiliki potensi kecerdasan di atas rata-rata ini menyatakan pembelajaran di sekolah cukup membosankan karena sering diulang di beberapa hal. Anak lain juga menyatakan ketatnya struktur pembelajaran membuat mereka sering merasa terbatas secara ruang gerak dalam pembelajaran. Tak jarang anak-anak berbakat ini memiliki pemikiran yang berbeda dengan anak-anak seusia pada umumnya.

Perkembangan anak berbakat di Indonesia ini perlu menjadi catatan tersendiri karena memang tidak selalu anak-anak ini mulus dalam berbagai aspek kehidupannya terutama dalam pengelolaan diri mereka secara internal. Anak-anak ini biasanya berpikir secara kritis dan cenderung memiliki ekspektasi yang cukup tinggi terhadap tujuan hidup mereka dan tak jarang juga merasa harus mencapai kesempurnaan dalam berbagai area kehidupan mereka. Tak jarang juga, anak-anak berbakat ini kesulitan untuk mengelola pemikiran mereka dengan ide-ide yang banyak dan juga sangat kreatif namun kesulitan dalam menuangkan ide tersebut menjadi output yang jelas.

Tidak hanya perkembangan secara internal, orang tua dari anak-anak ini juga tak jarang mengalami kebingungan. Dalam satu aspek, mereka menyadari anak memiliki kemampuan yang tidak biasa. Namun, di sisi lain mereka bingung menangani karena terkadang tidak sesuai dengan keinginan anak. Banyak orang tua yang bingung karena anak berbakat terkadang mengalami kesulitan untuk menuangkan keinginan mereka dengan jelas sehingga orang tua sulit memahami harapan anak. Terkadang orang tua juga tidak menyadari bahwa stimulasi perkembangan anak berbakat yang berbeda dan membutuhkan energi yang besar sehingga anak-anak berbakat ini menjadi kurang terstimulasi dan justrul potensi menjadi tidak optimal.

Tidak hanya di lingkungan rumah, dunia pendidikan di Indonesia juga cenderung kurang memiliki kurikulum yang bisa menjadi wadah anak berbakat untuk mengaktualisasikan diri. Pendidikan di Indonesia cenderung menggunakan sistem kurikulum dengan pengelompokan anak dengan potensi kecerdasan di atas rata-rata maupun dengan percepatan namun kurang memikirkan aspek perkembangan sosial dan emosi anak ketika harus berhadapan dengan teman-teman yang memiliki usia jauh di atas mereka. Pembahasan mengenai anak berbakat ini perlu untuk melibatkan orang tua, guru, teman sebaya, maupun lingkungan seperti gereja untuk membantu perkembangan spiritual anak untuk bisa memaksimalkan stimulasi perkembangan anak dalam berbagai aspek.

Author

Bagikan artikel ini

Artikel terkait